Absensi sukur

Sebab terlalu asik mengkaji-kaji apa yang belum dimiliki, rupanya banyak hal yang acap saya lupakan. Saya terus mencatat segala keinginan, namun lalai menulis apa yang sudah saya dapatkan. Saya sering bertanya (baca: mengeluh) pada Allah mengapa terlalu lama cita-cita saya hadir di depan mata, tapi saya abai pada apa-apa yang telah Ia berikan tanpa saya minta. Padahal Allah menganugerahkan banyak kebaikan, masih saja saya merasa serba kekurangan.

Untung saja Allah maha penyayang. Ia memberi ujian agar saya mau sedikit saja meluangkan masa untuk merenung, betapa kayanya menjadi orang sehat.

Jadi, terhitung sejak Jumat, hari ini tepat hari kelima saya demam, sakit kepala dan flu. Seluruh badan terasa sangat lemas dan ngilu. Otomatis tak banyak hal yang bisa saya kerjakan. Hanya sholat, tiduran, kemudian memcoba memaksa diri dengan memasak, menulis, dan membaca agar otak tidak lumpuh sama sekali.

Kalau dilihat sepintas lalu, saya tidak seperti orang sakit. Mungkin orang-orang meragukan kondisi tubuh saya. Tak apa. Saya pun kadang meragukan diri saya sendiri. Terlebih lagi, saya telah meragukan bahwa demam bisa melumpuhkan saya. Saya juga merasa cukup kuat untuk tidak mengkonsumsi obat. Selain itu obat-obatan termasuk dalam golongan musuh besar saya setelah setan. Akhirnya, pada hari ketiga saya terpaksa menelan sebutir ekstasi. Sorry, bercanda. Ba’da isya, saya putuskan (setelah sebelumnya diawali dengan pergulatan yang sangat alot antara makan obat atau tidak) mengkonsumsi mixagrip (mungkin tulisannya salah) dosis 500mg. Seraya berharap esok paginya demam ini sirna.

Apa yang terjadi keesokan harinya?

Badan bertambah panas, kepala semakin berat, suara serak seperti habis menyanyikan lagu cadas. Kenyataannya terserang demam memang melelahkan. Sungguh!

Sukur baru terucap bila Tuhan menjewer telinga kita. Sebelumnya selalu melihat ke atas, membanding-bandingkan dengan diri sendiri. Pingin itu, pingin ini. Kurang itu, kurang ini. Sering kali kita suka gak sabar sama Allah. Selalu ingin dituruti, tapi tak pernah nurut sama Allah. Kita terlalu fokus meraih apa yang kita inginkan sampai lalai menyadari apa yang telah kita dapatkan.

Kalau sudah sakit, daftar permintaan lenyap seketika. Lupa kalau pernah berdoa -pake ngotot- minta mobil, rumah mewah, keliling dunia, karir mentereng, uang trilyunan dan entah apa lagi. Kenyataan di luar sana, banyak orang-orang dengan keadaan yang jauh lebih menderita dari pada kita, jauh lebih sakit dari kita, jauh lebih susah dari kita.

Hingga akhirnya lagi-lagi Allah membuka mata saya pada suatu peristiwa melalui berita koran semalam. Seorang gadis, kira-kira masih kelas dua SMA membutuhkan bantuan dana untuk mengobati penyakit yang telah dideritanya sejak kelas 6 SD. Namanya Sheila Madan, perempuan imut dan manis yang mengidap kanker tulang. Karena kanker tersebut, ia harus merelakan kaki kirinya diamputasi hingga pangkal paha. Namun tak lama setelah amputasi penyakit tersebut kambuh lagi.

Meski masih SMA, ternyata Sheila memiliki kebesaran jiwa. Ia memilih untuk terus bersemangat hingga sampai hari-harinya tamat. Sesekali ia mengeluhkan keadaan pada Allah, kemudian ia barengi dengan sukur atas ujian yang menempanya menjadi kuat. Ia tetap percaya bahwa janji Allah itu pasti. Hanya saja kita tak pernah tahu sampai kapan kita akan terus diuji.

Oleh karena itu, sudahkah kita mengisi absensi sukur hari ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s