Object Of The Affection

Setiap orang, siapapun itu, tentunya memiliki sosok istimewa yang ia tempatkan dalam hatinya. Mencintainya tanpa sarat, tak peduli bagaimanapun keadaannya. Seseorang yang paling ia sayang, bahkan ia rela mati untuknya. Meski demikian, sesekali ia juga menyakiti perasaan orang yang dicintainya, dan pada akhirnya menyesali perbuatannya. Ia merasakan cinta dan sakit pada saat yang bersamaan.

Aku pernah mendengar cerita tentang seorang ayah yang mencuri ayam tetangga hanya untuk memberi makan anaknya yang kelaparan. Entah ini disebut kejahatan atau tidak, tapi aku tak setuju ia dipenjarakan. Bagiku ia tak jahat. Kasusnya pun tak berat. Hanya mencuri seekor ayam yang kelak akan ia tukar dengan sekilo beras.  Tapi di negeri ini hukum dijunjung tinggi, konon. Berbekal pengacara yang baru lulus ujian advokat, ia duduk di kursi terdakwa. Namun pembelaannya tak dihiraukan, lelaki miskin tersebut diganjar 2 tahun kurungan. Sedang di sana, koruptor, pengguna narkoba, penabrak maut, dihadiahi kebebasan. Pengacara-pengacara bertarif dollar pun ramai-ramai memperebutkan mereka. Ada yang tahu berapa harga keadilan dalam rupiah?

Walau aku tak pernah mengalami kasus ‘cinta tanpa sarat’ seperti itu, tapi aku juga memiliki sosok istimewa. Seorang lelaki terhebat di dunia, yang tak pernah melepaskan pegangan tangannya saat aku belajar mengenal dunia. Acap kali menjadikan bahunya sebagai pijakan untuk aku meloncat lebih tinggi. Sukar kujelaskan dengan kata-kata betapa aku menyayanginya. Dia, ayahku.

***

Seperti pertemuan minggu-minggu sebelumnya, minggu ini rumahku mendapat giliran di mana para ledis berkumpul untuk membicarakan pelajaran dan tugas-tugas perkuliahan. Oh guys, c’mon, apa kalian pikir aku serius? Membicarakan pelajaran adalah pencitraan, mengobrol tentang cowok-cowo impian adalah kenyataan. Itulah yang sebenarnya terjadi.

Dihuni oleh tiga orang perempuan, yaitu aku, Amy dan Faradiba, genk ledis ini terbentuk setahun lalu persis saat-saat terakhir orientasi. Meski banyak yang ingin bergabung, tapi kami sepakat untuk tidak akan menambah anggota lagi. “tiga orang perempuan kece sudah cukup untuk mengubah pikiran ngeres seribu pria” ujar Amy berapi-api, -ketua genk ledis yang mengangkat dirinya sendiri-, saat memproklamirkan nama genk ini. Jujur saja, aku agak geli dengan nama ledis. Tapi Diba tak se-ide denganku yang lebih menginginkan Cewek Hero sebagai nama genk. “sorry Nai” ujar Diba sembari menggeleng lemah, “itu memang nama yang unik, tapi aku tidak ingin bermusuhan dengan Loki The Avengers. Sekalipun penjahat, aku merasa dia terlalu tampan untuk kita lawan.” Sekilas, aku yakin telah melihat sesuatu yang aneh di matanya.

Setelah penolakan itu, aku mencoba peruntungan nama unik ‘Cewek Hero’ sebagai nama member radio. Kenyataannya, dari awal bergabung, tak satu member pun berkirim salam padaku. Mereka malah memintaku memadamkan kebakaran di kilang minyak koko Aweng. Ironis!

“hei ledis, hari ini nonton yuks.” Cetus Amy setelah ia puas mengobok-obok lemari buku. Dia ketua genk ledis, tetangga, sekaligus teman sekampus. Ketika kutanyakan mengapa ia suka menambahkan huruf ‘s’ dalam kata tertentu, ia malah mengajariku fungsi huruf ‘s’ dalam bahasa inggris. “artinya jamak atau untuk menunjukkan sesuatu lebih dari satu” ujarnya kala itu. Jujur saja, sampai sekarang aku tak pernah mengerti, namun aku memutuskan tak akan bertanya lagi.

“minggu depan aja ya” pintaku dengan sedikit memelas. “hari ini aku harus ngambil jahitan di pajak Horas.” Selain sebagai mahasiswa jurusan komunikasi di sebuah universitas ber-flat merah, aku juga tukang gambar pakaian, tukang rancang busana. Bahasa kerennya designer.

“senin pagi apa gak bisa Nai? Hari ini ada film keren loh.” timpal Diba yang sedang tiduran di sofa kamarku. “Minggu depan gak bakal tayang lagi, soalnya ini sudah minggu kedua film itu nangkring di XXI.”

“dan filmnya main pukul 3 siang ini, sedang kita masih leyeh-leyeh seperti mendapati kaki waktu terjebak dalam kolam bersalju” sambut Amy. “jahitannya penting Nai? Maksudku, harus sekarang juga?”

“iya. Yang satu untuk dipakai ayah malam ini ke acara sukuran haji temannya, satunya lagi gaun panjang untuk dipakai senin siang sama bu Camat.” Aku mengalihkan fokus dari design ke Amy. “tentu saja aku setia menunggu cerita kalian tentang film itu.”

“tepatnya menunggu sate madura plus sambel cabe rawit.” Diba.

“dan kau selalu lebih dulu menonton filmnya lewat donlot film di situs gratis.” Amy.

“kalian berdua sangat memahami sahabatnya. Benar-benar ledis” Aku.

***

Jalanan sangat becek dan berlumpur akibat hujan turun sepanjang hari. Sepatu baruku basah dan kotor dibuatnya. Apa boleh buat, tak ada tempat untuk menghindari cipratan. Belum lagi kakiku yang sudah terinjak dua kali. Entah sengaja entah tidak tapi tak seorangpun minta maaf setelah melakukannya. Apa mereka pikir aku ini patung lilin yang tak bereaksi jika ditendang, dicubit, disenggol, diinjak, juga ditembak? Lihat saja, untuk ketiga kalinya aku akan teriak!

Beginilah kondisi pekanan di Pajak Horas. Padatnya minta ampun, persis semut karnaval. Kutaksir, tiap pekanan penduduk se-kota Medan ramai-ramai mengunjungi pajak ini. Padahal sudah penguhujung bulan, tanggal tua kata karyawan, tapi orang-orang seperti tak ada habisnya lalu lalang. Mustahil jika isi dompet mereka tak menipis. Mereka beralih dari satu kios ke kios lainnya, berjalan terburu-buru dan berdesakan tanpa menghiraukan genangan air di jalan bolong tak beraspal. Lantas apa peduli mereka pada sepatu baruku? Pada kakiku?

Untung saja langganan jahitanku berada tak jauh di depan jalan masuk. Jadi aku bisa buru-buru membereskan urusan, kemudian berdiri manis menunggu angkot yang akan mengantarku pulang.

“di mana kau tadi?” tiba-tiba seorang Edak muncul dan menumpahkan amarahnya pada seorang lelaki yang baru tiba dengan sepeda motor. Tergurat kekhwatiran di wajah si Edak sebab menunggu terlalu lama. Mamak tengok jugak kau di depan tukang ayam, tapi gak adak”.

Rupanya lelaki ber-helm di atas sepeda motor itu adalah anaknya. Kutaksir umurnya 20 tahun, sebaya denganku. Mereka persis di sampingku, di tepi badan jalan, diapit tukang buah dan tukang gorengan.

Sejak tadi, sekitar 20 menit sebelum anaknya muncul, aku dan si Edak berdiri bersisian. Kepalanya menoleh ke kiri ke kanan, celingak celinguk seperti sedang menonton pertandingan Badminton. Kupikir ia senasib denganku, menunggu angkutan kota.

“tadi aku di sini” ujarnya agak memelas seraya menjelaskan kalau ia sempat menunggu mamaknya di tempat yang telah dijanjikan. “tapi karena diusir tukang parkir, kutunggulah mamak di depan toko kelontong di ujung sana”. Diambilnya bungkusan hitam besar berisi sayur dari tangan mamaknya. Ia letakkan di stang kiri sepeda motor. Si Edak menyodorkan satu bungkusan lagi. Kali ini berisi alat-alat dapur. Padahal stang di kiri kanan sudah dipenuhi bungkusan. Anaknya mencari tempat kalau-kalau masih ada ruang tersisa untuk menggantungkan barang belanjaan. Sesekali ia membetulkan letak helm yang masih menempel di kepalanya seraya curi-curi melirikku. Tampaknya berusaha menyembunyikan malu, namun tak berhasil.

“mamak pikir pulang kau”

“manalah pulak kutinggalkan mamak sendiri di pajak ni”

Aku jadi asik memperhatikan mereka sejak tadi. Senang rasanya ketika melihat seorang anak begitu dekat dan sayang pada ibunya, pada orang tuanya. Memiliki objek kasih sayang yang tulus. Juga tanpa tawar.

Aku jadi teringat ayah. Saat menunaikan ibadah haji dua belas tahun silam di Jabal Rahmah. Orang itu terheran-heran memandangiku. Badannya tinggi besar, mata bulat dengan kelopak tertekuk ke dalam, kulit hitam legam, dan jari jemari raksasa yang telah mendorong ayahku itu, tampak kasar dan kokoh. Ia menaikkan bahu serentak dengan mengangkat kedua tangan ke udara. Kusempatkan melihat identitas yang tergantung di lehernya. Rupanya ia jamaah asal Sudan.

“apa?!! Kenapa rupanya kalau ayahku mau lebih dekat ke tugu jabal rahmah? Apa masalahmu? Jangan kau dorong ayahku. Sekali lagi tanganmu menyentuh ayahku, matilah kau!!” Kuarahkan kepalan tinjuku padanya. Aku tak peduli walau saat itu kami jadi pusat perhatian orang yang sedang beramai-ramai berdoa dan menuliskan nama di tugu. Lebih tidak peduli lagi pada bahasa yang kugunakan untuk memarahi orang besar itu.

“limadza hunaka ya hajj? Limadza?” Penziarah Jabal Rahmah mulai terusik dengan keributan yang kuciptakan. “sobrun ya hajj” Sabar katanya? Meski dalam keadaan beribadah Haji dan sedang menziarahi Jabal Rahmah sekalipun, aku tak kan menyurutkan marah karena ia telah mendorong ayahku yang sedang berdoa di Jabal Rahmah. Memang ayahku tak terjatuh, hanya nyaris. Tapi dalam hal ini, bagiku ‘nyaris’ sama dengan mengusik. Betul ia tak sengaja. Tapi saat itu aku ingin benar-benar meninju batang hidungnya, juga dengan ‘tak sengaja’.

Si Negro itu ditarik teman-temannya menjauh dariku. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak paham. Yang jelas, aku sudah cukup puas karena telah membentaknya. Sekalipun ia tak mengerti bahasaku, tapi aku yakin ia bisa melihat emosiku menggebu-gebu.

***

“lama kau menunggu mamak?” Si Edak memegangi pundak kiri anaknya erat-erat. Sepertinya ia kepayahan menaiki sepeda motor.
“agak lama jugak la” disodorkannya satu bungkusan ke mamaknya. “pegang ini ya mak. Tak muat stang ku”. Di starter-nya motor, dibetulkannya kembali letak helm. “pegang kuat mak?” ujarnya memastikan mamaknya duduk nyaman sebelum motor melaju. Lalu ia akhiri teatrikal 20 menit itu dengan seulas senyum dan anggukan ke arahku.

_________

Jabal Rahmah: sebuah bukit atau gunung yang berada di bagian timur Padang Arafah di kota Mekkah Arab Saudi.

Pajak : pasar (bahasa Medan)

Angkot : angkutan kota

Edak : ibu/kakakMamak : ibu, mama (bahasa batak)

limadza hunaka ya hajj? Limadza? : kenapa engkau ya jama’ah? ada apa? (bahasa arab)

sobrun ya hajj : sabar ya jama’ah (bahasa arab)

Koko : abang (bahasa tionghua)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s