Puisi dan Kontes Miss Universe

Beberapa hari lalu saya diundang bergabung dalam sebuah komunitas (baca: grup) kepenulisan di salah satu jejaring sosial media. Rupanya grup ini ‘milik’ harian Waspada, yang digawangi oleh bos yang juga menangani rubrik Cemerlang di harian yang sudah memiliki e-paper tersebut.

Sejatinya, grup ini tak detil membahas tentang apa dan bagaimana menulis, -agaknya masyarakat Sumatera Utara dianggap sudah mahir- akan tetapi lebih kepada sharing session tentang puisi sekaligus sarana informasi tulisan (puisi, cerpen, artikel) siapa yang telah naik cetak.

Suatu upaya yang perlu diacungi jempol sebab dengan adanya grup ini redaktur dan penulis bisa lebih aktif mendeskripsikan puisi, pun demikian halnya para penulis bisa saling mengenal dan belajar karya-karya dari penulis lain.

Pada satu kesempatan lain, masih di jejaring sosial media dengan grup yang sama, saya menemukan diskusi dengan topik sederhana tapi mampu membuat saya mengerutkan kening. “seperti apa sih puisi yang bagus itu?” tanya pengasuh rubrik cemerlang yang sempat galau akan banyaknya puisi yang membanjiri meja redaksi hingga menyulitkan proses seleksi terbit.

Ada yang menjawab puisi yang bagus itu temanya harus jelas, tegas, asli, dan memiliki tujuan yang hendak disampaikan. Kemudian ada yang menuliskan bahwa puisi harus memiliki diksi yang baik, tidak ambigu, dan memberikan manfaat bagi pembaca.

Sebenarnya perdebatan mengenai puisi tak hanya hadir di kanvas berukuran pas seperti jejaring sosial media, namun juga menjelajah sampai ke tingkat Universitas. Sebut saja Berthold Damshauser, seorang kepala Program Studi Bahasa Indonesia Univeritas Bonn-Jerman, pernah berbantah-bantah dengan mahasiswanya mengenai makna puisi. Menurutnya, puisi memungkinkan banyak tafsiran atau hermeneutika, sedangkan pendapat mahasiswanya puisi haruslah bisa diinterpretasi secara menyeluruh, harus diketahui dengan pasti sintaksis-semantis di antara kata-kata, terutama jika terdapat enjambment atau saat penyair tidak pakai titik dan koma.

Lantas, sebaris tanya menyeruak dibenak awak. Siapakah yang berhak menilai puisi?

Rupa Puisi

Puisi yang sejati dapat berkomunikasi sebelum dimengerti

-T.S. Elliot, penyair, kritikus sastra-

Maka, apakah puisi itu? Puisi adalah kaki, ia mampu melangkah ke segala wilayah, baik itu umum, pribadi, bahkan sangat pribadi. Puisi adalah rasa, dengan ketaksaannya mampu menciptakan ironi, membangkitkan emosi dan gairah imajinasi. Puisi adalah suara, dengan diamnya mampu menyampaikan beribu makna. Namun puisi tak sekedar kumpulan kata-kata berirama, tak sekedar berhiaskan diksi, tak hanya mengandung rengekan, jeritan, teriakan, dan caci-maki kosong.

Banyak orang menganggap menulis puisi itu mudah. Jawabnya ya, jika itu berarti menumpuk berbagai kata/diksi, merajutnya menjadi kalimat, kemudian membingkainya dengan bait. Tak sampai seputaran jam, puisi selesai dalam lima belas menit. Meski kelihatannya sederhana, padahal puisi tak sesederhana realitanya. Sebagai contoh, seorang penyair Indonesia, Joko Pinurbo, memerlukan waktu tak kurang dari lima tahun (2007 – 2012) untuk menyelesaikan buku kumpulan puisi Tahilalat yang ‘hanya’ memuat 55 puisi. Ia mengaku dalam setahun hanya menghasilkan 11 puisi.

Jadi, mencipta puisi ini perkara waktu, cepat atau lama? Bukan, bukan. Di luar sana, banyak juga penyair yang menghasilkan puisi dengan mudah, tak butuh waktu bertahun-tahun. Akan tetapi bukan sekelip mata. Bukan asal jadi. Sebab puisi bukan cerpen maupun novel yang mampu menampung banyak kata sekaligus, demi untuk menggambarkan karakter dan menjelaskan maksud peristiwa.

Berikut ini saya nukil dalil mengenai puisi dari penyair Helvy Tiana Rosa.

  1. diksi menjadi faktor penting dalam puisi, kata-kata harus diseleksi dan padat. Jika kata-kata dalam cerpen lebih padat dari novel maka kata-kata dalam puisi harus lebih padat dari cerpen
  2. kadang-kadang kita tidak mengerti puisi tertentu tapi bisa merasakan puisi itu bagus. Dan itu sah-sah saja
  3. puisi itu bersifat prismatis (memancar berbagai arah) efek memancarnya seperti sinar dari sebuah prisma. Bisa multi intepretasi
  4. puisi boleh dan seringkali melanggar gramatikal atau tata bahasa. Boleh ada huruf besar di tengah kalimat, boleh ada kata yang ditulis huruf besar semua
  5. tidak perlu SPOK dan tidak mesti kata standar. Misalnya: dalam bahasa umum orang menulis angin bertiup, dalam puisi boleh ditulis angin merangkak
  6. puisi adalah akrobat kata-kata tapi bukan berarti kita bisa tidak selektif memilih kata.
  7. puisi itu simbolik, karena sastra itu bermain simbol (itu yang menjadi prismatis, multi intepretasi makna)
  8. puisi adalah kata bernada, ada unsur rima walaupun tidak AI+AI atau AU+AU seperti pantun zaman lama, tapi harus ada lagunya
  9. jika kata terlalu gelap (abtrack) dan orang tidak mengerti, untuk apa sebuah puisi kalau terlalu terang namun tidak menantang.

 

Kontes Miss Universe

Sebelumnya perlu digaris bawahi, bahwa saya bukanlah seorang penyair veteran, yang dengan sayap kata-kata melanglang buana melintasi pikiran para pembaca untuk menelah setiap rima yang saya cipta, bukan seorang penulis ‘puisi’ produktif yang acap muncul di berbagai media, bukan pula seorang  kritikus sastra yang namanya berkilau seterang cahaya.

Akan tetapi saya gemar menikmati puisi. Bahkan seringkali terbuai akan manisnya ia punya metafora, hingga kemudian kegemaran tersebut menenggelamkan saya pada kubangan puisi dari beberapa penyair. Tentu saja secara tak sengaja ikut pula menyeleksi puisi dan mengganjarnya award versi pribadi. Meski jauh berbeda, namun izinkan saya menggunakan kontes Miss Universe sebagai materi acuan untuk menghampirkan paham tentang menilai puisi.

Layaknya sebuah kontes kecantikan, para peserta musti lebih dulu mengikuti proses seleksi yang mengacu pada tiga hal yakni brain, beauty and behavior. Prosedur ini akan menyaring perempuan-perempuan yang yang tak hanya memiliki tubuh dan wajah yang cantik, tapi juga memiliki kecerdasan dan ke-elokan sikap (karakter). Setelah melewati proses seleksi, para peserta berhak mewakili provinsi masing-masing untuk maju di ajang Puteri Indonesia.

Nah, diantara puluhan peserta yang berkompetisi tadi, hanya satu orang yang berhak memperoleh gelar Puteri Indonesia. Maka selanjutnya ia otomatis menjadi perwakilan Indonesia yang akan mengikuti ajang yang lebih bergengsi lagi yakni, Miss Universe.

Begitu juga dengan puisi-puisi yang masuk ke meja redaksi. Sebab puisi laksana jelmaan perempuan-perempuan cantik, di mana mereka akan berkompetisi untuk memenangkan hati pemirsa (pembaca) dan dewan juri (pengasuh rubrik cemerlang) agar bisa mejeng di laman media. Proses ini haruslah menggunakan alat ukur puisi seperti yang telah diterangkan tadi. Untuk apa? Agar rubrik tak menjelma sebagai ruang hampa, selain itu, perlu untuk lebih menjaga nilai puisi agar tak sekedar curhat-curhatan basi.

Tentunya penilaian dilakukan dengan jujur, adil, tidak rekayasa, bukan pesanan, serta tidak terpengaruh akan puisi yang bernaung di balik nama besar.

caw

* terbit di Harian Waspada Medan-Sumatera Utara, edisi 31 Maret 2013*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s