April Wish

Senin pertama pada April 2013. Serasa langkahnya teramat cepat. Sulit saya mengikuti atau sekedar menyamai. Tiba-tiba saja ia berlalu tanpa aba-aba, tanpa permisi. Kadang saya merasa tertinggal jauh di belakang tanpa sempat mengaplikasikan daftar rencana yang telah saya tata rapi. Lagi-lagi saya harus me-reset semua jadwal, menengok list wishes yang masih belum terbit, dan sesekali menyibak tirai masalalu demi melihat macam apa saya di situ. Cukup hebat, cukup tangguh, atau cukup kuatkah saya ketika kesedihan dan kegembiraan datang menantang? Ataukah di masalalu saya hanya seorang perempuan yang rapuh, tak tegar, cengeng, dan gagal mencintai Tuhan? Inilah perlunya catatan. Kalau zaman SD dulu namanya diary, sebuah buku bergaris tempat menyimpan segala gundah, mengendapkan segala pedih perih, juga sebuah laman untuk menebarkan cita dan cinta plus menyelipkan sebuah nama.

Baru tersadar, rupanya ini sudah April edisi 2013. Baru sadar pula, rupanya setelah menamatkan kuliah, saya tak pernah benar-benar serius mengikuti perjalanan hari. Jadi, setiap kali teman saya dengan gencarnya meneriakkan hari libur, saya harus berpikir keras bagaimana caranya agar hari libur tersebut menjadi bermanfaat. Kemudian ketika mereka sibuk merayakan harpitnas (hari kejepit nasional), saya harus memikirkan artikel apalagi yang pantas saya tulis agar ia bisa muncul di media. Lagipula saya tak memahami apa hubungan tanggal merah dengan pekerjaan. Faktanya, hampir setiap hari saya bekerja. Sehingga kalau berpergian, saya masih harus menyelinginya dengan menulis. Tujuannya sih agar otak lebih terasah, agar tulisan lebih manis. Satu hal lagi, senstivisme saya pada lingkungan akan lebih diuji.

Jadi kapankah saya beristirahat dan menenangkan pikiran?  Tiap hari saya bisa menenangkan pikiran meskipun banyak masalah yang membuat saya tertekan. Ketika saya bersujud, ketika melafadzkan pujian, bagi saya hal demikian merupakan meditasi terbaik bagi kedamaian jiwa dan ketenangan pikiran. Memang benar saya suka berpergian. Saya cinta pertualangan. Tentu saja saya tak pernah lupa menuliskan laut pada daftar travel. Tapi saya juga harus bijak menata keuangan agar ritme hidup tak keteteran. Butuh kejelian untuk menyelaraskan nada-nada biola agar melodinya tak sumbang, bukan?

Saat ini, saya masih tetap menyimpan keinginan untuk melihat-lihat keindahan laut biru. Sebab saya masih hafal wajah dan baunya ketika umur 8 tahun ayah mengajak saya menaiki kapal bermuatan 1000 ton kebanggaan beliau. Laut itu keren tau! Dan betapa saya ingin memotret kekuasaan Allah di sebalik jurang yang curam, gunung-gunung yang mengagumkan, tebing yang angkuh, gua yang kokoh, dan jalan-jalan yang membiaskan banyak kisah. Namun, sekarang saya harus meredam-redam keinginan berpetualang, sebab ada hal lain yang harus saya selesaikan. Skala prioritas berlaku di sini.

Sebetulnya kalau sekedar jalan-jalan biasa, saya kira tak perlu persiapan ekstra. Tapi perjalanan yang saya inginkan bukanlah having fun semata seperti yang orang-orang sering lakukan. Bagi saya, pertualangan adalah salah satu proses mengenal Tuhan. Belajar dari apa-apa yang Ia ciptakan agar saya bisa lebih dekat denganNya. Intinya, saya selalu berusaha menggali sukur dari setiap berkah yang terkucur. Biar ngerti, kalau Allah benar-benar sayang sama saya. Biar sadar, kalau Allah tak pernah mengecewakan saya.

Makanya saya tak pernah letih meminta. Karena hanya pada Allah saya bebas mengadu, merengek, curhat, merajuk, dan menceritakan mimpi-mimpi. Allah lah yang paling mengerti saya. Paling tahu apa yang pantas buat saya sehingga tak perlu ada kekhawatiran jika bersamaNya. Semudah itukah saya percaya? Tidak. Rupanya butuh kerendahan hati dalam ber-Tuhan. Untuk episode pencarian Tuhan, di lain session saya kabarkan.

April wish, sudah pasti ia-nya berupa keinginan atau cita-cita. Di laman blog ini, saya tuliskan beberapa. Ya Allah, jika Engkau ridho, perkenankanlah doa saya. Ijabahlah, segerakanlah. Amiinn…

  1. Temani lah saya dalam setiap hela napas ini
  2. Melanjutkan sekolah pasca-sarjana
  3. Mahir berbahasa Inggris, Arab, Mandarin dan Jerman
  4. Jalan-jalan ke bumi-Mu yang lain selain Indonesia
  5. Melahirkan bayi pertama:  ‘Monolog Sunyi’, bayi kedua: ‘I wish I hate You’, setelah itu menyusul bayi ketiga, keempat, dan bayi-bayi berikutnya
  6. Menciptakan own brand in moslem fashion: Norristyle
  7. Menghadirkan majalah muslimah yang memberitakan tentang pendidikan kaum perempuan muslim, hijab fashion, kesehatan, dan tentunya keislaman. (I have a great name for her!)
  8. Mendirikan Yayasan Sosial yang bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan dan sebagai penyokong dana bagi korban bencana
  9. Menjadi pembicara dalam seminar-seminar keperempuanan, pendidikan politik dan kemanusiaan
  10. Menikah (prioritas utama)
  11. Umroh sekeluarga
  12. Beli mobil dan rumah

Boleh jadi ini April terakhir di mana jantung berhenti bersenandung, namun siapa sangka ini adalah april pertama di mana napas mengucap lega menuju sukacita. Tetaplah tempatkan pengharapan hanya pada Dia yang senantiasa memberi teduhan. Inshaallah, kebahagiaan berada dalam genggaman.

‘Life is a journey, from Allah to Allah’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s