‘Rubah’ Di Secarik Tiket Kereta Api

clipboard0

*Terbit di Harian Waspada, 17 Maret 2013, Medan-Smatera Utara*

Ini sudah tahun 2013. Tahun politik sebut para pengamat dan politisi. Akhir tahun cantik kata para pasangan yang ingin segera memproklamirkan kisah cinta. Entah apalagi gelar yang disematkan pada tahun 2013 ini. Yang pasti semakin tua dunia, semakin banyak kemajuan yang ada padanya. Namun apapun sebutannya, toh kenyataannya pertambahan tahun berbanding terbalik dengan pertambahan kemampuan berbahasa rakyat Indonesia.

Berawal dari kebiasaan lama saya yang (masih) gemar memperhatikan segala sesuatu hingga rinci, maka secara tak sengaja pula pupil mata saya tertumbuk pada sebuah kata yang amat sangat janggal bila dibaca. Selain mengganggu penglihatan, tentunya keberadaan makhluk ini menambah deret panjang alasan saya untuk mengkritik induk semangnya.

Apa pasal? Ya, tiket kereta api. Beberapa minggu lalu, sebelum harga tiket kereta api melaju kencang ke level 45.000 rupiah/lembar, saya masih sering menggunakan jasa kereta api yang dibangun sejak tahun 1886 tersebut. Saya menumpang moda transportasi ini dari kota tanjungbalai menuju Medan. Sejak zaman harga tiket 9000 rupiah sampai ke harga 14.000 rupiah, sejak zaman AC (angin cepat) hingga AC (air conditioning) betulan, saya gemar menyandarkan badan di bangku hijaunya yang tak empuk itu.

Dikarenakan perjalanan dari kota Tanjungbalai menuju kota Medan cukup jauh dan memakan waktu, di sinilah kebiasaan lama memainkan perannya. Dengan seksama saya amat-amati tiket tersebut. Tiket baru ini bentuknya lebar dan memanjang, serta didominasi warna putih dan biru. Persis tiket pesawat. Kemudian tiket saya balik. Di sana tertera 13 poin peraturan angkutan penumpang kereta api. Hurufnya kecil-kecil, tapi masih bisa dibaca. Lalu saya sampai pada poin ke 7. Di sana tertulis jelas, ‘Merubah tanggal, jam keberangkatan, berganti KA …, dst.

Saya pikir, rubah hanya bersliweran di berbagai kolom ringan dan tak resmi seperti blog pribadi, situs microblogging, atau buku diary para anak muda. Tapi ternyata saya juga menemukannya di secarik tiket kereta api, yang notabene sebagai sarana transportasi publik.

Sejumlah pertanyaan menggelitik saya. Sejak bila ada ‘rubah’ di secarik tiket kereta api Sumatera Utara? Jenis makhluk apa pula ini? Mengapa perusahaan ber-plat merah sekelas kereta api (PERSERO) masih menggunakan kata ‘rubah’? Belum mahirkah pengetahuan bahasa para pegawai hingga lalai memeriksa ‘rubah’ di balik tiket? Apakah dikarenakan faktor ketidaktahuan atau faktor kebiasaan?

Tentunya sejak sekolah dasar –yang bagi sebagian pelajar, bahasa Indonesia termasuk pelajaran paling membosankan- kita sudah dikenalkan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Disuguhkan bab pelajaran salah satunya mengenai imbuhan atau afiks. Imbuhan adalah bunyi yang ditambahkan pada sebuah kata dasar, entah itu di awal (prefiks), di akhir (sufiks), di tengah (infiks), atau gabungan dari antara tiga itu (konfiks), yang mana bertujuan untuk membentuk kata baru yang artinya berhubungan dengan kata yang pertama.

Merujuk pada buku pelajaran bahasa indonesia di sekolah dasar, awalan me- , jika dipasangkan pada bentuk kata dasar apapun maka ia akan berfungsi untuk membentuk kata kerja. Selain itu, awalan me- juga mempunyai beberapa variasi bentuk, yaitu men-, mem-, meny-, meng-, menge-, dan yang tidak mengalami perubahan (morfofonemis) me-.

Sekali lagi, kata dasar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘rubah’ bukan merupakan kata dasar, akan tetapi ia tergolong sebagai kata benda yang artinya binatang jenis anjing, bermoncong panjang, makanannya daging atau ikan. Jadi, bila kata dasarnya ‘ubah’, maka bentuk awalan yang seharusnya muncul ialah meng-‘, bukan me-‘ atau mer-‘, sehingga perubahan kata yang benar ialah mengubah’ yang mengacu pada bentuk kata kerja yang berarti mengganti, menjadi lain (berbeda) dari semula.

Dengan demikian, dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penulisan kata ‘merubah’ di secarik tiket kereta api adalah seuatu kesalahan berbahasa.

Lantas, apakah kesalahan berbahasa ini disebabkan kemalasan mempelajari bahasa Indonesia yang konon hanya berfungsi sebagai buku pelajaran? Mengapa masih banyak ditemukan kata merubah’ dalam beberapa tulisan? Menurut DR. J.S. Badudu dalam bukunya Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar, kata merubah’ mungkin timbul karena orang mengacaukannya dengan bentuk awalan be-‘, yaitu berubah’. Di sini, bentuk berubah’ dari kata dasar ubah’, memperoleh awalan ber-‘. Jadi, kata dasarnya bukan rubah’ dengan awalan be-,‘ seperti pada kata rupa’ menjadi berupa’, ‘rasa’ menjadi berasa’, ‘roda’ menjadi beroda’ dan sebagainya. Hal, hasil, atau cara berubah’,  melahirkan kata benda abstrak perubahan’. Hasil pekerjaan mengubah’ disebut ‘pengubahan’.

Mari bersama kita benahi kesalahan berbahasa, agar tidak ada lagi ditemukan ‘rubah-rubah’ yang lain baik di tingkat tulisan pribadi terlebih lagi di level institusi/perusahaan besar semacam PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO), juga agar menghindarkan kita terpeleset dari makna sebenarnya.

2 pemikiran pada “‘Rubah’ Di Secarik Tiket Kereta Api

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s