Masih anak perempuannya

Kedatangan saya ke kampung halaman cukup beralasan. Pertama saya hendak mengantar kakak yang tak begitu mengerti jalan pulang, kemudian ingin bertemu dengan adik dan keluarga baru, yang terakhir adalah efek dari kesemuanya, berharap bisa menenangkan pikiran. Sejenak, memberi space untuk mengistirahatkan otak.

Sampai di rumah, sudah tentu saya bertemu ayah. Seperti yang saya duga, ia terlihat sehat. Wajahnya masih seperti dulu, segar, tegar dan bersahaja. Meski garis-garis tua yang menghiasi dahinya tak bisa disamarkan. Kami, -saya dan ayah- kerap bercerita mengenai banyak hal, topik apa saja yang bisa kami hadirkan untuk menambah pemberitaan dunia. Sangat serius. Sebab ayah tak pernah membiarkan canda menetap terlalu lama. Tapi percayalah, beliau seorang lelaki humoris yang pernah saya kenal.

Terkadang kami berbicara tentang politik, ekonomi, masa lalu, dan belakangan ayah begitu asik berkisah tentang ke-Tuhanan, iman, agama, ya, kalau boleh saya katakan, sekarang ayah menjadi Ustadz. Akhirnya menyerempet juga tentang saya, seringkali.

Pada ayah, saya curahkan segala kerisauan. Sebab ia paham siapa saya. Sedang saya tak selalu dapat memahaminya. Ia tahu tentang saya, yang sebenarnya. Tapi saya samar pada pemikirannya. Saya pikir, saat ini cuma ayah yang bisa menyelami pikiran saya. Ia selalu mengerti tentang saya yang apa dan bagaimana. Di sisi lain, telah lama saya hafal resiko apa nantinya saya dapatkan jika buka mulut. Sumpah serapah, caci maki, amarah berapi-api, ejekan, penghinaan, dan menjatuhkan saya ke jurang terdalam. “hubbuddunia, tak berpikir, tak dewasa, melanggar aturan, berbeda, tak beriman, berhati keras, paling kacau, durhaka, nakal, sok tahu, sombong…” dan segala yang tak pantas kau dengar meski telah berada di usia dewasa. Namun saya tak pernah jera. Pada ayah, saya tak betah lama-lama menyimpan cerita.

Kemarahan ayah pada saya sudah menggunung. Tepatnya setelah saya terjun ke politik, untuk kemudian tersingkir darinya dengan cara yang sampai saat ini tak pernah saya mengerti. Kenyataannya, politik praktis memang tak memberi pilihan untuk mengerti dan memahami, tapi hadapi walau apapun yang terjadi.

Dudukkan kami pada satu panggung politik, disitulah kami bisa tertawa bersama, bergandengan tangan. Sisanya, saya dan ayah selalu berseteru, diam-diam. Saya syak, anggota keluarga ini tak ada yang tahu perkara ayah dan saya. Saya yakin, anggota keluarga ini tak benar-benar melihat adanya polemik antara ayah dan saya, sejak lama. Saya maklum. Sebab saya selalu menunjukkan rasa sayang yang teramat besar pada ayah. Kemanapun, nama ayah selalu saya bawa. Berkampanye, bahwa saya adalah anak kesayangan ayah. Di tiap jilid cerita, nama ayah acap saya selipkan. Saya bangga padanya. Saya bangga pada perjuangannya. Itulah yang saya katakan pada tiap orang yang saya temui, siapapun itu. Hingga gelar anak ayah melekat pada saya. Sungguh, saya benar-benar sayang ayah. Sulit bagi saya membiarkannya sendiri, bersedih, dan lelah. Tapi entah kapan saya bisa membahagiakannya. Saya harap Tuhan membantu saya mewujudkannya.

Tak saya pungkiri, perkataan ayah selalu menyakitkan. Ia kerap menyinggung perasaan saya. Kalau berhadapan dengan ayah, seakan-akan beliau menyingkap topeng yang saya kenakan. Ia menguliti saya habis-habisan. Perut saya mencelos. Dada saya sesak. Saat itu saya hanya berharap agar airmata tak tumpah. Kadang ayah membuat saya jengkel. Membuat saya malu. Sering pula membuat saya menangis. Karena ayah tak pernah takut mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, apa yang ia rasakan. Kejujuran seperti itu sudah jarang. Saya yakin, tiap inci amarahnya adalah kebenaran. Saya sadar, sumpah serapahnya adalah kebaikan.

Saya, anak perempuannya yang berpolitik. Saya, anak perempuannya yang ia harap-harapkan dapat membantunya kelak, namun acap kali membuatnya kecewa. Saya, anak perempuan yang pada saya hatinya sangat kesal. Saya, anak perempuan yang kerap membuatnya marah dan lelah. Saya, anak perempuannya yang menyebalkan. Saya, anak perempuannya yang sangat mencintai dunia. Saya, anak perempuannya yang senang melampaui batas. Saya, anak perempuannya yang jauh berbeda dengan anak-anaknya yang lain. Saya, anak perempuannya yang nyaris tak pernah membuatnya tenang. Dan saya, anak perempuannya yang tak lagi pernah ia banggakan.

Tapi saya berharap, masih anak perempuannya…

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s