Ulang tahun (cerita)

Tatkala Adam tergoda memakan buah terlarang (kuldi) yang menyebabkan ia dikeluarkan dari Surga hingga kemudian seluruh keturunannya tak sempat menikmati pesonanya, saya adalah diantara sekian orang yang tak hendak mengutuk ketidaksengajaan moyang saya tersebut. Tak ingin saya meracau tentang ketidakberuntungan menikmati Surga, tak hendak pula menyalahkan Adam jikalau hidup saya pilu bagai sembilu. Saya paham, demikian itu adalah retak tangan alias kehendak Tuhan.

Dan sekarang saya terdampar di sini, hidup dalam dunia yang penuh ketidakpastian. Berjalan di titian nasib yang tak pernah bisa saya ramalkan. Melalui hari demi hari, mengisinya seraya tertatih, kerap terjatuh pula. Rupanya, hidup ini keras sodara-sodara.

Terkadang lelah juga saya menapak. Sebab, telah sudah saya berusaha, keras bekerja, tak lupa berdoa, layaknya Ulama yang tunduk turut pada peraturan, namun hasilnya empty. Sempat terbersit rasa kecewa, tapi karena mengingat bahwa saya masih diberi nafas, segera saya usir agak tak menambah tinggi tumpukan dosa.

Di suatu hari yang lain, kembali saya merenungi garis nasib. Saya pikir-pikir, betapa sulit saya punya keadaan. Betapa keras ujian yang Dia berikan. Sungguh, saya sangat lelah. Amat pegal di sini, di dalam hati. Kelelahan yang saya rasakan memaksa hadir bulir bening di pelupuk mata. Masalahnya, saya ini sok kuat, sok tangguh! Saya malu melihat kelemahan dan kerapuhan saya. Itu sebab saya paksa kaki ini berdiri. Saya ukir senyum dengan kuas yang tak lagi berwarna. Saya keras-keraskan suara supaya tiap orang tak mendengar sisa isak tangis, meski kenyataanya sangat aneh.

Pada laman sebelumnya telah saya singgung perihal kisah di balik ulang tahun. Tadinya saya pikir horor sudah berhenti. Eh, terjadi lagi. Sadar banget, Background hari lahir saya bukan lagu happy birthday to you, bukan pula lagu selamat ulang tahun yang biasa terdengar pada pesta anak-anak sosialita. Its terrible horrible.

Ceritanya, saya terlambat mendaftar kelas diploma bahasa arab. Alias gagal. Via telepon, petugas mengatakan pendaftaran sudah ditutup. Padahal sabtu lalu salah seorang dari mereka menyuruh saya datang kembali hari senin karena saat saya datang, di kantor mati lampu. Artinya, kesalahan bukan pada saya.

Selanjutnya pada hari yang sama, siang yang sangat panas, sewaktu saya dan kakak saya berencana pulang naik kereta api. Saya sudah memesan tiket jauhjauh hari. Tiba tanggal keberangkatan, kami menuju stasiun naik becak motor. Sampai di sana, pada petugas saya sodorkan dua tiket panjang berwarna biru, mirip tiket pesawat. “KTP-nya ada?”  tanya petugas penjaga gerbang masuk. Saya tunjukkan padanya KTP elektronik. Tapi kakak saya tak dibolehkan berangkat karena tak mempunyai tanda pengenal apapun. Baru saya tahu kalau peraturan kereta api mewajibkan tanda pengenal (KTP, SIM, Paspor, dan lain-lain) sebagai pendamping tiket.

Karena penasaran, saya adukan persoalan tanda pengenal ini pada rekan saya yang bertugas di kereta api. Tapi ia dan dua orang pegawai yang ada di sebelahnya tak bisa membantu sama sekali. Saking kesalnya, saya robek tiket dan lempar ke arah mereka. “pukimak anjing kalian semua!!” , maki saya seraya berlalu meninggalkan tempat itu.

Tapi saya harus pulang hari itu juga. Lantas saya putuskan naik KUPJ, semacam bus kecil dan sempit yang sejak dulu tak pernah memberikan rasa nyaman. Sepanjang jalan saya terus mengomel, mengumpat siapapun yang menghalangi langkah saya, sambil sesekali menyeka air mata yang tumpah. Ia menetes perlahan kendati berpayah-payah saya tahan. Menangis hanya akan membuat saya sakit kepala.

Setelah menangis rasanya malu sekali. Sebab saya pernah mengalami keadaan yang lebih pahit dari ini. Sebenarnya saya tak sedih karena peristiwa pahit yang saya alami. Tapi Tuhan, izinkan saya bertanya, mengapa kengerian itu seakan tak berhenti? Kegagalan demi kegagalan terus datang laksana bayang-bayang. Kalau saya pikir-pikir, peralanan saya ini mirip presiden Amerika, Abraham Lincoln. Layaklah diganjar award sebagai ratu gagal.

Tuhan, saya ikhlas menerima kengerian tersebut jika bukan karena kemarahanMu. Saya bersedia menjalaninya jika perkara demikian bukan akibat dari kemurkaanMu. Sungguh, saya patuh. Tapi saya mohon, jangan tinggalkan saya. Jangan benci saya. Gantilah segala kengerian dengan berkah dan anugerah yang berlimpah. Terimakasih.

Hidup acapkali menjatuhkan kita. Tapi kita bisa memilih untuk tetap diam, atau bangkit melanjutkan perjalanan. Mari sejenak jeda, dan kita tertawakan kengerian hidup ini, sodara-sodara!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s