Sebuah resah

Sulit untuk menjabarkan perihal apa yang saya rasakan.  Tapi akhir-akhir ini saya merasa amat sangat sedih. Hati seperti dihujam ribuan belati. Kepala seperti dilempar duri. Luka, tapi tak berdarah. Hingga hendak menangis pun airmata tak berkenan tumpah. Meminjam istilah anak muda zaman sekarang, nyesek. Ya, itulah bahasa sederhananya. Bedanya, kesedihan saya tidak disebabkan oleh perkara percintaan. Meski demikian, saya tak rela jika harus disebut galau.

Ahh, saya tak punya kawan bicara yang seimbang yang mampu berdialog dan berdebat. Saya juga tak punya kawan yang siap menjawab rentetan pertanyaan di dalam kepala saya, dengan lugas dan cerdas. Saya pun tak punya kawan yang ia laksana rival dalam permainan tenis, mahir membalikkan serangan dan lihai menangkis.

(beberapa kali) saya pernah mencoba mencurhatkan keresahan. Saya tuturkan pelan-pelan agar mudah dipahami. Tanpa kalimat bersayap, sebab saya tidak sedang berpuisi. Namun dari sekian jawaban, tak saya temukan pencerahan. Tak saya dapatkan kepuasan. Agaknya saya saja yang sudah gila. Saya pikir, tak seorangpun yang bisa saya ajak bicara.

Sungguh saya tidak menyalahkan mereka. Saya juga tidak ingin menilai dan mendzolimi setiap jawaban. Sepantasnya saya berterimakasih sebab kawan-kawan saya sudah berusaha berkomentar tentunya sesuai pemikiran mereka. Finally, saya tak harus mengikuti apa yang mereka katakan. Sebab tiap orang punya cara terbaik untuk menuntaskan keresahan mereka sendiri.

***

Ketika saya adukan segala permasalahan pada Tuhan, saya malah mendapati diri saya asik bercakap-cakap sendiri, seraya tengadah ke langit-langit kamar. Seringkali, pada beberapa peristiwa, saya menaruh keyakinan di suatu tempat. Itu terjadi kala saya merasa Tuhan tak menjawab doa saya. Tak mengabulkan pinta yang kerap saya ulang-ulang dalam sujud panjang. Tapi saya bukan Nietzsche. Saya tak berani meninggalkan sholat. Saya sangat takut berbuat dosa dan maksiat meski (tak sengaja) saya selalu terjatuh ke lobang yang sama. Saya seratus persen percaya padaNya. Dia yang saya ingat tatkala saya berduka maupun bahagia. Dia pula tempat saya berharap meski banyak ambisi tak berjawab. Tak sepatutnya saya kecewa. Sebab saya hanya seorang hamba yang  bisa dipanggil olehNya, kapan saja dengan tiba-tiba.

***

Kontemplasi, merupakan obat mujarab yang dapat meredakan emosi. Merenung, apa dan siapa saya. Apa tujuan hidup saya. Kemana sebenarnya perjalanan saya bermuara. Mulai saya paham (untuk kesekian kali) bahwa saya terlalu keras pada diri sendiri. Ngotot mewujudkan daftar ambisi. Selalu memaksa jiwa dan pikiran terus melaju padahal saya tak cukup persiapan akan jalan yang saya tuju. Pada akhirnya saya limbung, tak kuat menahan beban pikiran sendirian. Inilah alasan mengapa saya butuh sparing partner yang cukup tangguh untuk mengimbangi gaya permainan saya. Tuhan, hadirkan dia segera.

***

Tiga tahun silam, di beranda rumah mewah bergaya Eropa ber-plat 102.

“nana ini sebenarnya punya sifat sombong. Tapi untungnya, nana cepat sadar dan segera memutar kemudi.”  Ujar Ayah berbarengan dengan suara adzan di surau depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s