Sampai ketemu lain hari

Gambar struk ini, menjadi rekam jejak bahwa saya Dinna F. Norris, telah pernah duduk di sini. Di lajur kanan, persis di depan pintu masuk, pada meja pertama. Di tempat inilah cerita bermula.

130126-205730

***

Sedang asik-asiknya menekuri Tempo, Feby menyapa saya via twitter. Feby ini kawan saya sewaktu belajar di FISIP USU. Sampai sekarang kami masih sering chatting baik dari sms, telpon juga microblogging. Ceritanya, beliau mengajak saya dan beberapa kawan lain ngopi-ngopi. Di antaranya Husnul dan Bernard – saya tahu karena feby bolak-balik me-mention ­nama mereka. Dikarenakan cukup lama saya tak bertemu feby, akhirnya dengan hati riang saya sanggupi. Sedang janji tak tertulis untuk hunting foto bersama adik saya, saya pending (lagi).

Komunikasi tersambung dari tanggal 23 january s/d tanggal 25 january 2013. Perbincangan kami selama tanggal tersebut masih berkutat soal waktu dan tempat. Tidak lama memang. Sebab hanya saya yang aktif menjawab mention feby. Sedang dua kawan tadi tak ada suara. Sibuk mengurusi negeri ini agaknya. Maka kemudian diperolehlah kesepakatan bahwa kami –saya, feby, dan beberapa orang kawan- akan bertemu di Keude Kupie Ulee Kareng & Gayo di jalan Dr. Mansyur. Tepatnya tanggal 26 January 2013, pukul 03.00 sore.

Noted!

***

Jika sebagian, atau bahkan seluruh penduduk bumi mengatakan saya menderita sakit jiwa nomor tiga puluh dua, saya ikhlas tersenyum seraya angguk-angguk kepala pertanda iya. Mungkin memang begitulah saya ini. Apa pasal? Saya, tak suka duduk-duduk kongkow-kongkow nongkrong-nongkrong –atau apalah namanya- jika itu untuk berbincang perihal remeh temeh semacam apa kabar, apa kegiatan, makan apa, minum apa, and then mari kita pulang. Sulit bagi saya menyegerakan diri atau mengangkat pantat terhadap perkara yang masih maya. Kalimat sederhananya, saya ini tipe perempuan yang paling malas berpergian kalau tujuannya hanya bicara basa-basi apalagi berbincang panjang tentang hal-hal kajol alias kagak jolas. Lantas, apa serta bagaimana saya ini?

Ajaklah saya membicarakan seputar dunia kepenulisan. Pastilah sinyal di kepala saya bergerak liar mencari lokasi di mana tempat pertemuan diadakan. Undanglah saya membahas politik dan pemerintahan. Tentu saja jiwa saya terpanggil untuk mencurhatkan segala carut marut politik, juga sharing mengenai lintasannya. Singgunglah saya pada cakap-cakap sosial-humanisme, sontak naluri saya bergetar sambil bertutur tentang anak-anak tak sekolah, korban bencana, kemiskinan, termasuk pahit getir hidup.

Bukan berarti saya sedang berlagak Nabi –meski Nabi melakukan kebaikan semacam itu- ingin menjadi agung dan mulia. Bukan pula ingin kampanye –sementang sekarang Indonesia memasuki musim politik- agar kelak terpilih menjadi anggota legislatif. Tidak. Tapi sejujur-jujurnya, di situlah ruh saya.

Alih cerita, kira-kira empat tahun lalu sewaktu berpolitik praktis di Gerindra, sudah pernah saya coba menjadi politisi yang pada kenyataannya: berdugem-dugem, ber-karaoke, kongkow di hotel,merokok, menyicip alkohol, bergaul tanpa sekat dengan lain jenis. Tapi sepulang dari tugas tersebut, kerap saya dilanda rasa berdosa dan bersalah tiada kira. Selanjutnya memaki diri sendiri bahwa itu bukan saya! Bukan gaya saya! Saya hanya membuang-buang masa. Tak pernah pula ayah saya, sepanjang hayatnya, mengajarkan demikian. Ketika itu, saya merasa kiamat sudah dekat! (sungguh, bukan promosi film).

Jadi, belajar dari masa lalu yang penuh codet itu, saya selalu berusaha tegas pada rambu-rambu yang saya tulis. Belajar patuh pada batas yang saya ciptakan sendiri. Cukuplah tukang goda menggiring saya ke lembah terkelam dalam hidup.

Eh, apa tujuan saya membicarakan empat tahun lalu? Bukankah saya sudah menutup rapat-rapat buku sejarah?

Tak lain hanya untuk menunjukkan bahwa saya juga pernah nongkrong. See, saya pernah jahat kan? Saya pernah buang-buang waktu kan? Karena saya pernah nongkrong-nongkrong lah makanya saya enggan kembali menghadapnya. Sekali lagi saya katakan, buang-buang waktu membincangkan perihal tak bermanfaat itu rasanya seperti kiamat sudah dekat.

Folks, ini sih bagi saya. Tak saya pungkiri jika orang-orang mengatakan kalau saya ini benar-benar aneh dan sulit dimengerti. Saya lumrah akan pernyataan demikian. Usah diingatkan pun, saya siuman akan siapa saya ini. Hanya golongan tertentu yang bisa memahami saya.

Intinya, hanya karena Feby saya mengangguk setuju. Hanya karena Feby saya mengetik ‘oke’ pertanda jadi.

***

26 January 2013

Sejak deal di twitter, saya menempatkan Keude Kupie Ulee Kareng & Gayo dalam schedule. Saya catat bersama tanggal dan jam-nya.

Berangkat dari rumah pukul 2.00 siang, setengah jam kemudian sampailah saya di Keude Kupie Ulee Kareng & Gayo Setia Budi. Saya sms Feby. Ternyata saya salah alamat. Rupanya yang dimaksud semalam adalah Keude Kupie Ulee Kareng & Gayo yang di jalan Dr. Mansyur. Jelas itu tadi kedunguan saya. Lalu saya putar arah menuju Dr. Mansyur. Tiba di sana pukul 3.00 sore, tepat pada waktu yang dijanjikan. Sebelum keluar rumah tadi, saya selipkan Tempo edisi November ke dalam tas. Persiapan mengisi kesendirian kalau-kalau kawan-kawan saya yang super sibuk ini terlambat merapat.

Saya sms Feby lagi, mengabarkan bahwa saya sudah sampai dan kali ini tak salah alamat. Kata Feby, ia menuju ke tempat yang dijanjikan, tapi sedang menunggu temannya sholat. Setengah jam saya duduk sendiri di Keude Kupie Ulee Kareng & Gayo, minum kopi sanger panas sambil baca Tempo. Tak berapa lama Feby sms lagi, katanya Husnul sudah masuk ke Keude Kupie Ulee Kareng & Gayo. Entah saya yang rabun senja atau Husnul berubah jadi setampan Tom Cruise, namun tak satupun wajah-wajah yang saya kenal ada di sana.

Benar saja seperti yang telah saya perkirakan, rencana hari ini akan berhujung pada kegagalan. Saya tak bertemu orang-orang yang terdaftar dalam twitter. Dari telepon masuk yang terdaftar dengan nomor Feby, di seberang sana saya mendengar suara Putri. “Din, kita pindah ke Killiney Tasbi aja ya. Tadi Husnul sudah ke Keude Kupie Ulee Kareng & Gayo Dr. Mansyur, katanya parkiran penuh. Gak ada tempat lagi. Sorry ya Din. Langsung ke Killiney ya…”

“oke, Inshaallah Dinna ke sana” saya tergesa-gesa mengakhiri percakapan. Dan ‘klik’ bunyi telpon ditutup. Sejujurnya bukan kalimat tadi yang hendak saya katakan. Tapi saya hanya ingin jeda, demi meredakan kemarahan pada janji yang tak terpenuhi. Ahh, saya sedikit kecewa. Tapi tak apa. Sebab jodoh, maut, rezeki, langkah, pertemuan di tangan Tuhan. Mungkin kalimat klise barusan dapat mengobati perasaan saya hari ini. Jika umur panjang, kapan-kapan bisa bertemu lagi.

Jarum pendek Guess saya menunjukkan pukul 4.00 sore . Saya putuskan tak datang. Sebab bagi saya, kesepakatan bukan untuk dinegosiasikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s