Dulu perjuangan, sekarang hiburan

“politik bagiku hanya sebuah hiburan” ujar seseorang pada saya. Tapi sorry, saya tak bisa memberitahukan siapa orang ini. Ia, semacam rahasia yang memiliki rahasia.

“Hmm…? Kenapa begitu?” tanya saya penasaran. Padahal saya ingat betul kalau-kalau kawan saya ini pernah berucap bahwa politik adalah perjuangan. Sebab dulunya ia adalah pegiat politik yang sangat fanatik. Dengan kata lain, sudah sejak kuliah ia menyerempet di ranah politik untuk kemudian setelah lulus-lulusan akhirnya ia bergabung dalam partai politik berlambang ka’bah. Sempat pula namanya muncul menjadi calon legislatif. Bak kata pepatah ‘bagai buah masak di tangkainya’ , memang belum lah bisa ia dikatakan demikian meski sekarang ia telah landing dengan mulus di parpol berlambang kepala garuda.

“ya, sekarang ini aku malas berpolitik. Sebenarnya pimpinan mendaulatku dalam bursa caleg 2014. Bahkan mereka memasukkan namaku dalam daftar.” Ujarnya menerawang. Saya tak paham apa yang sedang ia terawang kala itu. Pun, enggan pula saya bertanya caleg nomor urut berapa kawan saya ini diletakkan.  “tapi aku capek. Lagipula, aku sudah berpraktek sebagai advokat. Klienku juga sudah mulai banyak” terangnya. Kemudian tanpa saya tanya, dengan lancar ia menyebutkan nama-nama kliennya mulai dari politisi, pebisnis, sampai selebritis lengkap dengan berbagai kasus yang mereka hadapi. Namun saya tak mendengar ia menyebutkan kasus rakyat jelata dan rakyat biasa-biasa saja.

Sambil menyeruput jus strawberry tanpa gula serta memamah buah-buahan potong yang terhidang di meja, pikiran saya masih terpaku pada kalimat yang  ia bilang barusan. Politik adalah sebagai hiburan. Ajaib, baru kali ini saya mendengar kalimat itu dari seorang yang mana kedua belah kakinya telah nyemplung di empang politik. Laksana mantra, saya ulang-ulang kalimat tersebut dalam kepala. Tapi semakin saya ulang, semakin saya bingung dibuatnya. Sungguh, saya benar-benar tak mengerti apa makna dari pernyataan kawan saya ini. Setahu saya, politik adalah kekuasaan yang tujuannya ialah untuk memperoleh dan memperbesar kekuasaan tersebut. Begitulah penjelasan Machiavelli dalam karya politiknya ‘Prince’, yang saya baca sewaktu duduk di bangku kuliah.

Apakah dia punya pernyataan itu dikarenakan buah dari kekalahannya dalam kontes calon legislatif empat tahun lalu? Apakah juga dikarenakan kekecewaan mendalam akibat dari sistem partainya sendiri? Apakah partai politik telah mengubahnya? Ahh, saya tak ingin berasumsi yang bukan-bukan mengenai pernyataan kawan saya ini. Tak baik pula berhipotesa pada apa sebenarnya yang telah terjadi padanya. Lagipula semua masalah selera. Orang dewasa berhak menentukan pilihan dan tujuannya, mau bagaimana dan mau kemana. Tapi bagi orang yang memiliki penyakit usil seperti saya, tak tahan melihat lagak demikian.

Tadinya saya ingin menanyakan langsung mengapa politik baginya sebagai hiburan. Sayangnya saya telah keduluan sebab ia telah bercakap-cakap serius di telepon. Saya tak tahu siapa di seberang sana. Tapi melihat gaya bicara dan tuturnya memanggil ‘abang’, saya syak orang itu adalah pimpinannya.

“dia mau jadi ketua, seharusnya dia tau kalau tak ada yang gratis dalam politik” … “ iya bang“ … ”oya bang, jangan lupa mintakan ongkos jalanku. Aku yang bawa dia, kasi la aku uang prangkonya” … “oke bang, dan jangan lupa bagianku ya…” Klik! Telpon ditutup berbarengan dengan seulas senyum panjang menghiasi wajahnya.

Entah apa yang mereka –dia dan orang yang dipanggilnya abang- bicarakan, saya tak hendak menafsirkan. Agar tak kelihatan menyelidik, pura-pura saya menyeruput jus strawberry sampai terdengar bunyi ‘sreeeppp…’ panjang. Rupanya jus saya tadi sudah tinggal ampasnya.

Sebenarnya ia meminta saya untuk tinggal. Tapi saya lebih memilih pulang sebab tak ingin nantinya jika pada rentang waktu malam hingga subuh itu, ia jadikan pula saya seperti politik, yaitu sebagai hiburan. Dengan kata lain, saya mewanti-wanti diri sebab di zaman ini setan tak lagi pilih-pilih siapa yang akan digoda meski perempuan berjilbab sekalipun.

Di dalam  Avanza VVTI berwarna hitam metalik, sepanjang perjalanan pulang, saya kembali teringat pada pernyataan Syeikh Fudhail bin Iyadh “tidak satupun dari pencinta kekuasaan, kecuali dia akan menyukai pula menyebut kekurangan dan keburukan orang lain, agar hanya karena ia yang terlihat sempurna. Ia juga akan merasa benci apabila kebaikan orang lain disebut dihadapannya. Sedangkan siapa yang mencintai kekuasaan, maka ia akan meninggalkan hal-hal yang baik dari dirinya.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s