Tentang Partai Politik di Suatu Masa

Betapapun pelik dan kisruhnya kenyataan politik (terutama korupsi), namun makhluk satu ini kerap asik dan menarik untuk dibicarakan. Perbincangan bapak-bapak di warung kopi, sentilan ibu-ibu rumah tangga, apalagi pelajar atau mahasiswa. Semua orang ingin tahu tentang politik, semua orang bergairah kala membicarakan politik, siapapun orangnya, sesuai dengan pengetahuan dan porsinya masing-masing. Tentu saja (masih) rival terberatnya adalah bola.

Di setiap sudut negeri ini, politik menjadi topik hangat yang tiada henti. Bahkan selebritis yang tadinya naik daun dan digemari, mendadak menukik di peringkat ke sekian setelah ‘bau’ politik muncul di permukaan. Pesonanya meredup tatkala angin politik berhembus kencang. Sebut saja dalam kasus Anas Urbaningrum yang bersedia digantung di Monas jika terbukti korupsi, (tulisnya kala itu dalam situs microblogging miliknya), menjadi pembicaraan hangat di setiap lini negeri ini. Mengutip bahasa F. Clifton White (mantan ketua American Association of Political Consultants), seni dan praktek politik itu sama tuanya dengan umur waktu itu sendiri. Jadi, tak heran jika ranah politik menyentuh hampir di setiap sendi kolektif dan individual dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebaikmana telah umum diketahui bahwa politik adalah praktek atau pekerjaan menjalankan urusan politik, yaitu melaksanakan atau mencari kekuasaan dalam urusan negara dan pemerintahan. Ia memiliki kendaraan yang menjalankan intrik atau siasat untuk mencapai posisi dan jabatan. Kendaraan tersebut bernama Partai Politik (parpol), suatu organisasi yang menjalankan ideologi tertentu dan dibentuk dengan tujuan-tujuan tertentu pula. Bagaimanapun rendahnya popularitas sebuah parpol, namun ia tidak bersifat Sacerdetium, yaitu berhenti sebagai kekuasaan. Lain perkara jika ia telah mati, dibubarkan, atau hanyut dengan sendirinya. Pada akhirnya, partai politik pastinya akan berusaha memenangkan pergulatan politik dengan berjibaku dalam laboratorium politik yang sebenarnya, yaitu Pemilihan Umum.

Tidak terasa, pesta demokrasi (baca: pemilihan presiden) sudah ada di depan mata. Hanya menanti setahun lagi, pada pertengahan tahun 2014, kalau tak ada halangan hajatan besar tersebut akan digelar. Itu sebabnya jauh-jauh hari Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan sepuluh parpol yang lolos sebagai peserta pemilu 2014, ditambah tiga partai lokal di Aceh. Dengan tegas KPU juga mengumumkan bahwa 24 parpol yang sebelumnya mengikuti verifikasi faktual, dinyatakan tidak memenuhi sarat. Perkara akan banding, itu soal lain. “kalau mereka memenuhi kriteria dan dianggap layak, bisa jadi bergabung dalam urutan gerbong selanjutnya” ujar Hadar Nafis Gumay, komisioner KPU Pusat. Dalam hal ini, KPU pantas diacungi jempol karena telah bekerja cepat dan berani.

Selanjutnya, Senin tanggal 14 januari 2013, masing-masing dari parpol terpilih mengambil nomor urut berdasarkan ketetapan KPU, yaitu melalui sistim undi. Adapun kesepuluh parpol peserta pemilu diantaranya, Partai Nasional Demokrat (NASDEM) dengan nomor urut 1, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bernomor urut 2, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bernomor urut 3, Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP) bernomor urut 4, Partai Golongan Karya (GOLKAR) bernomor urut 5, Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA) bernomor urut 6, Partai Demokrat (PD) bernomor urut 7, Partai Amanat Nasional (PAN) bernomor urut 8, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bernomor urut 9, dan terakhir Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) dengan nomor urut 10. Berikutnya tiga partai lokal di Aceh adalah Partai Aceh, Partai Nasional Aceh, dan Partai Damai Aceh. Tentunya, kehadiran sepuluh parpol yang dianggap layak menjadi peserta pemilu tersebut telah menandai era perpolitikan di Indonesia yang semakin dinamis.

 ***

Semestinya partai politik itu adalah kerja keras, memberi dan melayani. Bekerja keras untuk kepentingan rakyat, memberi apa yang dibutuhkan dan melayani keluhan serta teriakan. Semestinya segala tujuan, visi dan misi partai politik bermuara demi kemakmuran rakyat. Semestinya partai politik itu semacam perancang masa depan dengan berpegang pada undang-undang dan kondisi masyarakat yang ada sekarang, kemudian bekerja sama dengan pemerintah menghasilkan suatu tujuan bersama, yaitu kesejahteraan bangsa dan negara, bukannya saling serang di media. Semestinya partai politik pandai dan bijak mengelola organisasi, bukannya memanipulasi orientasi seperti halnya mengelola perusahaan. Semestinya, dan semestinya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemenangan adalah sasaran dan tujuan perjuangan. Lazimnya setiap kompetisi, para peserta pastilah berlomba-lomba mengatur taktik dan strategi untuk bisa unggul. Seperti misalnya memancangkan bendera-bendera kecil di jalan, membuat slogan-slogan bernada bujukan dan rayuan, memasang besar-besar gambar parpol atau kandidat, sosialisasi visi misi, sampai menghadiahi asuransi jika sasaran sudi bergabung sebagai kader. Setidaknya sebagai simpatisan pada permulaan. Akan tetapi, bukan berarti komitmen memberi dan melayani (rakyat) tadi berakhir setelah kemenangan diperoleh. Semacam kata orang bijak, janji tinggal janji, kampanye berapi-api rupanya sebuah ilusi.

Jika para stake holder kekuasaan itu mulai berubah arah dan tak lagi mengemban amanah, maka bisa dikatakan mulai saat itu telah terjadi fitnah pada kekuasaan. Di mana sebelumnya berkoar-koar tentang kesejahteraan dan kemakmuran, tau-tau hanya pemanis sahaja agar kelak bisa terpilih. Selebihnya tak ada sesuatu yang berubah. Dengan kata lain, ketika komitmen terhadap rakyat tak dipenuhi, maka parpol telah menciptakan kejahatan yang mana setiap kejahatan hanya akan menggali lobang kuburnya sendiri. Hal ini tentu akan berefek buruk pada partai politik, juga pada para fungsionarisnya. Ketertarikan dan simpati rakyat memudar, akibatnya parpol hanya sebagai lembaga ompong yang tinggal menunggu detik-detik tamat.

Kendati demikian, apapun partai dan siapapun kandidat yang terpilih nantinya, haruslah istiqomah menjalankan visi misi yang sejalan dengan nilai-nilai luhur pancasila, tak khianat terhadap rakyat, serta siap mengemban amanah. Hingga kelak partai politik di suatu masa, tak lagi sebuah organisasi yang mencerminkan tindak kejahatan korupsi, kolusi dan nepotisme, tapi sebuah partai politik yang elegan, mencerdaskan, serta menerangi dengan sinar harapan.

Penulis   : Dinna F Norris

2012 –                           Wasekjen bidang politik DPC Partai Hanura Medan

2008 – 2010             Ketua Bidang Politik DPD GERINDRA Sumatera Utara

2009                             Calon Legislatif SUMUT 4 (Tanjungbalai, Asahan, Batubara)

2011 – 2011                Kontributor (desk pendidikan) di Tabloid Youngs Medan

2007                Kontributor (desk pelaku ekonomi UKM) Tabloid PINBIS (Pusat Informasi Bisnis) Aceh dan Sumatera Utara

2002 – 2007                Universitas Sumatera Utara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Departemen Ilmu Politik

2004                Enumorator Pemilihan Kepala Daerah Langsung (PILKADASUNG) SUMUT di bawah naungan USU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s