Buntut penolakan

Ada beberapa hal yang sampai kini saya tak pernah mengerti meski telah saya pikir berulang kali. Maksudnya, sulit diterima akal. Salah satu dari banyak hal tersebut seperti, teman saya (lelaki) rupanya sudah berubah. Sewaktu beliau (masih) menulis nama saya ke dalam lady’s list yang akan ia jadikan pacar, betapa sikapnya manis bukan main. Mula-mula, ia memanggil nama depan saya. Kerap mengirim sms mulai dari basa-basi sampai privasi, ber-bbm, juga  menelpon. Ber-saya-kamu jika berbicara pada saya, sedangkan saat ngobrol bersama rekan-rekannya, ia ber-aku-kau dengan lancarnya seperti sudah terbiasa. Menyapa tiap pagi dan menutup malam dengan icon senyuman. Ia juga senang menawarkan diri menjeput serta mengantar saya.

Saya memang tak pernah menganggapnya istimewa walaupun kerap ia memperlakukannya saya dengan manis. Sedikitpun tak pernah terbersit rasa ingin memiliki meski saat itu dan saat ini saya sendiri. Bagi saya, ia hanya teman biasa. Kendati demikian, saya menikmati sikap baik yang ia suguhkan. Saya sih punya motto: selalu wapada terhadap orang-orang yang sok akrab. Dan saya patuh untuk itu. Tapi coba deh saya tanya, siapa yang tak suka diperlakukan begitu istimewa?

Namun seiring berjalannya waktu, saya merasakan perubahan yang kentara. Meski tak berdampak sistemik dalam ritme hidup, tapi saya merasa ada yang berbeda. Setelah saya pikir-pikir, hal tersebut terjadi ketika saya tak lagi hirau pada setiap komunikasi yang ia ciptakan, ketika saya tak acuh pada sinyal-sinyal cinta yang ia kirimkan, ketika saya mengalihkan setiap pembicaran mengenai perasaan. Lambat laun ia tak lagi ramah, lama sekali membalas sms, mulai fasih mengucap aku-kau, dan tak pernah lagi menawarkan diri menjeput dan mengantar saya. “biasa aja kenapa?” Ini gaya nyablak salah seorang teman saya. Hehee…

Dosa kalau seorang jomblo menolak cinta dari lelaki yang tidak dicintainya? Pantang kalau saya hanya ingin berkawan? Salah jika saya senang diperlakukan istimewa tanpa memberinya posisi di ruang hati? Tidak bukan. Sayangnya, episode seperti ini terjadi berkali-kali dengan aktor pendatang baru tentu saja.

Mungkin ia telah mendepak saya dari lady’s list itu sebab ia berubah sekian derajat dalam sekejap. Atau ia sudah tak sendiri barangkali. Tak apa. Lagi-lagi saya ingin mengatakan itu adalah pilihan. Tapi sungguh, jauh dari lubuk hati paling dalam, saya tak pernah bermaksud mengecewakan. Saya hanya berusaha jujur pada diri sendiri dan orang lain, sekalipun untuk hal sepele. Apatah lagi soal rasa. Oya, saya pun jujur menyampaikan penolakan. Saya rangkai bahasa diplomasi agar kelak tak timbul sakit hati. Supaya ia punya (banyak) kesempatan mencintai orang lain dan tak membuang-buang waktu menunggu yang tak pasti.

Kadang-kadang sulit mempercayai kenyataan. Sebab saya tak menemukan alasan untuk percaya kali ya. Its okey. Palu telah diketok tigak kali. Jikapun harus berubah, saya dengan legowo menghargai apapun keputusannya.

Finally, pada kalian, saya ucapkan terimakasih karena telah sudah memperlakukan saya istimewa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s