Cukup sekian dan terimakasih

Seharian ‘travelling’ naik Honda Beat menyusuri kota Medan (dan sekitarnya) bersama adik saya, Farida Norris. Benar-benar sabtu yang melelahkan. Mulai dari attended a wedding party temannya, sampai hunting Canon (terbaik) yang sudah lama ia idam-idamkan.

15.00 wib

Sebelumnya sudah saya tanyakan ia mau ke tempat yang mana. Sebab ada dua pesta yang hendak dihadiri. Ke rumah si A atau si B. Ia memilih B. Saya setuju tanpa interupsi. Sebab kedua pesta tersebut adalah hajatan temannya. Jadilah kami (saya dan Farida) ke pesta si B dengan alasan si B adalah teman dekatnya.

Betapa nyeseknya, ternyata rumah si B jauh tak terkira. Yang bikin sakit kepala, jalan menuju lokasi pesta bak model rambut keriting, ribet dan berputar-putar. Ditambah nyasar dan lapar. Ironisnya, dari enam orang yang kami temui di jalan, tak ada yang tahu bahkan tak pernah mendengar nama alamat yang dimaksud.

“wak, tau jalan anu? Dekat komplek perumahan anu.” Tanya Farida pada ibu-ibu paruh baya, yang menjadi orang ke lima yang kami tanyai.

“di mana alamatnya?” tanyanya pula. Ternganga saya dibuatnya. Saya merasa adik saya baru saja menemukan sosok tak beres. Kami menanya alamat, ia balas menanya alamat pula. Inilah kejadian unik yang baru pernah ada dalam hidup saya.

“makasih buk” ujar saya seraya melaju kencang meninggalkan ibu paruh baya tersebut di belakang. Saya tak peduli apa yang terjadi padanya setelah itu. Yang jelas kami harus segera tiba di lokasi pesta karena wajah awan telah menghitam, sebab mendung hadir di depan mata.

Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, akhirnya saya hanya mendumel sepanjang jalan. Sesekali membentak para pengguna kenderaan yang ugal-ugalan dan tak disiplin berlalu lintas. Perlu dicatat sebagai masukan, berkendara di Medan butuh banyak stok sabar plus ekstra hati-hati. Karena sebagian (besar) pengguna sepeda motor atau betor, hobi menyalip kenderaan di depannya, menerobos lampu merah, ber-­handphone ria saat sedang berkendara, berhenti setelah (melewati) garis marka. Lain pula dengan pengguna mobil. Mereka-mereka ini tak bahagia jika tak meng-klakson panjang dan berkali-kali. Sedangkan angkot, masih tetap pada kebiasaan lama. Menaik-turunkan penumpang sesuka hatinya.

Kemudian saya memutuskan menanyakan (terakhir kalinya) pada tukang becak (dayung). Alhamdulillah, selesai masalah. Dari sini saya mendapatkan pelajaran bahwa solusi mencari jalan agar tak nyasar adalah tukang becak. Bapak tua itu menerangkan mapping jalan dengan gamblang tanpa ada sedikitpun keragu-raguan.

“tak jauh dari sini. Tapi pelan-pelan saja naik motornya, biar ketemu,” pesannya.

Eureka! Kami sampai di lokasi pesta pada pukul 16.00 (wib), masih dengan sakit kepala. Saya kira perjalanan semacam ini, cukup sekian dan terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s