Doi bernama Qeis

Setelah melewati perdebatan cukup alot antara emak dan ayahnya mengenai sebuah nama yang pantas untuk seorang bayi lelaki, ditambah melibatkan ide ‘freak’ saya (walau tak lulus seleksi), maka, jadilah bocah kecil itu bernama Nawaqeis Ateryu Sagara (semoga ejaannya benar).

Qeis –nama panggilan si kecil- adalah anak pertama dari buah cinta (alahmak… sebenarnya risau saya menggunakan bahasa ini) adik keempat saya, Iin Norris dan suaminya. Sudah tentu, anak ini menjadi keponakan pertama kami –saya dan saudara-saudara saya-. Sebab baru Iin anggota keluarga yang sudah menikah. Sisanya, ada yang belum cukup umur dan juga ada yang masih berjuang dengan mimpi dan cita-cita (halaahhh… percayalah, ini apoloji).

Sama halnya seperti perasaan orangtuanya, saya pun sangat bahagia memiliki keponakan meski belum pernah sekalipun saya melihat wajah aslinya. Maklumlah, doi menetap di pedalaman Banjarmasin-Kalimantan Selatan, ikut ortu. Meski tinggal di Negara yang sama, namun jarak yang memisahkan kami cukup jauh.  Betul, itu hanya sebuah alasan klise. Sebenarnya, berat di ongkos sodara-sodara. Saya sudah tanyakan di setiap travel agent dan kantor resmi penjualan tiket maskapai, ongkos (hanya biaya terbang) menuju Banjarmasin rupanya 1,3 juta rupiah di level harga normal. Lain lagi kalau jelang liburan. Bisa mencapai 1,8 juta rupiah per orang. Sampai bergidik bulu tengkuk saya ketika mendengar pihak marketing di seberang telepon menyebut angka demikian. Selanjutnya, saya pun rajin men-searching­ ­info-info mengenai tiket promo. Namun tak sekalipun saya temukan tiket promo tujuan kota Banjarmasin yang masih difungsikan sebagai kota niaga dan bandar pelabuhan terpenting di pulau Kalimantan  ini. Agaknya pihak ticketing tak hendak mengambil resiko kerugian dikarenakan langkanya penumpang berpergian dari Medan ke kota Banjarmasin-Kalsel.

Belum lagi biaya perjalanan menuju rumah di mana adik saya dan suaminya tinggal. Berats (saya seipkan huruf ‘s’, yang artinya jamak) nian jika dibayang-bayangkan.

Ada cara lain yang lebih murah meski kedengarannya ekstrim. Yaitu, bungkus diri ke dalam sebuah box yang dilakban rapat dan erat dengan menyisakan sedikit lubang udara. Kemudian titipkan ke bagasi/kargo pesawat. Atau bisa pula dengan bergantung di bagian roda seperti yang pernah dilakukan oleh anak muda yang ngebet banget pengen ke Ibukota.

Saat ini kami mempercayakan jaringan Telkomsel sebagai sarana komunikasi. Sebab menurut si gendut (panggilan sayang Iin), provider lain tak bertenaga di sana. Saya bilang lemah syahwat, tapi Iin bersikukuh mengatakan tak ada signal. Padahal tower provider selain Telkomsel sudah berdiri utuh. Untuk masalah ini, saya akan mencari dewan juri agar bisa menentukan pernyataan siapa yang paling benar. Ini perkara serius. Sebab saya tak terima jika kebenaran dikebiri bagai kasus korupsi di Century sekalipun itu oleh Iin, adik saya sendiri.

Karena kegagahan Telkomsel, saya pun kerap bertukar kabar dengan Iin (lebih utama menggosip) dan Qeis (walaupun doi selalu memperdengarkan tangisan keras dan ocehannya yang belum sempurna) di handphone. Anyway, terimakasih Telkomsel, untuk ini kami berada di pihakmu, karena cukup memuaskan.  Selain itu, kami juga saling berkirim poto seraya bercerita tentang kecantikan (kami) yang tak memudar. –Ahh, sedap sekali mendengar kalimat tak pernah tua seiring pertambahan usia-.

Sesekali Iin menyelipkan gambar-gambar perkembangan Qeis sejak dari bayi hingga doi bisa meleletkan lidah saat mandi. Ini berkat jasa-jasa Mark Elliot Zuckerberg. Seperti kata tulisan besar di sampul depan ‘makhluk’ temuannya, “Facebook helps you connect and share with the people in your life,” hingga kami tetap terhubung. Well, terimakasih anak muda, anda luar biasa.

Lambat laun, rasa kangen saya pada Qeis bertambah-tambah ketika Iin meng-upload wajah doi sedang tertawa dengan lesung pipi yang sangat jelas. Saya jadi teringat ayah, lelaki tercerdas bin terkeren yang sangat saya sayangi. Jelas sudah, dari ayahlah Qeis mendapatkan lesung pipi tersebut. Ayahlah mewariskannya, dan Allah meridhoinya. Seperti desas desus yang lancar beredar, generasi Norris adalah salah satu pembawa gen terbaik. Lantas, adik ipar saya semestinya sujud sukur karena telah berhasil mendapatkan Iin, si jenius yang rendah hati. Saya syak dia telah melakukannya (diam-diam) jauh sebelum kisah ini saya tuliskan.

Menurut pengamatan saya, tentulah Qeis ini akan tumbuh menjadi anak yang soleh dan cerdas (InshaAllah). Pertama, doi adalah keturunan gen Norris. Selanjutnya, adik ipar saya yang bersuku dayak itu lulusan pasca sarjana ITB. Saya kurang jelas program apa yang dia ambil, tapi sekarang ia dosen di salah satu Universitas di Banjarmasin, bagian hitung-hitungan pula. Suatu disiplin ilmu yang mana saya selalu gagal menyukainya. So, perpaduan antara gen Norris dan gen keluarga dayak, sekali lagi menurut analisa saya, akan menghasilkan bibit unggul dalam kepribadian, karakter, dan kecerdasan. Apalagi kata emaknya, ketika kali pertama Qeis menatap dunia, doi menangis lantang sekali saja. Sesaat kemudian mengamat-amati makhluk-makhluk di sekeliling penuh heran. Hanya seminggu setelah kelahirannya, Qeis sudah bisa respon terhadap pelukan orangtuanya, juga tersenyum menanggapi senda gurau orang-orang di sekitarnya. Sejauh ini, saya bangga pada keponakan kecil saya.

Oya, bila nantinya Qeis sudah lancar bicara, maka doi akan memanggil saya ‘Zia’. Panggilan kesayangan itu saya contek dari bahasa Itali yang artinya tante. Lebih manis kedengarannya ketimbang tante, aunty, ibuk, atau bibi. Yaakkss…

Rasa-rasanya, ingin segera saya menjejakkan kaki ke kota yang juga dijuluki kota seribu sungai ini meski sungai di sana tak sampai seribu. Selain karena ingin bertemu Qeis dan emaknya, saya termotivasi akan sungai dan pemandangan daerahnya. Kebetulan saya ini petualang sejati. Suka bepergian ke daerah-daerah hijau, alam terbuka dengan landscape yang melenakan mata. Terkenang kata detektif Google, Banjarmasin berdekatan dengan sungai Barito, Martapura, dan sungai-sungai indah lainnya yang pas dijadikan sebagai wadah uji kelayakan renang saya.

Tapi, bolehlah Banjarmasin saya bubuhkan ke dalam travel list setelah lokasi-lokasi lainnya di berbagai belahan dunia. Well, kita lihat akan ke mana lagi kaki ini berpindah? Saya siap sedia!

Ini saya aplod beberapa tingkah ngegemesin Qeis.

Nawaqeis, the cutest baby boy

When the boss had showed his anger. i think he bored at his bed

When the Boss was taking a bath

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s