Memilih kalah

Tak ada alasan untuk pergi ‘ke sana’. Kalau boleh (jika kelak memang menang), saya ingin hadiahnya diuangkan saja. Berapapun itu. Sebab yang sangat saya butuhkan adalah uang. Bukan berarti sekarang ini saya dalam keadaan sekarat atau miskin sekali. Tidak.

Untuk makan, saya masih mampu beli sekilo udang tambak untuk kemudian menggorengnya dengan sambal lado. Makanan kalangan mewah saya kira. Sisa waktu rumah kontrakan juga masih cukup panjang, 5 bulan lagi. Saya pun tidak boros menggunakan alat-alat kosmetik jika sedang beraktivitas di luar rumah. Yang wajib guna dari segunung peralatan kosmetik tersebut hanya foundation, eyeliner, pensil alis, dan lipstick. Four items only. Sedangkan maskara, eye shadow, dan lain-lainnya, berada di urutan kesekian. Sehingga tak membuat saya buru-buru ke toko kosmetik langganan demi memborong mereka. Jangan tanya soal pulsa. Saya punya stok yang tak habis dalam sehari sekalipun dipakai terus-terusan tanpa paket hemat-hematan bak saran demo iklan.

Tentunya para pembaca heran, penasaran, setelah itu pasti bertanya-tanya. Apalah sebab musabab yang membuat Dinna F. Norris enggan mengambil kesempatan berjalan-jalan, malah minta hadiah diuangkan. Padahal destinasi pertualangan bolehlah disebut menjanjikan daripada sekedar duduk-duduk di rumah dan repot dengan urusan tulis menulis dan hayal menghayal.

Betul sekali. Daerah wisata yang ditawarkan begitu manis dan eksotis. Meski belum pernah ke sana, tapi setidaknya saya telah googling setiap inci kawasan yang dimaksudkan. Dari gambar dan keterangan yang saya peroleh, jujur saja, saya bisa menikmatinya. Bahkan ingin sekali saya pergi melihat kehebatan ciptaan Tuhan yang lain, dari luar negara saya tercinta, Indonesia. Saya pun telah sudah membayangkan apa yang akan saya lakukan di sana nantinya.

Namun, ada beberapa alasan mengapa saya begitu ingin menukar hadiah jalan-jalan dengan uang. Nah, alasan itulah yang sangat sulit untuk saya jelaskan pada para pembaca sekalian. Rasanya, ketika saya hendak berkata-kata, suara tercekat ditenggorokan. Ketika saya hendak menuliskan, jari manis tangan kanan mengarah ke tombol backspace, mulai menghapus kalimat yang sudah susah payah saya urutkan.

Lambat laun, keinginan menukar hadiah tadi bermuara pada sebuah doa, bahwa saat ini saya lebih memilih kalah meski cukup pantas kemenangan bergaris di tangan. Ekstrim memang, ketika melihat para peserta giat berdoa dan berusaha demi menjuarai sebuah kompetisi, sedang saya bersikap biasa-biasa saja bahkan berdoa agar nama saya tak tercantum pada daftar lolos seleksi.

Saya tidak sedang stres, putus asa, maupun kecewa. Tapi ini adalah pilihan hidup yang saya putuskan secara sadar, tanpa tekanan dari pihak manapun. Sebab saya adalah pemilik jiwa yang bebas yang sangat tak mengizinkan siapapun mengobrak-abrik ruang kebebesan yang saya ciptakan. Perlu dicatat, tak ada yang bisa menekan dan menjatuhkan saya selain diri saya sendiri, dan Tuhan tentu saja.

Pun saya tidak sedang bercanda. Lagipula, saya masih punya tabungan kalau hanya berjalan-jalan ke sana. Lain halnya jika daerah tujuan bagi pemenang adalah negara-negara di benua Eropa, India, atau benua Afrika.

Jika kalian ingin berkomentar dan menilai betapa dangkalnya pilihan saya, silakan. Karena sebelum itu kalian lakukan, sejak lama saya sudah mengerti seperti apa rupa sikap manusia. Tapi satu hal, usah dzolimi keputusan saya.

You cant win

Satu pemikiran pada “Memilih kalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s