Raport dan Hari Ibu

Blog wordpess saya hanyalah berisi kumpulan tulisan dan beberapa jepretan kamera. Tak ada space untuk iklan (lagipula karena tidak ada yang meminta), tidak ada video (dikarenakan signal modem smart sering itil alias ilang timbul), juga tidak ada info lowonan pekerjaan. Saya pikir, hal paling mencolok dari blog tersebut adalah tulisan seperti puisi dan kisah random tentang saya, juga tentang orang-orang sekitar. Salah satunya kak Linda, ibu rumah tangga, punya anak perempuan satu-satunya, berpostur besar, rambut pendek, hobi bertelepon, dan sedang bermasalah dalam pernikahan.

Sebelumnya maaf jika tulisan saya menyinggung perasaan. Yeah… saya tahu tak ada gunanya minta maaf. Tapi setidaknya saya telah berniat baik untuk mengatakannya. Tapi kalau saya pikir-pikir, kak Linda termasuk orang –kesekian- yang beruntung hadir dalam blog saya mengingat DF. Norris ini  cukup populer di antara banyak pria, eh banyak user.

***

Jumat malam lalu, kak Linda, tetangga sebelah rumah meminta saya mengambil rapot anaknya di SMP Swasta Simpang Limun-Medan. Maksudnya, saya menjadi wali, pengganti ketidakhadiran orang tua. Saya sih tak keberatan. Karena hari sabtu tak ada kegiatan penting di lembar schedulle. Lagipula, saya senang berurusan dengan pendidikan dan anak-anak, tentang politik tentu saja, masih.

Untuk yang satu itu saya tak bisa melupakannya. Politik tetap menjadi passion, meski lama sudah saya tak berjabat erat dengannya. Namun mengapa saya tak lagi terlibat atau terjun di dalamnya? So simple. Empang politik sedang sangat berlumpur. Dan saya takut tercebur. Saya tak ingin bernasib lebih parah dari keledai –yang jatuh di lobang yang sama-, jatuh berkali-kali di lobang yang sama. Itu sebab, saat ini saya sedang dalam masa bersemedi demi menimba ilmu lebih dalam agar nantinya saya semakin cerdas berpolitik. Hingga kelak saya memutuskan kembali, saya harus melangkah tegap dan siap, bukan semata ujcoba yang hanya akan membuat nafas saya megap-megap.

Masih tentang Kak Linda –ahh, politik selalu bisa mengalihkan fokus cerita saya-, menurutnya, Melan, anak perempuan satu-satunya itu, tak bersedia kalau ia yang mengambil raport di sekolah. Alasannya, tak mau. Begitu pengakuan Kak Linda ketika saya tanyakan alasan ketidak-mauan Melan. Saya kira itu bukan alasan. Bahkan adik kecil saya pun tahu bahwa jawaban terbaik untuk malas menjawab adalah tidak mau, tak ada, tidak apa-apa.

Permintaannya saya sanggupi. Kembali saya tanyakan pukul berapa mengambil raport ke sekolah, agar saya bisa bersiap-siap lebih awal. Maklumlah, perkara dandan, saya bisa menghabiskan waktu setengah jam. Itu hanya untuk melukis wajah. Belum lagi urusan memilih baju yang harus saya kenakan, soft lens warna apa yang nyaman di cuaca berawan, kadang lebih ekstrem lagi, saya harus menyamakan warna pakaian dalam. The last touch –ini yang paling penting-, saya kerap mereka-reka kalimat apa yang akan saya utarakan pada guru sekolah Melan, membuat pertanyaan, dan menjawabnya di dalam kepala saya. Bermonolog, Its my old habbit.

“kakak gak tahu jam berapa. Katanya jam 10 pagi. Biasanya jam berapa ya?” Alahmakjang… Kalau tadi saya menetap dan tinggal sekamar dengan anaknya, tak perlu ia repot-repot memikirkan soal mengambil raport. Tapi saya ini tetangga jauh yang jarak rumahnya ke rumah saya 30 meter. Selain itu, sudah dua puluh tahun saya tak pernah melakukan aktivitas mengambil raport. Tak cukup terang bagi saya urusan anak beranak ini. Namun ketika saya menanyakan di mana Melan, Kak Linda menjawab dengan omelan hingga tak jelas kedengaran. Intinya, Melan tidur di rumah akongnya (kakek dalam bahasa Tiong hua). Tertegun saya mendengar penuturannya. Anak tidur di rumah lain, sementara besok pagi adalah hari pengambilan raport, dan emak hanya bisa ngedumel panjang. Saya tatap matanya dalam-dalam demi menemukan jawaban atas kebingungan yang semakin menjadi-jadi. Nihil. Yang ada saya semakin tidak mengerti memikirkan jalinan komunikasi dalam keluarga ini.

Saat saya hendak pulang, kak Linda berjanji akan mengabari saya secepatnya, jam berapa sebenarnya mengambil raport.

Menangis

Sabtu sekitar jam 8 pagi, dan belum mandi, saya masih berkutat pada pekerjaan dapur. Mulai dari memasak nasi, menggoreng ikan dan menumis bayam. Jelas saja saya ini bukan tipe perempuan yang hobi di dapur. Tapi karena dua orang adik saya ada di rumah, saya rela berbau bawang demi mereka. Sebenarnya saya malas memasak, namun malang sekali, saya pencinta keluarga.

Kemudian suara perempuan memanggil-manggil nama saya. Adrenalin ke-seleb-an saya mendadak muncul. Saya kira, suara itu adalah suara penggemar yang meminta saya menandatangani bajunya. Tak lain tak bukan rupanya suara Melan.

“mamak sudah bilang sama kakak kan?” Bersepatu dan berseragam putih biru lengkap, Melan berdiri di depan rumah saya seraya membetul-betulkan letak jilbabnya.

“sudah, tapi tidak memberitahu jam nya.” Jawabku jujur.

Air muka Melan yang tadinya jernih berubah keruh. Ia menunduk lemah. “kata Mamak, kakak sudah dikabari tadi malam. Dan tadi pagi mamak juga menelpon kakak supaya ngawani Melan ngambil raport.”

“betul. Memang kakak sudah janji mau ngawani Melan ngambil raport. Dan sejak tadi kakak juga menunggu telpon dari mamak Melan. Tapi sebiji sms pun tak ada sampai sekarang.”

Jam sudah menunjukkan pukul 8.40 wib. Buru-buru saya menyelesaikan pe-er tumis bayam. Melan, saya minta menunggu saya di rumahnya saja. Tak berapa lama saya sampai di rumahnya, saya lihat Melan menangis. Jilbab putihnya basah oleh air mata. Katanya, ia baru saja diomeli mamaknya.

Berusaha saya membujuk dan meredakan kepanikannya, kemudian tergesa-gesa meminjam sepeda motor tetangga. Dengan kecepatan 60km (masih di bawah speed sepeda Lance Amstrong), saya ngebut ke sekolah. Tepat waktu! Saya dan Melan sampai sebelum abjad M dari urutan nama siswa dipanggil. Ajaib, Melan tak lagi bermuram durja.

Dari bisik-bisik tetangga yang saya dengar, ternyata Kak Linda mengambil raport anak orang lain. Emak anak tersebut tak bisa hadir karena masih membereskan kerjaan di dapur. Jadi beliau menggaji Kak Linda agar mengambilkan raport anaknya. Sungguh tragis. Pendidikan tak lagi menjadi perhatian utama keluarga.

Senja yang dingin, tak seperti senja-senja yang saya lewati di minggu pertama Desember. Saya duduk berleha-leha di ruang tengah rumah kontrakan sambil membaca majalah Tempo edisi tiga Mallarangeng. Tiba-tiba sebuah sms mengguit kekhusuk’an. Rupanya hari di mana saya mengambil raport Melan, adalah hari ibu.

Sungguh dramatis perjalanan hari saya saat itu. Hari Ibu, memasak, dan mengambil raport anak. Sayang sekali Tuhan masih menyimpan misteri tentang jodoh saya. ‘ketika saya memohon sebuah cinta, Tuhan malah memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong’, begitu bunyi kalimat puitis yang pernah saya baca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s