Penyamaran tak berkelas

“dengan polan?”

“oh, bukan dengan polan ya?”

“hmm… jadi si polan di mana ya sekarang?”

“oh, kalau begitu saya tak beruntung bicara dengan si polan. Jadi ini siapa ya? Boleh kita kenalan?”

“oh, ini bukan nomornya si polan ya? Alamat kamu di mana?”

Sumpah! Mungkin sayalah orang yang paling kesal, marah, dan beringas ketika nomor-nomor tak dikenal menyerang saya dengan sms dan telpon berkali-kali. Mereka sibuk menanyakan tentang bapak ini, ibu itu, di mana si ini dan si itu. Sudah saya katakan, dan telah pula berpanjang-panjang lebar saya jelaskan bahwa saya adalah Dinna F. Norris, bukan orang -entah siapa- yang ia cari. Kendati demikian, nomor-nomor asing tadi tetap menelpon dan meng-sms. Aktif menyorong-nyorongkan nama orang yang ia makudkan pada saya.

Kalaulah saya mengenal orang yang mereka cari, dari awal akan saya beritahu tanpa perlu mereka menghabiskan pulsa mendesak saya dengan pertanyaan-pertanyaan aneh dan menjengkelkan. Masalahnya, saya tak kenal siapa yang mereka cari. Saya tak tahu dan juga tidak mau tahu. Apa urusan saya? Bukannya saya tidak peduli. Tapi jika mereka ngotot mencari orang hilang, saya anjurkan mendatangi stasiun TV atau melapor ke polisi.

Hal seperti itu, saya menganggapnya telepon usil dan tidak bertanggungjawab. Sorry jika sakit hati. Tapi sungguh, saya sangat marah. Apalagi kemudian para penelepon/sms tadi menanyakan nama, alamat dan latar belakang saya. Sudah bisa ditebak ke mana muara ceritanya. Mereka ingin kenalan dan mengajak ketemuan.

Tidak bisa saya nalar, di era millenium saat ini, di penghujung tahun 2012, masih ada orang-orang pengecut yang enggan terus terang. Suka berpura-pura ‘entah siapa’, senang bersandiwara ‘salah sambung’, ujung-ujungnya mengajak ngobrol. Rupanya, mereka adalah orang lama yang kangen, namun entah apa alasannya mereka menyamar menjadi orang lain agar bisa bicara dengan saya.

Alahmakjang… Betapa geramnya saya ketika itu. Membuat kening saya berkerut dan wajah merengut. Rasanya waktu dan energi terbuang percuma. Karena telah sempat meladeni ngobrol, saya putuskan bertanya –penasaran level III. Demi berkenalan dan mengatakan rindu dengan saya, mengapa harus bohong, pura-pura salah sambung serta menjadi orang lain.

“kalau terus terang, kamu gak mau angkat telpon dan balas sms. Padahal saya cuma ingin ngobrol saja. Tanya-tanya kabar gitu” ujar salah seorang penyamar.

Baiklah, saya hargai niat baik mereka untuk berkomunikasi. Tapi saya kerap gagal menerima alasan penyamaran demikian. Menurut saya hal itu sungguh tak berkelas. Lagipula, saya tak pernah menyamar menjadi orang lain atau pura-pura salah sambung demi berbicara dengan orang yang saya rindukan, atau sekedar mengajak berkenalan.

Sepenuhnya saya sadar, bahwa tak banyak orang bersikap seperti saya, yang berani mengakui perasaan dan isi hati. Tapi kalau penyamaran perasaan itu ditujukan pada saya, lebih baik urungkan niat dari sekarang. Sebab anda tak layak untuk menang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s