Prolog Desember

Cukup lama juga saya tidak mengisi halaman blog ini. Tidak menorehkan kalimat, tidak menggoreskan kata, pun tidak menaruh karya kamera. Bukan berarti saya kehabisan ide menulis. Ide tetap hadir di sela desah nafas, sekalipun dikala titik nadir. ‘Thanks to Allah for His great bless’. Saya hanya sedikit malas saja. Hilang gairah kali namanya ya. Entahlah ini disebut apa. Kenyataannya saya memang suka menulis, tapi ada satu waktu, satu keadaan, di mana saya benar-benar jenuh dan tak ingin melakukan apa-apa. Kendati demikian, saya harus memaksa diri agar tak manja. Lagipula, karena saya telah memulainya, maka saya harus menyelesaikannya. Keteguhan ini mengingatkan saya pada dialog dalam film Catatan si Boy, “kalau sudah start, ya harus finishlah.”

Seperti biasa, banyak kisah yang saya bagi untuk dinikmati. Beragam kisah tentang pribadi, tentang orang-orang yang saya temui, tentang peristiwa yang saya lihat, saya dengar, dan apapun. Walau tak begitu penting, setidaknya bisa dibaca sambil makan kacang rebus atau seraya menina bobokkan ‘teman’ kesayangan.

Tentu saja, tak ada cerita baru yang bisa dibaca di bulan desember. Mungkin tidak ada yang kehilangan. Itu sebab tak ada yang bertanya. Karena tak ada yang bertanya, berarti tak ada yang peduli. Baiklah, mari kita sepakati peraturannya bahwa kepedulian punya harganya sendiri. Saya pikir, kita telah sepakat dengan itu.

Dunia memang aneh, tambah komplek karena didiami orang-orang yang aneh pula. Kalian, kita, tak terkecuali saya, lebih tertarik pada gosip-gosip selebritis. Di mana Dewi Persik operasi ‘kelamin’ plastik, ‘uniknya’ kebiasaan keluarga Manohara: dugem,  Aurell Hermansyah yang gemar mengoleksi perhiasan, mengapa Tina Toon berpose di sebuah majalah dewasa, apa alasan Cornellia Agatha bercerai, dan sebagainya.

Kalian, kita, tak terkecuali saya, lebih fokus pada gemerlap ibukota. Tentang Aceng menikahi gadis yang ‘konon’ masih di bawah umur, tentang korupsi yang perkembangannya sudah mirip motto ABRI: ‘mati satu tumbuh seribu’, tentang kebiasaan partai-partai politik yang tak berubah: berebut mencari simpati rakyat saat musim pilkada, dan sebagainya.

Kalian, kita, tak terkecuali saya, lebih senang mengikuti perkembangan fashion, update trend musik masa kini, lancar bertukar komentar tentang sinetron-sinetron prime time, hapal luar kepala film-film bioskop mulai dari box office sampai bad list, dan sebagainya.

Kita, lebih mengenal kandidat Miss Universe ketimbang tetangga yang meninggal akibat kecelakaan tadi malam. Kita, lebih mudah simpati pada nasib Benazir Limbad daripada anak yang kelaparan di pinggir stasiun kereta. Kita, suka mengumpat keras pada para demonstran yang membuat sesak jalanan tanpa pernah peduli apa yang mereka perjuangkan. Kita, kerap mencaci maki pelajar yang tawuran tanpa sekalipun memberikan sedikit perhatian. Kita, lantang menghardik pengemis dan peminta-minta, namun tanpa pikir panjang merogoh kocek demi selembar pakaian branded. Kita, rajin mendata jumlah siswa berprestasi, namun lalai men-sensus anak-anak tak sekolah. Kita, berkoar-koar tentang hak asasi namun di saat yang sama mengancam dan menindas kebebasan teman sendiri. Kita, berteriak tentang keadilan namun sebentar saja mampu menipu, tega merampas rezeki orang lain. ‘Tak mudah mengatakan apa itu keadilan, tapi tentang ketidakadilan orang dapat mengenalinya’ tulis Goenawan Muhammad dalam edisi caping-nya 14 november lalu.

Tulisan ini bukan hendak berceramah juga bukan khotbah. Hanya sekedar prolog pada desember 2012. Check-in tentang sebuah tragedi, bahwa sebagian besar dari kita, telah kehilangan rasa peduli. Semoga bukan tulisan satu-satunya, bukan pula yang terakhir. Jujur saja, saya belum siap mati. Yang jelas, saya akan tetap menulis meski tak ada yang bertanya, walau tak ada yang peduli.

Kepada para pembaca setia blog saya, baik likers, komentator, juga imigran gelap (yang gak sengaja klik), terimakasih banyak atas waktu dan kesediaannya untuk singgah. Segala yang kalian lakukan, sekecil apapun itu, sungguh berarti buat saya. Meskipun gak mempengaruhi ketebalan isi dompet, tapi tiap kali saya melihat angka traffic jam bertambah, itu sudah cukup membuat saya takjub.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s