‘Profesor’ pernikahan (session 1)

Rekanku dari negara seberang mengadakan acara. Ia memintaku berpartisipasi sebagai peserta dengan mengajak beberapa orang Blogger SUMUT. Beruntung, ia mendapatkan partner terbaik. Kusanggupi tawarannya meskipun saat itu aku sedang flu.

Dari rumah menuju tempat acara, aku memilih naik becak motor, salah satu kendaraan umum yang diprivatisasikan setelah angkot. Terhitung 10 menit dari situ, sebuah pesan mengganggu komunikasiku dengan cermin PAC. Dari perempuan berjilbab itu.

Dia mengatakan beberapa nasehat pernikahan padaku. Salah satunya pernyataan klise semacam “jika kau ingin mendapatkan seseorang yang baik, maka kau harus lebih dulu menjadi baik”. Oh ya, kemudian berikutnya ia mengaku tidak untuk mengguruiku. Orang ini, bisa dikatakan cukup lama kukenal. Lebih kurang enam bulan. Lima kali bertatap muka, dua kali berbincang tentang jamu dan kain gorden jendela, sisanya senyum dan “hai kak”.

Okey, namanya kusamarkan saja. Akan lebih baik begitu agar tidak berubah menjadi persoalan yang sangat serius di kemudian hari nanti. Karena aku menulis, bukan berbicara. Yang jelas, dia telah menikah. Guess what I am? I am a great lady who not marry yet. Salahkah bila ia menyampaikan satu bab nasehat padaku? I think its fine, mengingat aku belum pernah menikah. Tapi ketika aku mulai membuka sedikit kran kebebasan berpendapat, bukan berarti segala pernyataan boleh diutarakan. Am I a dictator?

Begini (menerangkan pelan-pelan seperti kesabaran seorang guru yang menjelaskan sesuatu pada anak berusia lima tahun), bukankah manusia diciptakan lebih unggul daripada makhluk lainnya di mana ia memiliki keistimewaan yang tersimpan di dalam kepala? Yess folks! Itu dinamakan kehebatan pikiran. Manusia yang sempurna, akan selalu menempatkan pikirannya di posisi utama, setelah kemudian mulutnya. Maksudku, dia sudah pasti memberikan sebuah ‘saran konkrit’ andai saja baut dalam kepalanya tidak lepas.

Lantas, dengan terus-terusan menasehatiku, menanyakan umurku, sampai mengajakku mendiskusikan krtieria lelaki idaman (padahal sesungguhnya aku tak begitu paham apa yang dimaksud kriteria), kupikir itu akan berakhir dengan tujuan perjodohan. Namun ia tak menunjukkan sebarang tanda-tanda. Dari semua ocehannya sejak aku duduk di singgasana betor sampai turun di sebuah hotel bintang lima, aku telah berkhayal kalau-kalau ia akan mengundangku ke rumahnya lalu mengenalkanku pada seorang lelaki matang yang ingin menikah. Rupanya ia hanya membuang waktuku.

Kekeliruan pertama telah ia ciptakan.

Selanjutnya, tak sekalipun kami pernah berbincang perihal intim seperti kapan pertama kali aku dicium oleh lelaki (selain ayahku, sayangnya itu tak pernah terjadi) atau saling membicarakan berapa diameter lingkar dada. Intinya, sepanjang pertemuan (yang pernah terjadi) tak ada hal spesial dibicarakan. Aku tak bertanya apa kegiatannya, sama halnya dia. Aku tak menanyakan suaminya, begitu juga dia. Aku tak bertanya dia pernah bersekolah di mana, pun dia tak bertanya almamaterku. So we dunno each other, folks!  Tapi bagaimana bisa ia mengetikku tentang orang baik, dan seterusnya. Itu kekeliruannya yang kedua.

Yeah, sebenarnya aku jelmaan Bellatrix Le Strange. Sama sekali bukan orang baik meski aku tak tahu apa standarisasi menjadi orang baik. Setidaknya aku berjilbab, cerdas dan sudah Hajjah. Entahlah, aku hanya diajar untuk menjadi lebih peduli.

Sayang, waktuku begitu berharga untuk menjawab pesan-pesannya. Lagipula, acara Selangor Meet Indonesia jauh lebih menarik perhatian. Kusudahi dengan kalimat klise, “terimakasih banyak karena sudah berbagi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s