Serangan maya

“aku heran melihat generasi kalian yang selalu menumpahkan apa-apa pada kolom seratus empat puluh karakter dan meletakkan beberapa poto yang aku tak begitu paham apa tujuannya.”

Jika atok (kakek) tersayangku masih ada di bersama kami, aku yakin itulah yang akan dikatakannya karena melihatku asik menggeluti facebook dan twitter sejak mereka terlahir ke dunia. Harus kuakui kebenaran dari seluruh pernyataan beliau. Karena sejak kehadiran situs popular yang dibidani oleh Mark Z tersebut, aku kerap mengetikkan segala yang aku rasakan, lakukan, dan pikirkan. Cuplikan dialog dari sebuah buku, kutipan-kutipan para tokoh, resume hasil karyaku, berita up to date di seluruh dunia, situs penting, juga keadaanku saat marah, simpati, jatuh cinta (whaatt!!), terjebak traffic jam, demam, sakit kepala dan flu. Semacam kalimat mencari perhatian yang ditujukan pada seseorang juga sempat ada di sana. Betapa menjijikkan ketika aku mengingat segalanya! Bukan hanya pada momen mencari perhatian, tapi pada segalanya. Selanjutnya gara-gara facebook dan twitter, aku pernah error saat diminta menulis sebuah artikel sederhana tentang sastra puisi. Guess what? Aku melewatkan uang 100 ribu rupiah. Bahkan, aku tak lagi terbiasa menulis tulisan 1000 karakter. Padahal sebelumnya beragam kalimat mengalir deras hingga menghasilkan tiga-empat lembar halaman. Parahnya lagi, sejak berkenalan dengan mereka, aku jarang menyentuh majalah, koran, apalagi buku. Jangan tanyakan tentang sholat, sudah pasti jawabnya terlaksana di penghujung waktu.

Sama halnya tatkala situs micro blogging seperti twitter mendominasi pikiran penduduk bumi. Satu per satu berlomba-lomba membahasakan segalanya melalui kolom lahan kecil twitter. Bahkan lebih ekstrem lagi, sebagian besar masyarakat menjadi tidak peduli. Mereka lebih concern pada topik pembahasan di twitter berikut membalas setiap komentar daripada menjawab panggilan telepon yang telah berdering beberapa kali. Folks, ada yang tak ingin mengaku di sini? Tak apa, tanya dan jawab dengan jujur pada diri masing-masing.

Banyak kejadian di twitter, facebook dan situs maya lainnya yang membuat kita geleng-geleng kepala. Seperti orangtua yang harus membebankan anak pada asisten rumah tangga, para bos lebih senang melakukan meeting di twitter daripada di kantor, para isteri mengeluhkan perubahan suami mereka, para artis berkicau tentang tas apa yang paling mahal dan bergengsi saat ini, para stupid bitcher berbagi gaya apalagi yang asik untuk making love, para siswa menjelek-jelekkan pengajar, para politisi saling lempar isu dan fitnah, para pengamat lupa menulis artikel sebab telah mulai keranjingan menulis artikel mini 140 karakter, dan paling eksis adalah para remaja mencurahkan segala macam perasaan seperti cinta, suka, patah hati juga benci pada pasangannya. Oh folks! Tak terkecuali aku tentu saja. Padahal ketika itu aku sudah datang bulan. Ternyata menstruasi tak lantas membuat manusia lebih dewasa. Akhirnya, setelah (terlambat) menyadari banyak kekeliruan yang kuciptakan secara sadar maupun tengah mengigau, aku terpaksa membongkar arsip-arsip per-bulan untuk men-delete-nya satu persatu. Lumayan merepotkan. Tapi demi melihat banyak kalimat buruk tertulis di sana, jadi membuatku sangat bersemangat untuk segera menuntaskannya hingga tak menyisakan satu kata meskipun hanya ‘lelah’. Setiap orang berhak lelah. Namun bukankah dengan mempublikasikan ‘lelah’ sama saja dengan kau menunjukkan ketidaksiapanmu menghadapi sesuatu? Atau mungkin aku saja yang terlalu tangguh dan kerap pura-pura kuat dalam hidup ini? Aku masih yakin banyak wanita se-rebel Camilla Palazo di luar sana.

Meski beberapa bulan belakangan saham facebook dinilai anjlok, namun pamornya tak lantas meredup. Masih banyak facebooker yang tetap bertahan menggunakannya. Ada juga pemain baru yang akhirnya belajar ber-fesbuk. Berbeda dengan rival terberatnya twitter, tetap menjadi jawara di kancah maya. Bahkan jika musim sepak bola dan hari raya, lalu lintas twitter kerap macet. Di sana tak menyediakan fly over, namun hal tersebut tak menuyurutkan jejak jemari para tweeps (sebutan bagi pengguna twitter) berselancar dengan gencar, menanti connection terang memancar.

Sulit rasanya untuk tidak memainkan jari-jarimu pada kotak status, mengomentari pernyataan beberapa rekan, meng-upload sekian banyak poto dengan berbagai ekspresi sampai poto sebungkus rokok dan korek api karena kehabisan gaya sama sekali. C’mon folks, ide yang benar-benar buruk bukan?

Lalu, setelah sejak tadi menyinggung dampak negatif yang ditimbulkan lahan maya, apa tidak ada pengaruh positifnya? Untuk dicatat, bahwa setiap keadaan atau kejadian, membawa pengaruh baik dan buruk bagi ‘penderitanya’ tergantung dari sisi mana ia melihatnya, tergantung pada bagaimana ia memanfaatkannya. Jadi, tak perlu rasanya aku menggurui kalian bagaimana memanfaatkan dunia maya ke arah positif, karena kupikir kalian telah paham caranya, meski tidak sepenuhnya. Menurutku kalian telah sudah mampu menyadarinya, meski belum siuman pada prakteknya.

Yang jelas, tak ada sesuatu di bumi ini yang sia-sia selagi kita bisa menempatkan apapun itu pada tempat yang sebaik-baiknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s