Selamat datang Zanne

Sebelum ia hadir menatap langit-langit kamar, tak seorangpun di rumah yang mengenalnya. Baik itu adik-adikku, ayah, apalagi ibuk sebagai emaknya. Dengan kata lain, bayi mungil itu tak pernah terpikirkan. Sebab ibuk sudah memiliki empat orang anak, tiga lelaki dan seorang perempuan, dengan jarak kelahiran hanya berkelang dua tahun. Anak terakhir Delza, sekarang usianya genap lima tahun. Anak kesayangan ayah, sering dibawa kemanapun ayah pergi, paling dimanja di rumah. Menurutku, ayah tak lagi menginginkan bayi mengingat usia beliau mencapai 56 tahun. ‘Empat anak sudah lebih dari cukup’. Kalau tidak salah, ayah pernah mengatakan hal demikian padaku, meski samar.

Awal mulanya, ibuk masuk angin terus-terusan. Tak sembuh juga walaupun sudah diobati cara biasanya. Dipijat, diurut, bahkan pernah pula ibuk diinjak-injak ayah pakai kaki agar anginnya keluar. Hal itu berlaku karena saking paniknya. Kalian tentu paham maksudku. Kebiasaan masyarakat desa memang tak begitu mempercayai dokter, enggan ke klinik pun ke rumah sakit. Tetap mempertahankan etika lama yang kenyataannya kerap mujarab. Namun, bukannya sembuh ibuk malah muntah-muntah. Esoknya, muncul pula bulatan sebesar buah rambutan di dekat tulang belakangnya. Kembali ibuk diurut ayah. Dan bulatan itupun menghilang.

Karena tak kunjung sembuh, ayah membawa ibuk berobat ke klinik dekat rumah. Menurut keterangan bidan, ibuk hanya masuk angin biasa. Penyebabnya, sering terlambat makan plus sakit maagh kambuh. Tak ada peringatan ataupun sekedar tanda-tanda awal kehamilan. Kemudian bidan memberi ibuk obat maagh, juga obat supaya mengeluarkan angin.

Untuk kali kedua, ibuk dan ayah mendatangi klinik. Memeriksakan kesehatan karena ibuk merasa mulai ada keanehan. Ajaib, ibuk menganduk empat bulan.

***

Pada tanggal 5 oktober 2012 pukul 01.30 dini hari, berketepatan pada peringatan hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, seorang bayi perempuan telah lahir ke dunia, dengan sehat, selamat, dan sempurna. Berat 4,7 ons, panjang 5 cm. Berlesung pipi, mata cipit, pipi chubby, hidung bangir, bibir tipis. Menurutku Zanne anak cerdas. Karena baru berumur seminggu ia sudah bisa respon pada apa-apa yang terjadi di sekitarnya. Senyum lesung pipinya, begitu mengagumkan. Seperti senyum ayah. Yang jelas, ia sungguh cantik. Perpaduan antara ayah berdarah batak melayu, dan seorang emak keturunan jawa. Beliau adalah ayahku, yang telah menikah sebelas tahun lalu dengan seorang perempuan muda yang kami, -aku dan saudaraku- panggil ibuk. Bayi mungil itu adalah anak kelima, yang aku telah menyayanginya, juga keempat adik-adikku sebelumnya. Ia diberi nama ‘Zanne Zahran Mardhatilla’, nama dari hasil perdebatan panjang antara aku dan ayah. Artinya, perempuan terindah yang diridhoi Allah.

Entah di mana Zanne bersembunyi kala itu, saat ayah menginjak-injak ibuk dengan maksud mengeluarkan angin. Sungguh hebat ia bertahan ketika tukang urut mengurut ibuk sekuat tenaga. Zanne benar-benar merupakan anugerah kecil dalam keluarga kami. Ia adalah perempuan yang diridhoi Allah untuk menjadi pemimpin dunia di zamannya, kelak.

Folks, sekarang kami 12 bersaudara, melebihi jumlah pemain kesebelasan sepak bola. Kuharap, Zanne menjadi anak terakhir ayah dan ibuk.

2 pemikiran pada “Selamat datang Zanne

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s