Betor harga diri

Persis di depan sebuah bangku panjang, kereta tujuan kota Tanjungbalai berhenti. Buru-buru aku melangkah ke luar, menyeruak sekumpulan emak-emak yang sejak tadi berdiri sambil meributkan barang mana yang lebih dulu di bawa. Di sela-sela repotnya, masih sempat ia mengamuk pada anak lelakinya yang masih mengompeng. Kalau saja aku bersikap manis menunggu mereka, kurasa aku akan terjebak dalam kepungan perdebatan tanpa demokrasi. Hei folks! Sejak kapan ada demokrasi di negeri ini? Apatah lagi di kota busuk seperti tempat tinggalku? Lupakan. Pulang kampung dengan kereta api memang cukup merisaukanku. Hampir selalu. Tak peduli walaupun banyak perubahan ada padanya.

Kemudian, rintangan sebenarnya ada di depan mata. Terhampar puluhan tukang ojek becak motor (betor) memadati pintu masuk dan pintu keluar terminal kereta api. Mereka saling berebut penumpang. Yang tak dijemput, menjadi sasaran empuk untuk dirayu (lebih kepada dipaksa) agar bersedia naik betor. Semestinya hal demikian menguntungkan penumpang sebab bisa negosiasi harga semurah-murahnya. Kalau tidak, pindah ke tukang ojek betor berikutnya. Tapi tidak terjadi di kampungku. Tukang ojek betor di sini kaya raya. Mereka rela tak dapat sewa daripada harus ngojek tapi dibayar murah. Kalian tentu saja ingin bertanya, ‘ini zaman serba sulit. Harga apa-apa sudah naik. Usah jual mahal. Semua harus pakai duit.’ Maka akan kau dengar jawaban mereka, ‘maaf dulu kawan! Kami sudah sonang!’ Di sini harga diri lebih utama dari paksaan sejengkal perut.

Betor di kampungku jauh berbeda dengan betor di kota. Medan khususnya. Meski mapping perjalanannya sebatas kampung, tapi untuk layanan kenyamanan benar-benar memuaskan. Kalian bisa menemukan tempat duduk yang luas dan atap (penutup seperti tenda yang berfungsi melindungi dari panas dan hujan) yang tinggi, cukup lapang untuk berdua, juga sebuah tas ransel bisa diselipkan di tengah-tengah. Bandingkan dengan betor di Medan. Hanya pas untuk duduk sendiri ditambah sebuah tas ransel. Jika ingin duduk berdua, bersiaplah merasakan pantat pegal-pegal karena duduk di tempat sempit. Selain itu, semua betor di Medan memiliki atap rendah.

Satu hal lagi, sebagai sebuah alat transportasi, betor tentunya hanya bertugas mengantarkan penumpang saja. Tapi ini Tanjungbalai kawan! Kota di mana harga diri dan gengsi menempati puncak tertinggi. Akan kalian saksikan bagaimana sebagian besar betor mempunyai fungsi ganda, selain menjadi alat transportasi, juga sebagai hiburan. Berbagai jenis lagu mengalun kencang dari sebuah speaker utama. Persis konser. Tak peduli itu lagu apa. Tak hirau andai kau tak menyukai musiknya. “maen toruuuusssss!!” teriak para ojek betor sambil membetulkan letak Reybean kw tiga.

Itulah kampungku. Itulah salah satu cirinya. Begitulah karakter penduduknya. Dan aku, telah cukup sering menaiki betor berspeaker keras membahana. Rasanya, laksana Cleopatra duduk tegak membusung dada di atas singgasana. Tidak berlebihan. Tapi begitulah kenyataan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s