Pendatang baru

Membawa kucing ABG liar (sebelum ia berganti nama menjadi Mike, Maxy, Nicholas dan pada akhirnya Hugo Chaves) ke rumah bukan suatu tindakan yang bijak. Mengingat ayah telah mewanti-wanti agar aku tak memelihara kucing lagi, atau jenis hewan peliharaan lainnya. Tapi aku sangat menyukai hewan berbulu itu. Selalu geram bila menatap mata tajam mereka, juga melihat ekspresi lucu mereka yang tak pernah disengaja.

Kadang-kadang untuk mewujudkan ambisimu, kau tak perlu membuat keputusan bukan? Sekali-kali bertindak di luar akal normal sangat dibutuhkan. Bahkan tak memberi kesempatan pada pikiranmu untuk mereka-reka untung rugi dari sebuah tindakan. Just do it. Dan kau hanya menunggu ‘apa’ selanjutnya.

Mari kita memutar ulang piringan memori beberapa tahun silam, saat masih anak-anak, saat emak masih hadir di antara kami. Sepasang kucing berjalan dengan tampang kelaparan, mengeong-ngeong di depan rumah. Mereka abang beradik. Tanpa pikir panjang emak mengasuh mereka, memberi makan, dan dengan mata teduhnya meyakinkan kami bahwa akan ada keluarga baru di rumah. Kami sepakat tanpa ada pemilihan suara. Jadilah kucing abang beradik itu menetap di rumah, sebagai kucing pertama dengan nama Manis dan Belang. Hari-hari berikutnya kami menjelma menjadi penyayang binatang, kemudian naik tingkat menjadi pejuang kebebasan hewan. Kedengaran manis sekali kan? Sangat disayangkan pada saat wafatnya si manis aku tak sempat merekam kejadiannya. Kalian pasti melihat kami, -aku dan kelima saudaraku- bersimbah tangis meratapi kepergian Manis. Bersama-sama kami menyanyikan lagu gugur bunga, tersingguk-singguk mengenang kepergiannya. Sukar kubayangkan betapa dungunya aku kala itu. Tapi sejauh ini aku bersukur pada saat peristiwa itu tidak ada CCTV atau kamera pengintai. Terlebih lagi aku bersukur karena seusia itu terlalu tolol menggunakan tape recorder atau handy cam.

Alasan ayah tak mengizinkanku memelihara kucing, katanya demi kebaikanku. Ayah tak ingin aku larut bersama mereka, kemudian menghabiskan sisa hidupku hanya bersama kucing. Dalam artian, aku enggan menikah. Kudapati dugaan-dugaan ayah terlalu ekstrim, seringkali. Aku yakin, pastilah beliau cemas dengan usiaku yang sudah menginjak 27 tahun namun masih belum memiliki tambatan hati. But folks, usia adalah hal lain dan kucing merupakan hal lain lagi. Mereka adalah dua hal yang berbeda. Meski terkadang ditambah hadirnya seekor kucing rasa kesendirian dapat teralihkan. Tapi itu hanya sejenak. Sekali lagi, s e j e n a k. Tetap saja naluri ingin mengakhiri episode single diam-diam menyelinap dalam benak. Tak seorangpun menginginkan kesendirian. Tak seorangpun betah bertahan dalam kubangan sepi. Tanpa kecuali!

***

Keseluruhan bulunya putih bersih. Wajahnya malu-malu. Bola matanya unik, sebelah kanan berwarna kuning, sebelah kiri berwarna biru. Ia seperti makhluk alien yang tersesat di komplek rumahku. Kutemukan di depan warung tetangga, mengais-ngais sisa ikan yang sudah disiangi. Sambil belari, kugendong ia ke rumah dan kutunjukkan pada adikku. Tepat dugaanku, adikku menyukainya. Kucing itu sudah cukup dewasa, kira-kira berumur satu tahun. Ngomong-ngomong, kemana saja ia hingga lama baru kutemukan?

Tak seperti anak atau cat baby, dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra untuk menjinakkan seekor kucing liar agar ia betah di rumah. Bukan pekerjaan mudah mengajarinya makan di piring, minum susu, dan buang hajat di saluran kecil kamar mandi. Jujur saja, menambah masalah. Tapi aku terlanjur menyukainya.

Tak ada debat atau polling pendapat untuk memelihara kucing liar ini. Semua terjadi begitu cepat, bahkan kini ia sudah punya nama, Hugo Chavez. Adikku menamainya seperti nama Presiden Venezuella. Luar biasa sekali. Aku mengangguk setuju meski setengah terpaksa setelah nama-nama yang kusarankan tak ia amin-kan.

*berbisik* Ssssttt, si Hugo Chaves (aku akan selalu menyebut-nyebut namanya agar terbiasa) telah tidur pulas. Dan jangan lupa berdoa agar Tuhan mengabulkan do’a ayah untukku. Gak pake lama. Sebelumnya, kalian harus janji untuk merahasiakan hal ini  dari ayahku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s