Gelas terakhir

Setiap aku bertemu denganmu, entah kenapa jantungku berdebar begitu kencang. Sampai-sampai aku tak sadar meletakkan Capacci coklatku di dada agar kau tak mendengar bunyinya. Tapi tetap saja debarnya bergemuruh bahkan semakin gaduh. Mungkin hanya kematianlah yang bisa menghentikannya. Di sana, aku tetap membeku menatap punggungmu, tergagap ketika kau menatap mataku, dan hanya bisa menghadiahimu senyuman saat kau membawakanku segelas kopi.

“meluluhkan hati” ucapmu berkali-kali.

Setiap aku menerima satu pesanmu meski sekedar ‘hai’, aku merasa bahwa ia bertransformasi menjadi oase yang mampu memuaskan dahaga karena terlalu lama tertawan dalam gurun sahara. God! Look your calendar. Sudah lama kita tak bertemu. Aku yakin itu tidak berlebihan karena setiap orang pasti merasakan hal yang sama. Normal.

Faktanya, aku memang belum merasakan ada getaran yang membangkitkan keinginan agar bersedia menerima uluran tanganmu. Tidak semudah itu untuk bersayang-sayang, bukan? Untuk dicatat, dalam hal ini aku tidak seperti gadis kebanyakan. But here, aku tidak sedang mengujimu apalagi membuatmu menunggu. Aku juga tidak akan membiarkanmu berusaha sendirian. Kau tahu, sulit bagiku mencintai. Tapi bila aku sudah mendapatkan ‘ruh’ nya, maka itu hanya akan terjadi sekali, untuk selamanya.

Setelah apa yang terjadi pada kita, kupikir akan cukup bagimu membawa perbekalan demi sebuah perjuangan perasaan. Kupikir kau telah mengartikan sinyal demi sinyal dengan baik. Kupikir kau telah memahamiku keseluruhan. Kupikir kau telah berlari mengalahkan roda waktu demi menjemputku. Kupikir kau telah melihat bayanganku menantimu meski pada menit terakhir sebelum malam digantikan siang. Namun, Sama seperti prajurit-prajurit sebelumnya, lagi-lagi aku dibenturkan pada suatu kenyataan bahwa perihal demikian berlaku dalam sekejap. Sekejap…

“masih mata yang sama, masih senyum yang sama.” Kau tuangkan kopi padaku, berikut cake bertabur coklat meses warna-warni.

“aku belum berubah menjadi vampire. Andaipun itu menjadi takdir, aku tidak berniat menggigit lehermu.” Jawaban spontan untuk mengalihkan perhatian agar kau berhenti menatapku.

***

Pagi yang lengang aku mengantarmu. Proyek sudah selesai. Saatnya untuk lebih serius membicarakan ‘hal lain’ yang kupikir lebih penting dari tugas intelijen sekalipun.

Aku menunggu cukup lama, tapi rasanya seperti menunggu Israel bersedia melakukan gencatan senjata terhadap Palestina. Tak benar-benar ada. Sesaat kemudian kita berpisah persis di depan terminal keberangkatanmu ke negara asal.

“aku mengagumimu sepenuhnya. Tapi aku menyadari aku harus berhenti di sini, ketika aku melihat ada banyak hal yang membuat jarak antara kita makin membentang. Berkali-kali aku mencoba memaksakan diri untuk mengikuti kemanapun kamu pergi. Tapi aku sadar, bahwa kamu terlalu tinggi untuk kuraih, terlalu jauh untuk kurengkuh. Kamu memiliki banyak ambisi dan potensi yang aku tak sanggup mengungguli, pun menyamai. Perempuan sehebat kamu, tak pantas untukku. Kamu adalah jiwa yang bebas dan penyuka tantangan. Aku hanya lelaki biasa yang mencari garis aman. Namun percayalah, kamu, tak ada yang bisa menggantikan. Senyum dan mata itu masih aku simpan. Selalu aku simpan, sekalipun kelak kamu dan seseorang telah dipertemukan.” Pesan panjang 3 ruang membombardir Samsung touch screen yang kupegang.

Pada gelasku semalam, menjadi kopi terakhir yang kau tuang.

* Truly story. Kisah nyata yang kugubah seperlunya. Namun tidak pada pesan yang kuterima. Yeahh i should to say, well, berikutnya…*

2 pemikiran pada “Gelas terakhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s