Ketika ayah nikah siri

Seharusnya aku yang menikah, bukan ayah. Seharusnya yang melangsungkan pesta itu aku, bukan ayah. Tapi ayah telah melukai perasaanku, perasaan kami semua. Aku tak paham bagaimana lalu lintas pemikiran ayah. Dulunya ia tulus berjanji tak akan poligami, apalagi selingkuh. Dulunya ia berkata, bahwa ia tipe lelaki setia, tak ingin mendua cinta. Rupanya janji kemarin hanya rentetan kalimat yang terukir di atas pasir, bila disapu ombak, hilang sekelip mata. Aturan-aturan tak tertulis yang ia buat telah ia langgar. Ayah keluar dari rel yang ia ciptakan sendiri.

Siang itu, saat matahari di atas kepala, aku dikejutkan oleh sapa seorang gadis cantik, seusiaku. Bila pun salah taksir, paling hanya selisih dua angka di atasku. Kulitnya putih bersih, bentuk wajahnya oval, dagunya lancip, mata bulat dihiasi retina coklat. Tepatnya, ia sangat cantik.

“nyari siapa?” senyum ramahnya tak membuatku menjawab pertanyaannya. Aku hanya mengangkat alis dan menyuguhkannya sebaris senyum tipis. Hari itu pekerjaanku menumpuk dan pikiranku suntuk dikarenakan banyaknya pelanggan yang memesan design bajuku, namun waktu hanya menyediakan kuota 24 jam sehari, alamatlah pesanan tak terpenuhi. Akhirnya mereka jengkel, ngomel, ada juga yang lari. Whatever, rezeki sudah diatur Allah. Aku bergumam sendirian seraya menunggu ayah di depan kantor temannya, Bajinder Singh. Entah kenapa saat itu ayah minta dijemput olehku padahal ia punya Toyota Corolla 84’. Sedang ayah masih sanggup mengendarai mobil dengan jarak tempuh cukup jauh, sekalipun ditilik dari umur dan pengalaman melaut, kupikir ayah ku termasuk dalam kriteria sepuh. He is 59 years old. Namun untuk titel umur ini, aku yakin sekali ia akan demonstrasi. It’s okey, cukup aku dan kalian yang tahu. Kita rahasiakan pada ayahku.

Lama, aku menuju Nissan Juke putih yang baru kubeli 6 bulan lalu. Seken memang, tapi mesinnya masih oke. Bukan tak sanggup membeli mobil baru, tapi aku tak begitu suka menghabiskan uang untuk sesuatu yang bukan primer. Aku adalah entrepeneur. Profesi keren itu membuatku menjadi ahli matematis dalam hal bisnis. Uang puluhan juta sungguh berharga untuk dijadikan modal usaha.

Dengan langkah malas-malasan, aku berlalu dari kantor teman ayah, meninggalkan perempuan berjilbab yang menyapaku tadi. Apa peduliku padanya? Pada pertanyaannya? Atau simpati pada baby girl yang digendongnya? Ouch… apa yang berlaku semalam dan hari ini tak lagi memberi space pada kepedulian. Aku hanya ingin cepat pulang, menutup pintu rapat-rapat, sejenak beristirahat, kemudian tenggelam dalam lautan pekerjaan. Sebab satu demi satu, deadline tulisan, lagu dan design menuntunku berjalan ke ruang kerja. Tapi ayah begitu lama. Entah apa yang ia bicarakan dengan teman Hindunya itu. Padahal setahuku mereka kerap berkomunikasi via handphone.

Aku men-turn on lagu-lagu yang dilantunkan Atif Aslam, Letta Mangeskar dan Sonu Nigam. Mulailah berjudul-judul soundtrack film Hindia (lagi) terlantun dari tape mobil, meski aku tahu pada banyak kejadian yang membebani pikiran, mustahil bisa terlelap nyenyak laksana bayi dalam pelukan.

Tiba-tiba dari kejauhan kulihat ayah melambaikan tangan ke arahku dengan ciri khasnya, senyum elegan berlesung pipi. Apa kubilang, ayah masih sehat. Matanya masih mampu menandai mobilku. Namun ada yang aneh. Perempuan berjilbab tadi  mengekorinya dari belakang.

Oh, semoga bukan. Kupukul-pukul dahiku agar lekas sadar. Ya, ini hanya efek dari gunungan pekerjaan hingga membuatku sering ilusi. Ayahku itu tipikal setia. Melihat dari intensitas ibadahnya yang terus meningkat, ayah bukanlah pengidap puber kedua pada manula. Dia kebanggaanku, dia idolaku, ayah nomor satu.

“Nak, buka pintu” panggil ayah menyentakkan lamunanku. Perempuan di belakangnya ikut tersenyum. Aku melongo. Reflek kubuka kaca mobil.

“ayah sendiri, atau?” tak ada kalimat berikutnya. Ayah langsung membuka pintu dan duduk. Pun demikian dengan perempuan itu.

“ayo jalan”, masih tersenyum, senyum yang berlesung pipi.

“bisa dijelaskan siapa yang bersama ayah?” kutarik nafas dalam, kutatap mata ayah dari spion di atas kepalaku. Tajam.

Ayah melirik perempuan di sebelahnya. Mereka saling memberi kode semacam anggukan. Ayah mulai lebay, lidahku mulai asin, dan kupastikan sebentar lagi aku akan muntah.

“saya istri kedua ayah kamu. Kami telah menikah sebulan lalu. Maaf, tanpa beri kabar lebih dulu. Dan anak ini, anak dari almarhum suami saya. Sebenarnya saya dan ayah kamu akan memberitahukan hal ini. Tapi kita menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya.” Perempuan itu buka suara. Dan aku membuka dasboard mobil. Muntah.

Walaupun pernah terbersit rasa kurang setuju di hati sewaktu ayah menikah lagi setelah ditinggal emak pergi, namun seiring detik berlalu aku berdamai. Telah kuredam-redam keegoisan ini demi melihat ayah bahagia. Telah kukandangkan kebencian akan cerita ibu tiri. Telah kutelan pil teori, bahwa pastinya emak pun mengangguk setuju dari sorga ketika melihat ayah telah menemukan teman hidupnya. Juga bahwa, aku harus menyanyangi ibuk, pengganti emak, demi ayah, demi keluarga.

Dan pada hari ini, saat ini, di dalam mobilku, ayah mengaku telah menikah siri. “ayah kamu orang baik. Beliau menikahi saya karena simpati melihat hidup saya. Saya harap jangan salahkan ayah kamu.” Seringkas itu ia bicara? Ia pikir persoalan akan selesai dengan sepatah dua patah kalimat? Lantas bagaimana dengan ibuk? Ia yang berusia 27 tahun kala itu ‘mau’ menerima duda 7 anak? Ia yang ‘bisa’ menghadapi ayah yang pemarah? Bagaimana aku harus menghadapinya? Apa yang harus kukatakan padanya.

“Saying ‘I love you’ Is not the words. I want to hear from you. It’s not that I want you. Not to say. But if you only knew. How easy it would be to. Show me how you feel …”

Tak kusangka ke-lebay-an ayah makin menjadi-jadi. Ia dendangkan lagu lawas yang dipopulerkan Extreme pada perempuan (aku benci menyebutnya istri) di depannya. Berkali-kali, tak berhenti. Baru terdiam setelah aku angkat bicara.

“hmmhhhh…..!!” sungguh, kali ini aku tak bisa menahan marah.

“hoii, masih tidur nak?” suara berat dari ujung telpon seperti memenuhi telingaku. “bangun hoiiii!!!” jeritnya karena tak ada sahutan. “sudah jam 6 pagi masih tidur?”

“ayah ini?” jawabku dengan suara agak parau karena baru tersadar dari tidur.

“Malaikat maut!” sergahnya. “sholat dulu sana!”

Klik! Telpon ditutup.

* Inilah agaknya mimpi yang menyebalkan sepanjang usia. Benar-benar membuatku mual! *

Satu pemikiran pada “Ketika ayah nikah siri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s