Lagi

Nah, seperti mana yang pernah kukatakan sebelumnya, jika aku jatuh cinta –rasa jatuh cinta menurut teoriku-, aku akan berusaha jujur dan terus terang mengatakan pada orang yang kucintai, bahwa aku jatuh cinta padanya, dan ingin menjadi pendamping hidupnya, selamanya. Aku tak mengingkari janji tersebut.

Kemudian pada suatu petang, janji tersebut telah kubuktikan setidaknya pada diriku sendiri. Semacam uji nyali untuk mengukur seberapa beraninya aku melakukan hal itu. Kenyataannya, kenekatanku belum kadaluarsa. Kurasa aku sudah gila. Benar-benar sudah gila. Entah apa yang merasuki pikiranku hingga begitu lancarnya bibir ini mengucap kalimat “mari kita menikah”. Rasa jatuh cinta seperti apa yang hadir kala itu, hingga menyebabkan keberanian (kupikir sudah pantas disebut nekat) menyeruak dari dalam sel nya.

Berkali-kali kuanalisa perihal janji tersebut saat kewarasanku kembali. Ternyata, asal mulanya adalah karena betapa aku penasaran pada sikapnya yang manis dan selalu ‘bisa’ membantu menyelesaikan persoalan-persoalanku. Ia  hampir tak pernah menolak menuruti permintaanku. Padahal jika aku berada di posisinya, aku akan mengeluarkan segudang alasan agar tidak direpotkan. Bagaimana tidak? Bayangkan, jika kau menjadi lelaki yang berpayah-payah menjemput seseorang di tengah jalan, kemudian mengantarnya pulang ke rumah, sedang jarak dari tempat kerjamu ke rumahnya cukup jauh! Bayangkan, jika seseorang menelponmu di kala ia sedang gundah, dan melupakanmu ketika ia tengah cerah. Bayangkan, jika seseorang memintamu dengan merayu dan setengah memaksa, untuk membereskan masalahnya. Seseorang itu adalah perempuan yang memang kau kenal baik, namun sudah lama menghilang. Seorang perempuan yang menempatkanmu di garda depan bila dibutuhkan, dan mempensiunkanmu jika tak lagi diinginkan.

Meski tak pernah memperlakukanku istimewa, tapi ia selalu berusaha menjadi berguna. Meski sangat jarang ia menampakkan muka, tapi ia kerap ada ketika aku membutuhkannya.

“pernikahan bukan untuk bercanda” jawabnya sambil menatap mataku. Teduh. Sejenak kemudian ia membuang muka ke jalan beraspal yang basah oleh gerimis tipis.

“kalau aku serius, apa kamu bersedia?” tantangku seraya tersenyum memperhatikan gerak tubuhnya yang tak nyaman mendengar keterusteranganku.

“ya. Itupun jika kamu benar-benar serius. Aku bersedia, dan aku siap bertemu muka dengan ayah kamu”.

Tak ada tanda-tanda jantung berdebar, tak ada suara burung bernyanyi, tak ada angin berhembus di telinga, juga tak ada haru menyeruak dalam dada seperti mana biasanya ketika seorang wanita dipersunting oleh lelaki yang menyukainya.

“tapi aku tidak bisa memasak” kalimat ini semacam trik supaya ia mempertimbangkan niatnya. Meski tidak berupa hobi, padahal aku suka memasak, bermain dengan alat-alat dapur, mencoba-coba resep masakan yang kuciptakan sendiri. Andai saja dia tahu, betapa mengasikkan berada di dapur dengan bahan-bahan apapun yang bisa kau temukan. Rasanya seperti berada di Master Chef.

“kan gak mungkin terus-terusan gak bisa masak. Tapi nanti bisa belajar ya” sarannya.

“aku paling suka travel, kerja, dan merasakan kedamaian kalau lebih lama di luar” lagi-lagi aku membuat alasan bodoh dan tak elegan. Tentu saja agar ia mengakhiri cerita menikah itu.

“boleh-boleh saja. Tapi kan gak mesti selamanya juga jalan-jalan ninggalin keluarga.” tuturnya lunak.

“hmmm… iya. Tepat sekali.” Kucari-cari alasan lain untuk membungkamnya. “Tapi apa kamu mau sekolah lagi? Maksudku S2 gitu? Karena ayahku mengajukan sarat demikian. Setidaknya, pasangan hidupku kelak harus sudah S2. Calonku harus menaruh fokus besar pada pendidikan setelah keimanan dan keluarga.”

Ia terhenyak dan membeku di sudut ruangan tamu. Lagi, matanya menatapku dalam-dalam. Hening. Tak sepatah katapun sanggup ia lontarkan untuk membalas argumenku. Lama kami terdiam. Aku menunggu kegigihannya, sedang ia mungkin menunggu aku bicara, apa ada yang hendak di ralat. Hanya sebaris senyum dan anggukan, “saya mau, tapi saya tak bisa menjanjikan. Saya takut tak sanggup. Dan saya pikir, tak ada gunanya bagi saya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S2. Saya hanya pekerja biasa, staff operasional, bukan pimpinan perusahaan. Saya hanya bisa bilang, ikutlah perintah ayah kamu” ujarnya demikian.

Sejurus aku memandangnya dari kaki hingga kepala, mengamati laku tubuhnya, melumat tiap kata yang ia utarakan, dan menjejalkannya di dalam saku celana. Aku pun berlalu santai, meninggalkan ia yang masih terdiam lunglai. Sesampainya di rumah, kusaring lagi perkataannya tahu-tahu ada yang bisa kugunakan sebagai jimat yang suatu waktu dapat kuingat bahwa ia telah bertaruh dalam episode permainan kehidupan. Ternyata di sana tak kudapatkan perjuangan. Yang tersisa hanyalah sebuah kepasrahan.

“jauh sebelum ini, saya sudah menyayangi kamu meski tanpa kamu sadari. Saya biarkan rasa ini ada, meski pula saya tahu hanya rasa sakit yang akan saya dapatkan nantinya”. 

Sebuah sms meluncur ke inbox handphoneku pada tengah malam. I’ve just deleted. Tak ada gunanya untuk disimpan. Well my man, good bye. Semoga mendapatkan belahan jiwa yang sesuai.

Lelaki setangguh dan segigih apa yang bisa melunakkan kerasnya baja? Ahh, lagi-lagi aku memenangkan permainan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s