Lambaian Muharram

Muharram, adalah bulan pertama dalam penanggalan islam. Ia nya juga tergolong dalam salah satu bulan suci dari ke empat bulan yang disucikan oleh Allah. Itu sebab, jika datang bulan Muharram, maka haram padanya melakukan kekejian, perang, dan hal-hal berbau kedzoliman. Sebenarnya tak jauh berbeda dengan bulan-bulan lainnya di mana juga tidak dibolehkan berbuat kemungkaran. Namun karena Muharram adalah bulan suci, maka terdapat khususon (spesialisasi) anjuran dan larangan.

Detik-detik menuju tahun baru islam, berjalan perlahan memasuki pintu 1 Muharram 1434 Hijriah. Meninggalkan masa kegelapan, dengan membawa sebundel rapot bertabur noktah merah. Lumayan, menjadi bahan intropeksi diri di tahun baru ini. Agar pandai merenovasi kekeliruan, supaya lancar menambal lobang-lobang dosa dengan keimanan.

Betapa banyak dosa-dosa masa lalu yang pernah tercipta baik karena sengaja ataupun khilaf, terjadi ketika sadar maupun saat tak siuman. Saking banyaknya, sudah tak tahu bagaimana cara menghitung jumlahnya. Dosa besar, mungkin tak lupa. Sebab saya ini tipikal cepat mengingat. Apalagi jika terbayang akan pedihnya siksa di akhirat kelak. Seperti dosa-dosa meninggalkan sholat, durhaka pada ayah, memutuskan tali persaudaraan, dan banyak lagi yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Konon lagi dosa-dosa kecil seperti tak mengembalikan buku yang saya pinjam dari perpustakaan, menipu teman, menggosip, ingkar janji, mempermainkan perasaan, belum bayar risol yang saya makan di warung, berbohong, dan beragam kejahatan yang mana jika semua saya sebutkan maka akan penuh halaman blog ini dengan daftar kemungkaran. Judulnya pun menjadi ‘Black List’ atau ‘Walking Sin’, bukan Muharram.

Seringkali saya bergidik sendiri ketika mengingat kekhilafan-kekhilafan yang telah saya perbuat. Rupanya, betapa mengerikan tingkah laku manusia. Senang durhaka, hobi bermaksiat, plin-plan bertaubat. Apatah lagi jika benar-benar tak terbingkai iman. Gawat!

Haisshh… entah apa jadinya saya ini jika tak mendapatkan pertolongan dari Allah.

Seiring pergantian tahun, tentu saja berbarengan dengan dibukanya tabungan harapan, melongok kembali daftar cita-cita yang mengendap, yang tertunda, dan yang tak sempat diwujudkan, dengan demikian untuk tahun ini hukumnya wajib ditunaikan. Nama kerennya resolusi.

Kerap saya mengukir resolusi untuk mengatur ritme perjalanan, me-menej hidup, atau pula sekedar reminder diri utuk mengantisipasi agar tak tegilas roda waktu. Apdet tiap tiga bulan sekali. Oleh karena itu, bagi saya resolusi bukanlah hal baru. Kadangkala, jika tak banyak kegiatan yang menyita perhatian, saya sempatkan mengintip resolusi yang jika diibaratkan panjangnya sudah mirip jemuran yang tak dicuci sepuluh hari. Saling berhimpitan dikarenakan saking banyaknya pinta. Adapula sebagian dari resolusi-resolusi tersebut saya tuliskan pada kertas kecil untuk selanjutnya saya tempel di dinding, dekat meja kerja. Agar terus saya lihat dan saya baca, juga saya ulang-ulang biar segera menjadi nyata.

Lantas jelang tahun baru malam ini, saya tambahkan beberapa butir harapan. Terutama dan paling utama adalah, saya ingin menikah. Kalau boleh, tahun ini juga. Sebagian harapan ini juga keinginan ayah, lelaki pemarah namun paling saya sayangi. Hendaklah Allah meng-ijabah.

Finally, serasa waktu berlari bak roda pedati, tak sadar rupanya tangan halus Muharram sudah melambai-lambai sejak tadi, maka saya akhiri cerita malam ini. Dengan harapan apa yang kita cita-citakan, apa yang baru saja kita tulis sebagai keinginan, akan sampai ke langit mengetuk arasy-Nya. Semoga kita bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin, pun semakin sempurna untuk hari-hari kedepannya. Amiinn…

Selamat menyambut tahun baru 1 Muharram1434 H.

(November 14-2012, 11. 30 pm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s