Menjadi Mac. Gyver

Kejayaan Mac Gyver telah berlalu 20 tahun silam. Namun aksi mengagumkan tokoh serial televisi 1980-an itu masih terekam jelas di benakku. Salah satu tindakan khasnya adalah selalu bisa memanfaatkan benda-benda di sekelilingnya untuk menghindar dari bahaya. Menggunakan jarum atau kawat besi untuk membuka gembok dan pintu terkunci.

Dia sangat cerdas, tampan, dan keren. Rambut panjangnya memiliki ciri tersendiri, tipis di ujung. Mac Gyver adalah cinta kesekian dari banyak lelaki di televisi yang kucintai. Dia lah alasan mengapa aku tergila-gila pada film-film berbau spionase, sekalipun itu cerita intel melayu. Meski demikian, Mac Gyver tak pernah tergantikan.

Emak mengenalkanku pada Mac. Gyver kali pertama, saat aku masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Emak harus memujukku yang merajuk karena tak diizinkan nonton film Candy. “daripada terus-terusan nonton karton, lebih baik nonton film barat nak. Filimnya bagus dan orangnya pintar” pujuk emak di satu petang yang lengang.

Pada tahun segitu, kampung kami tak banyak penghuninya, belum dipadati rumah-rumah penduduk, juga belum begitu diramaikan sepeda motor ber-knalpot sebesar gaban. Di kanan kiri rumah kami masih ditumbuhi hutan ilalang yang tinggi menjulang. Andai kami berada di negeri dongeng, bisalah agaknya puncak ilalang itu menjadi tangga menuju teras raksasa. Tanpa pikir panjang, aku dan adik-adikku berlomba-lomba memanjat ilalang, mengintip rumah raksasa untuk mencuri barang-barang berharga mereka. Jika berhasil, kami akan terkikik-kikik geli di belakang rumah sambil memamerkan sesuatu yang berhasil dijarah. Kami adalah penyeludup hebat dan budiman. Seperti Robin, partner Batman dalam memperjuangkan keadilan dan menumpas kejahatan. Sedang  Ayah, layaknya Jack Sparrow dalam film Pirate of Carribian, senang beraksi sendirian untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Ayah memang bajak laut yang memiliki kapal bermuatan ribuan ton, yang sudah capek malang melintang di laut lepas, yang kerap berhasil menyelundupkan ‘barang mahal’ –cengkeh, bawang putih, dan sejenisnya- ke seberang. Jadi, ayahlah mewariskan darah penyeludup ini pada kami.

Rupanya, cerita raksasa beserta rumahnya tak pernah ada. Bisa-bisanya si pengarang buku itu menghipnotis pikiranku sewaktu masih kecil dulu hingga aku merengek-rengek pada emak agar mengizinkanku bermain-main di hutan ilalang. Tapi emak bergeming. Lalu kemudian menuntunku ke depan TV dengan tangannya yang lembut. Di situlah aku bertemu idolaku, Mac. Gyver.

Rasanya tak percaya, 20 tahun lalu rumah kami menjadi inspirasi bagi orang-orang untuk berlomba membangun rumah besar. Karena saat itu, rumah kami adalah rumah terbesar sekampung setelah rumah Bajinder Singh, teman Hindu ayah. Halamannya luas, bangunannya kokoh dan besar. Mudah bagi kami –aku dan saudara-saudaraku- bermain perang-perangan. Di ketika itu mereka memilih tokoh Hulk, Superman, Superboy, Ninja Turtles, Sailormoon dan Seint Seiya sebagai sosok hebat dalam diri mereka, sedangkan aku, sudah mengajukan diri sebagai Mac. Gyver. Baju kaos biru putih lengan pendek bergambar Mac. Gyver, menjadi seragam andalanku, dan kawat besi sebesar lidi selalu hadir di saku. Ya, itulah Dinna si Mac. Gyver.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s