Dari senja ke senja

Ceritanya waktu masih muda, masih kuliah, masih beramai-ramai ngontrak di rumah busuk milik bapak Sihotang, lelaki tua nan pelit sedunia. Kami, -aku dan beberapa teman kos- duduk-duduk di teras rumah sambil menunggu matahari senja dan maghrib menyapa. Semuanya perempuan yang datang dari berbagai daerah. Awalnya kami ngobrol seputar dunia kuliah, dosen, pelajaran, hingga ruangan kelas.

Kampus adalah tempat komplit untuk berbagi kecerdasan, berbagi cerita, juga berbagi rasa. Tak heran, banyak senior maupun teman-teman seangkatan betah menetap di sana. Kadang pun sampai dapat surat panggilan agar segera menyudahi semester. Sebenarnya mereka bukan tidak pintar. Hanya saja sedikit malas menyelesaikan kredit mata kuliah yang sudah tertulis dalam kartu rencana studi. Adapula yang ingin mempertahankan ‘gelar’ beasiswa. Jadi, beasiswa akan tetap berjalan jika penerimanya masih berstatus mahasiswa pada perguruan tinggi tersebut. “hitung-hitung nambah budget bayar uang kos” tutur seorang teman tentang alasannya ‘ogah’ tamat. Lain lagi alasan seniorku. Katanya, sulit mendapatkan pekerjaan di luar, seiring persaingan yang ketat dan minimnya lowonan pekerjaan. Jika ada, pun tak bisa langsung ‘oke’ saja. Harus melewati pagar nepotisme dan berjibaku di tengah wajah-wajah rupawan. “beruntunglah perempuan cantik, seksi, putih, dan agak genit” tambahnya lagi.

Bergeser sedikit ke topik organisasi-organisasi kampus yang gencar mecari ‘korban’ untuk ‘dibaptis’ menjadi anggota, atau sekedar simpatisan. Kemudian mengarak ke pembahasan teman-teman kampus yang suka tebar pesona, yang cerdas, yang punya IQ dua angka, yang berwibawa, keren, juga mempesona. Akhirnya sampai jualah kami pada tema pokok dan paling ditunggu-tunggu di mana sebelumnya kami telah berpanjang-panjang pada prolog, yaitu sasaran peluru, alias siapa yang ditaksir.

“namanya Alan, cukup ganteng, gak banyak bicara, dan paling pintar di antara kami. Ia suka padaku” Ning membuka percakapan. “dan, dia adalah laki-laki tampan yang kutolak dua kali demi memilih laki-laki lain, yang konon kata teman-temanku tidak pantas untukku.”

“dan?”  tanyaku. Untuk masalah cinta, pada saat itu aku adalah pendengar budiman di antara mereka. Masih polos, tak tahu apa-apa.

“dan aku setuju dengan komentar teman-temanku. Namun pikiran dan tindakan berlainan. Aku tetap saja masih jalan dengan laki-laki yang kupilih. Sampai akhirnya aku patah hati karena diselingkuhi.”

“kemudian?” kali ini aku berpindah, mengangkat pantat agar bisa lebih dekat. Padahal di posisi semula saja suara Ningsih sudah bergema di telingaku. Dia punya suara bass agaknya.

“kau pasti tahu jawabannya” jawabnya sambil tertawa membahana

“betapa kau ingin kembali pada Allan, meskipun membayarnya dengan harga mahal” sambut Ela. “malangnya, tak ada yang lebih mahal dari harga diri” sontak kos menjadi riuh akibat koor tawa penghuninya.

Rey, penghuni paling bijak di kos angkat bicara. “apakah kalian pernah berpikir bahwa sebagian besar perempuan kerap bertingkah tidak sopan? Menolak cinta seseorang yang suka pada mereka, padahal sebenarnya mereka juga suka, suka diam-diam”.

“lantas apa itu salah?” komentar Ningsih  tidak diacuhkan Rey. Santai saja ia melanjutkan bicaranya.

“Kemudian memilih laki-laki lain dengan tujuan menciptakan pertarungan antar keduanya. Siapa yang lebih ngotot mencintai, siapa yang lebih kekeuh, siapa pemenangnya. Maka, seiring berjalannya waktu, kita tahu bahwa kita telah salah memilih. Namun semua telah terlambat. Kita harus membayarnya dengan penyesalan serta kecewa yang bertambah-tambah karena mendapat kabar bahwa lelaki yang dulu pernah berusaha mencintai kita, telah bahagia bersama belahan jiwanya. Dan itu bukan kita.”

***

Litle India-Singapore, Oct 31 2012, Wednesday, 04.30 pm.

“Hai.. apa kabar. Longtime no see. Aku harap kamu sehat-sehat saja di sana. Kamu, bagaimana rencana masternya? Semoga bisa dibereskan. Aku sudah lulus dari pasca sarjana.
Oh ya, minggu depan datang ya. Akhirnya aku menikah juga. Hehee…. Jadi sekalian perayaan kelulusanku. Aku gak tahu nomor phone kamu. Ganti-ganti terus sih. Makanya aku kabarin aja dari email. Maaf ya…
Anyway, calonku, tidak secerdas kamu, juga  tidak sekeren kamu. Ia pemalu, tak banyak bicara. Tapi ia sangat penyabar, hingga membuatku bisa menerimanya, dan ikhlas mencintainya. Hmmm… meski begitu, aku masih tetap mengagumi kamu.
Okey, aku tahu email ini pasti sampai padamu. Dengan sangat, aku pinta agar kamu baca.
Ps:
  1. Wajib datang
  2. Minta nomor telpon

 —

Aihh, mungkin gelar tidak sopan layak disematkan di bahuku. Karena sungguh, aku bahagia mendengar berita pernikahannya, namun di ujung sana, entah mengapa rasanya hati ini bagai pecah. Serpihannya terlempar ke segala arah. Aku tak tahu siapa yang akan memungut serpihannya kelak, dan bersedia merekatnya untuk dijaga sepanjang masa.

Segera ku delete emailnya, berikut membuangnya dari daftar kontakku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s