Jangan biarkan aku sendirian

Sungguh aneh. Kadangkala aku ingin sendiri padahal tengah sedang berada di keramaian. Dan tak jarang pula aku jadi ingin berteman padahal saat itu aku telah memutuskan untuk sendiri. Perasaan demikian kerap muncul, namun aku selalu berhasil menyembunyikannya. Meski agak kentara tentu saja. Sesuatu apa sih yang benar-benar bisa kau rahasiakan? Tapi sejatinya, aku memang penyendiri. Kalaupun terjebak di keramaian, aku selalu mencari-cari cara agar bisa keluar dari perangkapnya. Aku tak begitu betah bertemu orang-orang kalau hanya untuk membicarakan hal-hal yang menurutku tidak penting. Menggosipkan merk dan harga tas yang dipakai para perempuan yang baru saja turun dari becak, atau memaksakan diriku bergabung di komunitas ‘sosialita’ untuk sekedar berbasa-basi tentang keadaan panti jompo dan anak-anak berwajah ‘serupa’. Kuharap kalian bisa lebih jeli membedakan mereka yang benar-benar peduli dan mereka yang ngotot berbuat demi menunjukkan bahwa mereka benar-benar peduli.

Adalah benar bahwasanya aku suka bercerita. Tapi sebisanya aku menghindari mengobrol panjang tentang topik-topik murahan. Sebab itu hanya membuatku mulutku tak berhenti menguap. Tak ada yang bisa kulakukan selain pura-pura tertawa kalau mereka tertawa, pura-pura focus saat mereka serius, dan undur diri ketika mereka berlomba-lomba bersuara besar saat berbantah-bantahan tentang pemerintahan. Masalahnya, aku merasa bingar keramaian bisa menelan seluruh otakku dan melenyapkan kewarasanku. Itulah mengapa aku suka sendiri.

Waktu aku perlu berpikir, aku menuju tempat yang kurasa cukup aman untuk bermonolog bersama Def. Mengadukan segala perkara yang mengusik pikiran, mengeluhkan setiap soal yang membutuhkan jawaban. Meski sering juga Def membisu akibat dari pertanyaanku yang menurutnya tak masuk akal. Pernah pula matanya membola dan keningnya mengkerut karena ia terkejut medengar argumen-argumenku. “menyenangkan sekali karena pada akhirnya cegukanku hilang setelah mendengar apa yang kau katakan barusan. Dan betapa menjengkelkan karena aku telah mendengar ide-ide  gilamu. Namun akan lebih buruk lagi jika kau berniat melaksanakannya.” Ujar Def kelihatan sedikit kesal. Kala itu aku mengajaknya menjelajah Raja Amphat-Papua dengan bermodal pisang setandan.

Def sering membantu jika aku merasa buntu. Saran-sarannya meluncur jitu seperti bom yang dijatuhkan Amerika ke Hiroshima dan Nagasaki. Ceramahnya yang berapi-api, mampu mencairkan semangatku yang tadinya membeku. Guyonannya yang tak slapstick, mampu menyegarkan mataku dari serangan lelah bertubi-tubi. Ide-ide  briliannya membawaku melaju kencang menuju panggung masterpiece, manifestasi dari seluruh mimpi-mimpi.

Hebat nian si Def itu. Namun seperti mana halnya monolog, ketika aku bercengkrama –seserius apapun- pada Def, aku malah mendapati diriku bicara sendiri. Tidak butuh waktu lama mengataiku ‘gila’ ketika orang-orang melihatku bicara, marah, dan tertawa pada diriku sendiri.

***

“aku ingin menikah” kutegaskan keinginan yang mengusikku dua bulan belakangan, sejak ayah mulai sering (lebih tepatnya sengaja) menyebut nama teman-temannya yang mana anak-anak mereka telah menikah. Buru-buru menikah, kupikir.

Def menghela nafas berat seakan-akan ia baru saja mengangkat barbel 30 kg. “apa aku tidak salah dengar?” mata tajamnya seperti pisau, bersiap mencongkel retinaku

“tentu saja tidak jika pendengaranmu masih berfungsi dengan baik” jawabku agak geram. Def tertawa, aku nelangsa. “bisakah kau menganggap bahwa niatku ini serius?” tanyaku lagi. Kualihkan pandang ke jalur lintasan lari yang baru selesai dibangun pemerintah. Umurnya baru tujuh bulan, tapi wajahnya sudah rusak di sana sini. Batu-batu yang ditanam sebagai pagar mencelat keluar, tempat duduk peristirahatan dipenuhi sejumlah nama yang aku yakin ditulis oleh orang yang sedang pacaran, fasilitas olahraga berubah fungsi menjadi stelling tempat pedagang menjajakan jualan. Dan Pemerintah, lepas tangan.

“sukurlah, berarti kau sudah normal.” Ujarnya sambil melirikku. Aku tahu, Def menunggu alasan mengapa aku ‘tiba-tiba’ ingin menikah padahal selama ini aku sangat asik menekuni pekerjaan. Lagipula sepanjang usia, belum ada laki-laki serius yang menjadi teman jalanku.

“pertama, karena perintah Tuhanku dan pesan Nabiku. Kemudian, karena ayah meminta untuk segera mengakhiri kesendirian meski sebenarnya aku tak pernah merasa benar-benar sendiri.”

“kemudian?”

“Im  27th years old, now.”

“selanjutnya?”

“apalagi?”

“aku setuju, bahwa  segala kebaikan adalah suruhan Tuhan dan anjuran Nabi. Juga sudah tepat  saat seorang ayah mendambakan anaknya menikah. Dan perkara usia, bolehlah dijadikan alasan meski untuk itu kita harus duduk berseberangan. Tapi dari tadi, aku tak melihat alasan terbesarmu tentang keinginan untuk menikah itu.”

“ohh…” aku terkesiap, mulutku membulat mendengar komentar Def. Rasa-rasanya aku hendak berlari sejauh-jauhnya, menghindari ocehannya. Apa boleh buat, sejauh apapun aku melangkah, Def selalu berhasil menyamaiku. Kakinya seperti roda-roda kecil pada skateboard. “aku…,” kutekuri ujung sepatu padahal keadaannya baik-baik saja “tak ingin sendiri, Def,” keluhku seiring desah nafas. “Aku benar-benar tak ingin sendiri.”

Kulihat Def tersenyum bahagia. “rupanya kau telah berdamai dengan perasaanmu”,  bisiknya di telingaku. Aku bergidik dan buru-buru menyudahi monolog karena semakin ramai orang lalu lalang sekaligus ngeri memperhatikan gerak-gerikku.

Tuhan,
jangan biarkan aku sendirian
 
jika ia masih di ujung dunia
dekatkanlah jarak agar kami dapat bertemu muka
 
segerakanlah waktu
agar kami dapat menjadi satu dalam syariat Mu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s