Selintas

Benar, aku memang tak hirau ketika kau mengatakan ingin dekat. Benar, aku memang pernah tak acuh ketika kata suka kau ucap. Dan benar, aku memang menolak ketika kau mencoba untuk lebih akrab. Kemudian kau pergi begitu saja, merasa tak pernah terjadi apa-apa.

Aku tahu, kau sedikit kecewa karena tak diterima. Tapi aku lebih tahu, kau hanya hendak mencoba-coba. Seperti judi, kau bertaruh perasaan. Jika orang yang kau sukai mengangguk setuju, maka mission complete. Misi berhasil, hingga kau tak perlu letih menunggu jawaban. Namun bila ditolak, kau lantas tersenyum, menganggap segala telah selesai, tidak perlu menunggu lama, saatnya berlayar ke pulau berikutnya.

Bagimu, mencintai adalah singgah sekejap, bukan menetap. Sedang bagiku, menerima satu permintaan menyangkut perasaan merupakan suatu keseriusan, bukan permainan. Namun yang pasti, ketika aku telah mencintai, maka itu tak kan selesai.

Aku sangat asing dengan hubungan pacaran, putus sambung, pacaran menanti perkawinan, atau pula pacaran islami, seperti mana hal-hal tersebut telah sudah berlaku umum di lingkunganku. Sebetulnya, kerap telingaku mendengar demikian. Namun untuk mempraktekkannya, lahir dan batin tak bisa kulakukan. Aku sangat menghargai penciptaku, menghargai diriku, juga keluargaku. Bagiku, sangat sulit mengkhianati ketiganya. Kuharap Tuhan ikut menjaga prinsip ini, karena lah Ia Maha membolak-balikkan hati.

Dan, ketika kali pertama kau menyatakan perasaan, sungguh aku terkejut. Tak ada kata yang bisa kuberikan untuk menjawab permintaan sekalipun hanya ‘ya’ atau ‘tidak’. Aku perlu berpikir panjang, membuat pilihan, sesaat kemudian memutuskan. Terlalu rumit? Ya, begitulah. Kupikir di luar sana, banyak perempuan sepemahaman denganku. Aku, barangkali juga mereka, tak pernah terlintas maksud buruk untuk menjadikan cinta dan perasaan sebagai bahan percobaan. Kami hanya ingin meyakinkan diri bahwa lelaki yang akan kami cintai, tak akan menyakiti. Kami perlu ber-monolog untuk sekedar bertanya dalam hati, apakah kami memang pantas dicintai dan mencintai. Untuk itu, kami butuh waktu.

“kamu memang baik, dan saya suka. Tapi untuk lebih dari itu, saya belum berani memberi jawaban apapun. Hanya satu hal yang perlu kamu ketahui, saya bukan hendak mencari pacar, kendati menurut pikirmu pacaran sebatas berkirim pesan sayang serta syair-syair asmara merupakan hal biasa. Maaf…” akhirnya, keterangan itu yang dapat aku berikan, selang dua menit setelah pesan cintamu aku terima.

Kau…, jika lah benar-benar suka, tak kan surut langkah meskipun diganjar beribu noktah merah. Lagipula, jika kau mau teliti, sedikitpun tak ada kata menolak mutlak dalam setiap pernyataanku bukan? Tapi di sisi lain, mungkin kita memang tak berjodoh. Dan kejadian ini memberiku jawaban, mengapa lelaki sepertimu pantas kuendapkan. Sungguhlah Tuhan Maha Adil hingga aku dan kau tak perlu lama berpayah-payah dalam kisah.

Hasta La Vista amigos

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s