Membahasakan perasaan

Inilah yang bisa kutangkap kala ayah menangis tiap tahajjud. Inilah mungkin ungkapan rasa betapa beliau kehilangan sosok yang sangat dicintainya, alm. Emakku. Lewat puisi, kucoba membahasakan perasaan, sekalipun tak cukup pantas kata terwakilkan.

Kau lah itu,  bagiku
 
Ketika tanah mulai menjadi lebih dingin di bawah matahari yang mulai terbenam,
aliran udara bergerak turun,
sekawanan camar berarak pulang,
senandung alam sayup terdengar,
berarti telah sampai padamu selembar pesan yang kuuntai  pada bait-bait doa,
kurangkaikan pada waqaf demi waqaf Quran,
untuk lebih kau mengerti,
bahwa rinduku tak mampu digerus waktu,  
tak kan  lapuk dikerat  ngengat,
tak pernah selesai meski maut tak bersahabat.
 
Sewaktu waktu,
jika ada berkah terbaik yang  hadir  sepanjang hidup,
kau lah itu,  
bagiku
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s