fajar baru di kereta api

Kalau tidak karena kehadiran anggota baru dalam keluarga kami, ditambah alasan menjenguk yah, mungkin aku tidak akan pulang secepat ini. Sebab aku sudah mudik sewaktu lebaran dua bulan lalu. Cukuplah yang demikian itu menjadi pelepas rindu pada keluargaku. Lagipula aku masih tinggal di Indonesa, di Kota Medan, di Provinsi yang sama, Sumatera Utara. Biaya telpon pun masih murah dengan tarif rata-rata.

Kereta api lah menjadi penyebab betapa malasnya aku menjenguk kampungku. Transportasi bercerutu peninggalan Belanda itu sudah sangat tua. Keadaannya sangat memprihatinkan. Bising, panas, busuk, kotor, dan toiletnya sejorok toilet sekolah SD ku dulu. Segala bentuk yang mengganggu kenyamanan, ada padanya. Komplit. Bayangkan, aku kerap menahan HIV (hasrat ingin vivis) gara-gara tak tahan dengan baunya. Berkelahi dengan penumpang lain yang hobi menyerobot tempat duduk. Berdesak-desakan dengan pengamen dan pengemis. Disenggol para pedagang yang kerap lalu lalang menjajakan jualan mereka. Malangnya, begitu banyak tersimpan kekurangan, kereta api ini masih saja digunakan. Sepanjang perjalanan dari Medan ke Tanjungbalai, aku hanya duduk manis di seat 7A kompartemen hijau tua. Tanpa beranjak sedikitpun meski bokongku rasanya sebentar lagi akan mengeluarkan asap. Kugoyang-goyangkan kaki, ku geser-geser pantat ke kanan ke kiri demi mengusir pegal. Namun, kelebihan dari kereta api paling ekonomi ini adalah ongkosnya yang cuma Rp. 14.000,-. Lebih hemat daripada naik bus atau naik mobil pribadi. Begitulah seperti kata pepatah, ada rupa ada harga.

Kompartemen ini tak begitu lebar untuk aku bisa menselonjorkan kaki. Di depanku, duduk dua orang ibu-ibu sedang makan nasi kotak. Di kananku, duduk seorang laki-laki berkemeja lengan panjang berwarna kuning gading. Kaki kami –aku dan ketiga peghuni kompartemen- kadang saling menyenggol tanpa kami sadari. Saing sempitnya, untuk sekedar tidur pun aku harus menundukkan kepala di atas paha dan menjadikan tas sebagai penyangga. Keadaan demikian harus kurasakan selama lima jam di dalam kereta api yang jalannya lambat seperti labi-labi. Sambil menghayal tentu saja.

Tiba-tiba, dari arah belakang  tempat dudukku terdengar suara pegawai pengambil tiket. Biasanya kalau sudah begini, para penumpang riuh tak tentu arah. Masing-masing mengeluarkan tiket bagi yang beli tiket, dan mengeluarkan uang bagi yang tak punya tiket. Istilahnya bayar di atas. Tapi kali ini keadaan seperti itu tak terdengar lagi. Ribut-ribut pegawai pun tak ada. Mereka terlihat sopan dan keren-keren pula. Masih muda, berparas tampan menyenangkan, serta berbadan atletis.

Kupikir, inilah momen terbaik sepanjang perjalananku naik kereta api. Rasa-rasanya fajar baru telah menyeruak di sini. Meski aku selalu gagal menikmatinya, namun kali ini terbayar oleh wajah-wajah rupawan yang membuat mataku tak mampu berkedip.

Mungkinkah para pegawai sepuh itu sepenuhnya sadar bahwa sebenarnya mereka tak lagi layak bekerja di lapangan? Sukurlah jika demikian. Karena memang sudah sepantasnya mereka duduk di belakang layar, dan memberikan kesempatan kedudukan bagi yang muda. Selain itu, agar penumpang kereta api paling ekonomi tak merasa dirugikan, dan bolehlah sedikit gembira karena dilayani wajah-wajah tampan nan rupawan.

Ahh, aku sempat berharap agar rel tak berujung, halte lenyap, dan waktu melambat. Sayangnya peluit telah dibunyikan. Memaksaku tersadar untuk segera turun di halte tujuan…

2 pemikiran pada “fajar baru di kereta api

  1. KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANGSuasana di Kereta Api Ekonomi AC Majapahit jurusan Pasar Senen-Malang, Selasa (14/8/2012) malam, lengang dan tidak terlihat penumpang berdesakan pasca-penerapan sistem satu karcis satu tempat duduk PT Kereta Api Indonesia. Sistem baru itu diharapkan menjadi jalan pembuka pembenahan moda transportasi kereta api.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s