Ketika aku jatuh cinta

Ketika aku benar-benar menyukai seseorang dan yakin untuk hidup bersama selamanya dengannya, tidak butuh waktu lama bagiku untuk mencintainya. Kupikir hal demikian tidaklah sama dengan agresif. Karena aku punya tujuan yang bukan sekedar ‘long time relationship’ , akan tetapi berazzam membina bahtera rumah tangga di atas pondasi kalamullah, menjadi keluarga sempurna dalam berbagai kekurangan dan kelebihan.

Murahan? Tidak! Hal ini kusebut dengan kebebasan pemikiran dari kungkungan penjara tradisi yang sengaja dibangun manusia tanpa pengetahuan dan etika. Adalah keberanian menentang tembok aturan yang sudah berumur ratusan tahun. Harus diruntuhkan.

Di sini, bukanlah aku hendak mencari-cari perkara tentang laki-laki dan perempuan yang memang aku sadari perbedaan antara keduanya luas terbentang, serta tercipta jurang ketidakadilan yang lebar menganga. Bukan berlagak menjadi provokator yang mengajak menembus batas patrilineal. Tidak pula mengumpulkan kemarahan melalui orasi feminisme. Untuk apa? Agar disanjung banyak orang dan menjadi icon kebeasan? Atau untuk mengkilapkan kepahlawananku? Tahukah kau bahwa sebagian orang tak ada yang meminta jadi pahlawan, kadang terjadi begitu saja.

Perempuan seusiaku yang minim pengalaman dan ilmu, tak memiliki kualitas ‘mampu’ untuk berbicara seperti itu. Lagipula, ada waktu dan tempatnya untuk aku berpanjang-panjang bicara mengenai perempuan, pengaruhnya, peranan serta tindak lakunya memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban terhadap laki-laki.

Yang jelas, aku bercerita tentang kebebasan sebagai manusia yang hidup bermasyarakat, sebagai perempuan yang berani melakukan apa yang diinginkan, dengan catatan tidak merugikan khalayak ramai. Aku berjuang dengan pikiranku, kemudian dengan hatiku.

Terus terang, aku akan menunjukkan rasa inginku padanya, kemudian meminta perantara yang cukup bijaksana menjadi wakil untuk menyampaikan maksud tujuanku. Jika diterima, itu adalah salah satu dari banyak kado terindah dari Tuhan yang tak akan pernah bisa kuhitung. Jika ditolak, mungkin pertemuan belum digariskan padaku dan lelaki tersebut, tidak saat itu. Aku percaya pada setiap rencanaNya. Meski aku juga kerap disinggahi penyakit liberal yang osteoporosis, yang timbul akibat sakit hati, arogant, miskin referensi, serta enggan memahami skenarioNya. Bagiku, Tuhan adalah sutradara terbaik sepanjang zaman. Penghargaan tertinggi atasNya adalah Maha.

Akhirnya, padaMu kutitipkan lelaki yang kelak halal kucintai. Yang mampu menjadi pemimpin bijaksana, imam yang cerdas dan bersahaja, lelaki yang selalu membuatku cemburu akan cintanya pada Tuhannya, lelaki yang mampu membuatku resah jika tak melihat wajahnya, lelaki yang padanya cinta seutuhnya.

Ahh, rasanya aku ingin menyanyikan lagu ‘When i fall in love’ nya Cellin Dion dan Cliff Griffin.

“When I give my heart
It will be completely
Or I’ll never give my heart
And the moment I can feel that you feel
That way too
Is when I fall in love with you”…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s