Pelangi di Rumah Genteng Merah

Sejak tadi aku mencari Suci di setiap sudut ruangan rumah kecil ini. Rumah bertipe minimalis berukuran 30×16, bercat kuning gading, bergenteng merah. Tidak besar, namun cukup nyaman karena memiliki halaman yang ditumbuhi rumput gajah. Letaknya menjorok di salah satu jalan kecil, di desa paling desa di kotaku. Jauh dari perkotaan, tersembunyi dari hingar bingar kenderaan, terselip di antara kebun kelapa seluas dua hektar dan tanah kuburan milik ayah. Genteng merah menjadi petunjuk bila ada orang-orang bertanya di mana aku berada. Begitulah akhirnya. Genteng merah tak sengaja menjadi nama, melekat erat tanpa selamatan, tanpa pesta.

Sebenarnya rumah genteng merah juga milik ayah. Tapi sudah ia hibahkan padaku. Lebih tepat bila kukatakan, terpaksa ia berikan karena tidak tahan ditodong terus-terusan. Aku memang meminta ‘paksa’ salah satu rumah dari 50 rumah kontrakan ayah. Kebetulan rumah genteng merah belum berpenghuni Kebetulan rumah genteng merah belum berpenghuni. Aku tahu, sama sekali ayah tidak keberatan bila aku meminta rumah kontrakannya, tipe apapun itu. Toh beliau juga sedang membangun 4 unit rumah lagi. Hanya saja ia amat terkaget-kaget ketika kujelaskan bahwa aku punya maksud dan tujuan menjadikan rumah genteng merah sebagai rumah pendidikan. Terlonjak ia dari duduknya.

“tak salah dengarkah telinga ayah ini, Nak?” seru ayah seraya melipat koran dan meletakkannya di atas meja.

“meskipun sudah lima puluh-an, tapi ayah belum cukup tua untuk menjadi tuli” jawabku menyertakan kalimat pujian sambil nyengir kuda agar ayah takluk. Ayahku tak terbiasa mendengar kata tua. Sensitif kuping besarnya.

Dengan gerakan memutar yang dibuat sedemikian rupa agar menimbulkan kesan dramatis, ayah menyeruput kopi dalam-dalam. Padahal sudah tinggal ampas.

“sungguh tak menyangka ayah kalau rumah genteng merah yang banyak diincar orang itu akan dijadikan rumah pendidikan” tambahnya kemudian. “halamannya cukup luas, catnya masih baru belum ada yang lepas, modelnya pun mirip-mirip rumah kompeni. Kalaulah dirupiahkan, sewanya bisa lima juta per tahun. Dan Nana boleh membelanjakan uangnya ke manapun Nana mau”.

Ayah memanggilku Nana. Nama itu kubuat sendiri sewaktu hendak didaftarkan emak ke sekolah Taman kanak-kanak, di mana ketika itu emak mentasbihkan namaku menjadi ‘Ana’. Aku protes. Kuhujani emak dengan interupsi sebab aku tak sepakat dengan nama ‘Ana’. Kubuat alasan selogis-logisnya bahwa aku akan sakit malaria bertahun-tahun jika dipanggil Ana. Emak acuh. Aku mengancam kalau aku tidak mau sekolah. Emak bergeming. Atau aku tak mau mengaji. Emak merinding. Akhirnya aku dan emak mencapai kata mufakat setelah perdebatan alot kami di depan gerbang sekolah TK. Mulailah saat itu aku dipanggil Nana, hingga kelak aku berniat ingin menukar namaku lagi.

“urusan belanja, lain perkara ayah. Nana ingat ayah pernah janji kalau Nana boleh minta rumah itu”. Kukeluarkan jurus maut. Menundukkan kepala, menekuri ujung jeans belel, plus suara serak hampir tak berdaya.

“tapi,”

“tanpa ‘tapi’, ayah” potongku cepat dengan penekanan kata ‘tapi’, memaksa ayah mengerutkan dahi pura-pura mengingat. “perjanjian kita saat itu tanpa tapi”.

“inilah agaknya arti telinga kiri ayah yang berdengung sejak tadi”. Ayah memegang-megang telinga kirinya berlagak cenayang. Menurut hasil pengamatannya, jika telinga kiri berdengung, maka akan ada kabar buruk menimpa. Meski tak pernah ia percaya pada teori yang dibuatnya sendiri, tapi ayahku ini sangat aneh. Senang hatinya membuat orang terbawa aura mistis. “apa boleh buat, perjanjian kita” ia menghela nafas berat“ tanpa tapi”, ujar ayah kemudian.

Mission complete! Menjadikan rumah Genteng Merah sebagai rumah pendidikan, petak belajar bagi anak-anak yang tak mampu mengenyam bangku sekolah. Wadah berkumpul bagi siapapun yang ingin belajar, mengajar dan diajar.

Aku pun melenggang gembira sambil menyanyikan lagu potong bebek angsa. Semakin aku menyadari bahwa rupanya ‘negosiasi’ adalah bakatku sejak kecil. Tak sengaja aku temukan bakat alamiahku sewaktu menonton film ‘The Negotiator’. Perangai pemain film itu serupa dengan aksiku. Ya, ahli negosiasi. Senyum-senyum sendiri aku membayang-bayangkan kata negosiasi yang bagiku sungguh romantis. Andai ayah tahu, betapa keren anak gadisnya ini.

***

Hari hampir malam. Matahari akan tenggelam berganti senja temaram. Cahayanya khas, semburat merah, kuning keemasan. Manis menyilaukan. Aku tak pernah melewatkan senja. Sekalipun waktuku tak banyak, senja akan kucuri, kusimpan dalam saku dan kantong kemasan. Cukuplah untuk stock besok, di mana aku akan bertemu senja-senja lainnya.

Sudah saatnya aktivitas di Genteng Merah diistirahatkan. Beres-beres. Menempel figura bergambar ayah memakai baju taqwa dan kopiah, merapikan taplak meja, menyusun berkas dalam file kabinet, terakhir, menata dapur. Sekian untuk hari ini.

Tapi di mana anak itu? Bisa-bisanya ia menghilang seperti di telan bumi. Aku sudah berlari-lari mencari kesana kemari. Berputar-putar mengitari ruangan demi ruangan gedung ini. Melongok ke bawah kolong tempat tidur, membongkar isi lemari makan, kugoyang-goyangkan juga kipas angin, kurogoh dust bag belanja sapa tau Suci terselip di tumpukan kubis dan bawang yang kupindahkan dari lemari es rumah ayah. Ajaib! Ia tak juga ku temukan.

Aku sampai di perpustakaan mini. Ruang favoritku setelah kamar mandi. Ruang seluas 3×4 tempat aku menyimpan koleksi buku-buku yang kubeli sewaktu kuliah di Medan. Juga terdapat buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan universitas yang sampai detik ini belum kukembalikan.

Hei, aku tidak mencurinya. Aku hanya meminjam tanpa izin. Tapi aku berniat mengembalikannya. Soal waktu, tak bisa kubicarakan. Yang pasti bukan sekarang.

Kulihat terbentang buku sejarah hidup Che Guevara seorang pemimpin gerilya Kuba, di atas meja. Tepat pada halaman ‘surat Che kepada Fidel Castro, Hasta la victoria siempre! (Maju terus menuju kemenangan)’.

Di desa terpencil ini, pemuda mana lagi yang tertarik membaca buku pergerakan itu selain aku? Di era fashion, zaman di mana penampilan lebih utama ketimbang isi kepala, pun di masa K-pop, episode di mana terlihat centil dan genit lebih legit dari pada berprilaku matang dan dewasa. Buku itu sama sekali tidak ada romantisnya untuk seukuran penghuni Genteng Merah. Cerita perjuangan seorang lelaki yang resah dikelilingi hidup nyaman, pada akhirnya mengambil keputusan bergerilya bersama rakyatnya. Che, lelaki garang namun penyayang. Aktivis bersahaja yang selalu dikenang.

Tergesa aku berjalan ke hutan kecil yang jaraknya hanya 100 meter dari Genteng Merah. Firasat membawaku ke sana.

Mengenai firasat ini, seringkali hasilnya terbukti dan jitu. Rupanya, selain berbakat menjadi ahli negosiasi, aku juga berbakat jadi ahli nujum. Ditilik dari kombinasi antara ahli negosiasi dan ahli nujum, agaknya sudah pantas aku bekerja di Badan Intelijen Negara. Kemudian, saking briliannya cara kerjaku, FBI dan CIA berebut merekrut. Tapi dikarenakan ide-ide cemerlangku yang kerap membuat Indonesia terpana, Kepala BIN berang tak terkira. Maka disembunyikanlah aku ke suatu daerah rahasia. Dalam perjalanan menuju daerah tersebut, segerombolan pasukan berseragam hitam-hitam yang entah berasal dari satuan mana berusaha menculikku. Kudengar desingan peluru dan magasin meletus riuh di angkasa. Sepengetahuanku, pastilah mereka saling serang. Aku tegang tak dapat melihat keadaan di luar karena disekap di dalam Rubicon abu-abu. Jantungku berdetak satu-satu. Nyaris hilang. Mereka menembaki Rubicon di mana aku terduduk pasrah dan lesu. Sialnya, saat ketegangan berlangsung, pikiranku malah tertuju pada nasib Rubicon yang lecet dan bolong-bolong bekas peluru. ‘mobil mahal idaman yang belum sempat kubeli, tapi sudah kunaiki meski caranya sungguh tragis’ gumamku dalam hati. “Doorr!” Satu tembakan tepat mengenai pelipisku. Darah tumpah ke baju, aku tersandar ke jendela. Mati.

Bakat ketiga, tukang khayal! Dari semua kombinasi antara ahli negosiasi, ahli nujum dan ahli khayal, lengkaplah sudah sarat menjadi orang senget.

***

‘Hutan’ kebun kelapa milik ayah semakin rimbun, digantungi buah-buah kelapa muda yang menunggu antrian dijual ke kilang minyak Koko Aweng. Aku ditugaskan ayah sebagai kasir meski sudah keberitahukan berkali-kali bahwa bagiku hitung-hitungan laksana hantu. Ayah tak mau tahu. Pohon kelapa ikut-ikutan setuju.

Akhirnya, Suci yang sedari tadi kucari bagai emak-emak blingsatan mencari anaknya yang hilang di pasar malam, duduk bersandar memeluk lutut. Tepat benar dugaanku, ia berada di kebun ayah, diapit pohon kelapa dari arah timur, selatan, barat hingga utara. Sendiri.

“Hei, kenapa tidak memberitahuku kalau kau ada di sini” sergahku masih dengan nafas tersengal-sengal. Badanku sudah semakin berat untuk diajak berjalan lama. Ada dua pager di punggung belakang, sekarung beras di perut, serta pelampung melingkar di pinggang. Over capasity. Tak hanya butuh lari pagi, tapi angkat beban 10 kilo tiap hari.

“kau, tidak apa-apa?” lanjutku saat melihat Suci buru-buru menyeka air mata. “maksudku, apa kau mau bercerita?” ralatku cepat mengambil posisi duduk satu meter di sebelah kanannya.

Hening. Gendang telingaku hanya dapat menangkap suara-suara hewan. Kicau merdu burung merbuk di balik semak ilalang. Cicit tupai yang berlari memanjat batang kelapa. Desis kuat kumbang badak yang mungkin sedang berada di bawah ancaman pemangsa. Kesemua bunyi itu melahirkan alunan simfoni tanpa korp musisi. Indah. Tuhan benar-benar luar biasa menciptakan makhluk dengan rupa-rupa suara.

Kupikir Suci sedang berusaha mengumpulkan kata-kata untuk bicara padaku..

“apa kau bisa menyimpan rahasia jika aku bercerita?” tanya Suci.

“tak tahukah kau rupanya kalau aku ini bekerja sebagai Intelijen negara?”

Suci mendelik cepat hingga membuatku terperanjat. Bisa-bisanya aku terkejut dengan ucapanku sendiri. “maksudku, sudah satu bulan ini aku memimpin Genteng Merah. Sebagai asistenku, semestinya kau paham tabiatku” aku mengedit bicara agar kegilaanku tak terdeteksi.

“bagiku,” lanjutku perlahan “sudah terlampau banyak cerita yang tersimpan dalam kotak rahasia. Sampai-sampai aku lupa mana cerita rahasia, mana cerita yang bukan rahasia. Kau tahu, pada kenyataannya manusia lebih sering membuat kesepakatan rahasia terhadap dirinya sendiri, bukan orang lain. Namun, akan terasa lebih menyakitkan jika kau pura-pura tak melihat gambar masalalu mu, akan terasa lebih menyedihkan kalau menutup telinga dari cerita lampau mu, sebarapa burukpun itu” kujelaskan panjang lebar pengamatanku mengenai rahasia.

“tapi dengan berahasia pada sendiri bisa membuat orang itu nyaman kan?”

Sekilas aku melihat kilatan cahaya luka di mata Suci. “betul. Nyaman yang hanya bertahan di hari ke sekian. Sifatnya sementara saja. Kamuflase namanya”.

“setidaknya saat ini rahasia adalah obat mujarab untukku. Penawar racun.”

“Sampai kapan kau bertahan mengelabui diri sendiri, membohongi perasaan sendiri walaupun terbit sebongkah rasa sesak dalam dada? Kian hari sesak memuncak,  lambat laun meletus menumpahkan lahar panas yang tidak hanya membakar dirimu, tapi juga dapat menenggelamkan orang-orang di sekitarmu.

Suci terdiam, aku pun demikian. Lagi-lagi keheningan hadir di antara kami, aku dan Suci. Aku memilih menunggunya bicara sambil berbaring di rumput. Kami adalah dua perempuan yang sangat berbeda baik dari latar belakang maupun keinginan. Aku anak ketiga dari selusin saudara, sedang Suci anak tunggal, satu-satunya. Aku penyuka hujan, ia berharap panas sepajang tahun. Aku penikmat kopi, ia hanya minum secangkir teh manis tiap hari. Aku mengidolakan ayah, ia jijik pada ayahnya, bahkan berjengit ketika mendengar sebutan ‘ayah’. Aku banyak bicara, ia pendiam, dan baru akan bicara jika ada yang bertanya.

Semilir angin sepoi-sepoi membelaiku, seperti belaian emak tatkala ia hendak menidurkanku dalam kain selendang. Tiba-tiba aku mencium gelagat tidak baik. Betul saja. Suci angkat bicara disaat aku hampir tertidur.

“aku tidak lagi Suci” bisiknya pelan meski samar-samar masih busa kudengarkan.

“apa kau berniat ganti nama sepertiku? Kalau itu, tenang saja, aku akan membantumu mencarikan nama baru” jawabku malas-malasan ditutup oleh kuap. Suci bicara saat mataku segaris lagi akan terpejam. Mengantuk berat.

“aku pernah diperkosa” ujarnya membuatku tersentak dari tidur-tidur ayam. “satu tahun lalu”. Sedetik kemudian kulihat bulir bening menggenangi pelupuk matanya, siap-siap tumpah. Jawaban Suci membuatku diam, tak lagi bertanya. Kubiarkan ia bercerita semampunya, sebanyak kata yang ia cipta.

“Dulu, kejadiannya tiga tahun yang lalu, ayah memperkosaku”. Aku tertegun mendengar pengakuannnya. Keningku berkerut, kupingku panas dan wajahku memerah. Tapi Suci terlihat santai, seperti tak ada beban di pundaknya. Aku heran sekaligus takjub, begitu rapat kesedihan ia sembunyikan. Rapi.

“Sore sepulang sekolah, seperti biasa aku langsung ke rumah. Ganti baju dan makan. Sebelum tidur sore, aku lebih dulu membersihkan rumah, mencuci piring, dan menjemur pakaian yang kucuci malam sebelumnya. Itu kegiatan rutinku sehari-hari”. Suci tersenyum lirih sambil menatap lautan hijau kebun kelapa dengan pandangan kosong. Sesekali ia menyibak rambut kakunya. “rumahku tak besar. Makanya mudah bagiku menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah dalam waktu satu jam. Kami hanya tinggal berempat di rumah itu. Aku, nenek, tante, dan ayahku yang pulang sekali seminggu. Ia lebih sering di luar. Aku tak tahu apa pekerjaannya. Tapi kata nenek, ayahku nelayan penangkap ikan”.

Senyap.

“ibuku, sudah 8 tahun ia di Malaysia. Ia meninggalkanku saat berumur tiga tahun karena bekerja sebagai TKI. Aku tak pernah melihatnya, tapi menurut orang-orang dia cantik”.

Sunyi.

“perih rasanya menuturkan peristiwa itu kembali. Walau sudah tiga tahun berlalu, aku tak pernah bisa lupa. Padahal sudah kucoba memadam-madamkan kenangan agar tak muncul ke permukaan”. Suci memukul pelan keningnya. Ia terisak dalam. “aku benci ayah. Sangat…” . Aku cukup mengerti betapa dalam pilu menggerogoti tubuhnya. Aku pun melihat parut luka yang lebar menganga. Aku mulai paham, bukan karena ke-dekilan-nya membuat Suci  tak manis. Akan tetapi, pahit getir masa lalu telah menggumpal dan berkabut, menutupi hampir seluruh tubuhnya yang rapuh.

“laki-laki itu masuk ke kamarku dalam keadaan mabuk. Ia mendorongku, membuatku terhenyak ke tempat tidur. Aku berusaha melawan, meronta-ronta agar lepas darinya. Tapi semuanya terjadi begitu cepat”. Suci tertunduk berlinang air mata. “Ia menampar dan membenturkan kepalaku ke dinding kayu rumah kami. Aku tak sadar apa yang terjadi selanjutnya hingga nenek menemukan tubuhku dalam keadaan tak berpakaian”. Kali ini Suci menangis tersedu-sedu. Aku memilih bisu dan tak melakukan apa-apa. Karena tanpa kusadari, rupanya air mataku telah jatuh ke baju. Kenangan 3 tahun silam itu membawaku ikut larut bersamanya. Kubiarkan ia menyelesaikan tangisannya. Meski tak dapat menutup luka, meski tak mampu mengembalikan apa-apa yang telah dirampas darinya, tapi paling tidak ia bisa melampiaskan kesedihan melalui tangisan yang sejak tiga tahun ia tahan.

Rupanya banyak rahasia dan kejutan dalam dirinya yang tak sempat tersibak. Suci menyimpannya dalam safety box berkunci ganda, bersandi angka acak, hanya ia sendiri yang mengetahuinya. Nyaris sempurna.

Ahh…, sungguh mengerikan hidup ini kadang-kadang. Di saat kau butuh seorang ayah untuk melindungimu dari permainan hari, rupanya ia tak lebih dari pemangsa jalang yang siap menguliti. Di saat kau butuh seorang ayah untuk mengajarkanmu menghadapi tantangan hidup, rupanya ia serupa setan yang selalu membuat cahayamu redup.

***

Bulan di atap rumahku, bentuknya persis seperti bulan sabit di atas kubah mesjid. Bedanya hanya dari cahaya. Yang satu cahayanya berasal dari Tuhan: sangat terang, dan satunya lagi berasal dari PLN, redup. Terkadang seperti lampu diskotik. Hidup-mati-hidup-mati. Boleh jadi petugasnya tak niat menyediakan listrik. Padahal mesjid itu selalu membayar tagihan listrik tepat waktu. Mustahil ada tunggakan.

Di bawah bulan tepatnya disamping jendela kamar, aku duduk serius menekuri  netbook. Aku sedang merancang dan menulis keperluan di Genteng Merah. Bodohnya, tak sebaris kalimat pun meluncur dari tanganku. Malah Suci bermain-main dalam kepala. Pikiranku dikuasai Suci sejak senja tadi kami berpisah di hutan kebun kelapa.

Aku mengenal Suci dua bulan belakangan ini. Saat itu, aku berencana mendirikan rumah pendidikan bagi anak-anak yang ingin belajar. Mengaji, membaca, menari, menjahit, menulis, melukis, menyanyi, apa saja. Yang penting belajar. Aku ingin menghadirkan generasi-generasi tangguh, pejuang, dan cerdas menghadapi tantangan zaman, menemukan pemuda-pemuda dari sudut kampungku. Walaupun untuk itu aku harus bekerja ekstra keras dan berpikir lebih cadas. Aku yakin pasti bisa. Untuk niat ini, aku sangat yakin Tuhan mengangguk setuju.

Berkaca pada rencana senget itu, aku pasti membutuhkan seorang asisten untuk membantuku meng-handle kegiatan di rumah Genteng Merah. Kubuatlah iklan menggugah di depan pagar rumah ayah. ‘butuh asisten untuk pertualangan ke negeri impian’ begitu bunyinya. Memprihatinkan sekali, dari hari pertama sampai hari ke empat, nihil. Tak ada yang mendaftar. Jangankan mengantar lamaran, bertanya pun tidak. Hingga memasuki hari kelima, datanglah seorang perempuan berambut kaku umurnya kira-kira lima tahun di bawahku. Berparas India, kulitnya coklat, rahang lebar dan kokoh, mata bulat serta hidung bangir. Namun sayang sekali, penampilannya yang kusam dan tak terawat, berhasil menyembunyikan kemolekannya. Kuku-kuku tangannya pun hitam. Selangkah lagi, masuklah ia dalam kategori dekil. Tapi wajahnya ramah. Ia tersenyum padaku, mengulurkan tangan, menyebutkan namanya, ‘Suci’ ujarnya seraya memamerkan gigi-gigi kuningnya.

Gaya urakan dan tak membawa berkas lamaran pula, menjadikan bulu kudukku meremang, protes pada perempuan di depanku. Lantas aku bisa apa? Aku tak punya pilihan sebab tak ada pelamar yang datang meski sudah kupampangkan iklan menggugah dengan tulisan caps lock di bold. Mungkin Tuhan telah mengantarkan seorang perempuan udik ke rumah ayah, untuk menjadi asistenku. Aku harus berdamai, setidaknya perempuan udik di depanku bisa kusuruh bersih-bersih.

Tanpa wawancara, no application, tak ada tes kesehatan apalagi TOEFL, langsung bekerja. Resmilah Suci menjadi asistenku. ‘Tok, tok, tok’, tiga kali ketok palu.

***

“Hei, apa kau tahu akan hadir pelangi setelah rinai gerimis?” tanyaku mengalihkan pandangannya dari burung merbuk yang bertengger pada ranting patah. Pagi ini, sudah hari ke lima di bulan Oktober. Waktu begitu cepat berlalu. Hanya rem Tuhan yang bisa menghentikan rodanya berputar. Aku dan Suci masih sibuk bekerja di Genteng Merah. Menyiapkan segala keperluan belajar-mengajar sebelum ayah menggunting pita resepsi, sebelum aktivitas di Genteng Merah resmi dimulai.

“Iya, tahu, tapi apa memang zahirnya begitu?”

“tak selalu memang”  sahutku mengambil posisi duduk di sampingmu, di ruang belakang tempat menyimpan perlengkapan melukis. “tapi hujan dan pelangi adalah dua keadaan alam yang mampu membuatku tenang, setelah senja tentu saja”.

“dan ketenanganmu tergantung pada hadirnya pelangi setelah rinai gerimis?” Suci memiringkan kepala menolehku. Mata kami beradu. Kulihat sorot matanya tak seredup dulu. Ia juga sudah mulai banyak bicara. “bagaimana jika tak ada pelangi?”

“pelangi pasti ada”. Aku tersenyum padanya. “Pelangi tetap ada sekalipun panas sepanjang hari, ataupun malam tiba.

Matamu menyipit, alismu bertaut, menyatu. Jika sudah begitu, pastilah kau menyimpan banyak tanya yang hendak kau lemparkan. Aku sudah hafal tanda itu.

“mari kuperlihatkan!” Suci mengamatiku seksama. Kutarik cincin bermata putih yang menempel di jari manis tangan kiri. Cincin pemberian ayah di hari ulang tahunku. Kudekatkan cincin dengan sinar matahari pagi. Sinar yang menimpa permata di cincinku memantulkan ragam cahaya berkilauan.

“pelangi!” seru Suci dengan mata berbinar. Ia tersenyum. Kulihat matanya berkaca-kaca. Tidak! Kali ini bukan duka. Tapi ada setitik bahagia terpancar dari wajah tegarnya, dari senyum lugunya.

“kita bisa menciptakan pelangi sendiri, melahirkan berupa-rupa warna yang membuat hidup lebih indah. Tak ada yang bisa merenggut pelangi asal kita terus mempelitur semangat dan tegak berdiri”.

Suci tersenyum mengangguk setuju. “bagaimana kalau rumah ini kita namakan Sanggar Pelangi?” tanya Suci padaku.

Aku terkesiap, terlonjak kegirangan. Sekali lagi aku dikejutkannya dengan ide dadakan mengubah Genteng Merah menjadi Sanggar Pelangi. Kugumamkan nama Sanggar Pelangi berulang-ulang. Sungguh lagak bukan buatan nama itu di telingaku.

“Sanggar Pelangi” serempak aku dan Suci menyebut nama itu. Aku tersenyum melihatnya. Tanpa ia tahu, aku mendoakannya agar selamanya dihujani kebahagiaan. Doa yang diam-diam, dari lubuk hati yang paling dalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s