di tangan para pemberani

Ini bukan mati biasa. Akan tetapi mati gantung diri karena –merasa—tak lagi kuasa memenuhi kebutuhan ekonomi. Melihat kebelakang, mati bunuh diri bukan lagi suatu hal mencengangkan. Sebutannya adalah: sudah lazim. Itu karena kerap kali aku mendengar berita tentang orang bunuh diri. Baik itu karena alasan cinta, ekonomi, paranoid berlebihan, kalah dalam ujian atau pertandingan, berada dalam tekanan, keyakinan yang aneh plus mengherankan dan sebagainya. Dengan penyebutan lazim ini, kupikir sahabat juga sepakat.

Berita bunuh diri yang akan kukabarkan ini berasal dari Medan, Sumatera Utara, Negara Indonesia, –dimana Presidennya Susilo Bambang Yudhoyono, Menko Perekonomian: Hatta Rajasa, Menko Kesejahteraan Rakyat adalah Agung Laksono— seorang lelaki tua, kira-kira berumur 63 tahun, sehari-hari berprofesi sebagai tukang becak, mengakhiri hidup dengan gantung diri di kamar mandi Mushalla depan rumah tempat ia biasa sembahyang. Almahrum gantung diri dengan seutas tali tambang berwarna biru. Menurut istrinya, almahrum sudah capek dengan penyakit asma akut yang dideritanya, sedang untuk berobat, ekonomi tak mencukupi.

Berita tragis ini terjadi hari Selasa lalu. Senin sebelumnya, seorang lelaki 37 tahun, juga bunuh diri akibat tak tahan diomeli istri yang meminta almahrum mencari kerja. Lagi-lagi karena ketiadaan ekonomi. Sangat miris tentunya, dimana harga sembako lebih berharga ketimbang nyawa. Aku paham,–kupikir begitu juga kalian- amat sangat paham bahwa rakyat Indonesia –tidak terhitung anggota DPR/D, Presiden dan Wapres, Mentri-Mentri, juru bicara, dan kolega-koleganya— berada dalam kesulitan dan ketidaksejahteraan ekonomi di tanah Indonesia nan kaya raya gemah ripah loh jinawi—begitu semboyannya.

Aku juga kalian, sebagai rakyat biasa, tak bisa menikmati dengan sebaik-baiknya pemberian dan karunia Tuhan, sebab sudah terlebih dahulu di kavling-kavling oleh Pemerintah dengan menyisakan kolong jembatan, daerah pinggiran rel, tempat pembuangan akhir sampah, berikut sarana/pra sarana nya seperti air, gas alam, listrik yang musti dibayar tiap bulan. Khusus untuk listrik, jika tidak dibayar lebih dari 3 bulan, siap-siaplah memakai lilin atau lampu teplok. Pendek kata, semakin sedikit pemberian Tuhan untuk bisa dinikmati umatnya dengan gratis.

Kembali pada pokok persoalan bunuh diri, hendaknya, kemiskinan jangan pula membuat miskin iman. Beriman, tak hanya dilihat dari seringnya sembahyang. Akan tetapi juga dilihat dari siap dan ikhlas menghadapi hidup dengan menerima dan menghadapi segala konsekwensi di dalamnya. Aku pun tak begitu paham mengapa mereka yang sudah almahrum itu memilih mati bunuh diri. Menurut psikolog, mati bunuh diri dikarenakan depresi, kemudian, tak ada pula orang terdekat menjadi tempat bercerita atau kawan bicara.

Namun pada hakekatnya, setiap manusia mempunyai potensi untuk mati dengan cara bunuh diri. Bisa saja saudara, keluarga atau bahkan kita sendiri (nau’dzubillahi min dzalik) yang melakukannya. Itu sebab, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: janganlah seseorang mengangan-angankan atau meminta kematian apalagi sampai menghilangkan nyawa (bunuh diri) karena musibah dan kesusahan yang menimpanya. Jikalah ia harus menginginkan, maka katakanlah, “Ya Allah hidupkanlah aku jika kehidupan itu lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku”.

Jadilah orang yang siap dan berani, siap menghadapi kesusahan dan kesulitan hidup, berani menghadapi ketidakmungkinan dan mencari jalan tegap di tengah himpitan beban penderitaan. Karena hidup terkadang tak mudah kawan. Kita lah membuatnya untuk tidak sulit. Di tangan kita lah kehidupan itu indah meski dengan segala keterbatasan dan ketidakmungkinan. Hanya di tangan kita, di tangan para pemberani.

Mengutip sepenggal kalimat Ebiet G. Ade, “tegar dalam sikap sempurna, pantang menyerah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s