Mengapa ada cinta setelah di pusara

Siang ini, pohon jati satu-satunya di kampus bercat putih itu menggugurkan daunnya. Memang sudah menjadi kelaziman di saat musim kemarau. Tapi bulan ini bukan musim kemarau. Cuaca benar-benar tak terjadwal.

Biasanya kalau musim kemarau, temperatur udara sangat tinggi. Jadi ia meranggas, beradaptasi untuk menghindari terjadinya banyak penguapan. Pohon jati itu berdiri manis di depan kantin Femi, kantin Fakultas Ekonomi. Letaknya masih berada di areal halaman belakang kampus. Daun-daunnya berserakan. Airin dan Ara senang menikmati tiap gugur daunnya. Indah. Seperti sedang berada di negeri sakura. Bagi para tukang foto amatiran dikampusku, mereka paling  sigap memanfaatkan moment keren ini. Menyerak-nyerak daun-daun kering, menerbangkannya, mengutipi ranting-ranting kecil, kemudian mematah-matahnya menjadi beberapa bagian. Agar kelihatan eksotik plus menarik, dijadikanlah mahasiswi –mahasiswi cantik sebagai model dadakan. Tak perlu audisi, sebab model dadakan ini rela dan pasrah saja dijadikan kelinci percobaan. Alasan mereka:  numpang beken selagi gratis, siapa sangka nanti jadi artis. Apapun itu, siapapun tak berhak menghakimi. Sebab mereka telah memilih dan menetapkan tujuan untuk diri mereka sendiri.

“Sudah September..” gumam Ara pelan. Namun Airin bisa mendengar lirih suaranya.

Meski bulan September, bukan berarti hujan sepanjang hari. Hujan tetap turun, namun panas tetap mendominasi. Sebab sekarang cuaca sulit di prediksi. Tidak seperti tahun-tahun lalu. Jika penanggalan sudah memasuki bulan Agustus, itu berarti harus bersiap-siap berhadapan dengan hujan. Sediakan mantel, jacket, payung, sweater atau paling tidak handuk kecil. Menurut pemberitaan BMG, cuaca tak bersahabat. Tapi bukankah ini karena ulah manusia yang kerap tak acuh pada alam. Kemudian alam marah, membiarkan cuaca berbuat sesuka hatinya. Alam tak hendak lagi mengatur sikap pasukannya. Ingin hujan di bulan May atau kemarau panjang di bulan September, ikuti sajalah permainannya. Habis perkara.

“kenapa? Batas terakhir tugas dikumpul ya? Pantas saja kamu kelihatan sibuk dari tadi”. Airin menyeruput cappucino dinginnya seraya menghampiri Ara yang serius menekuri buku-bukunya di kantin kampus.

“He-ehh.. Banyak tugas dari dosen yang berbeda nih” kata Ara.

“tapi proposal penelitian ke TVRI itu kan lebih utama.” sahut Airin. “sudah berapa kali revisi?”

 Ara hanya mengangkat bahunya.

Ara dan Airin adalah mahasiswa jurusan komunikasi di salah satu universitas ber-plat merah di kota Medan. Ketiganya sangat akrab. Bahkan bisa dikatakan, masa orientasi alias ospek lah yang mendekatkan dua cewek ini.

“tapi kan masih lama” tambah Airin lagi. “itu tugas minggu depan kan Ra?”

“iya, tapi harus praktek ke TVRI-nya. Ngurus surat untuk penelitian, trus administrasi, dan juga minta tandatangan kepala stasiun TVRI” Ara menjelaskan detail rencana penelitiannya. “you know lah Rin kalo ngurus administrasi di Indonesia”

“well, gini aja deh. Kamu refresh sejenak dari tugas-tugas kampus. Kita jalan-jalan, muter-muter kota Medan, makan, trus temani aku sebentar ke Polonia ya. Aku mau check-in tiket papa sama mama yang akan berangkat ke Jakarta”. Dengan nada merayu, Airin memaksa Ara ikut serta.

“oya Ra, masih ingat dengan Elang kan?” Memang, Airin selalu punya jurus untuk menggoda Ara. Dan godaan tersebut sering ia lakukan dengan sukses. Memancing Ara dengan Elang, sepupu Airin yang sedang dinas di Jakarta sebagai militer. “yang aku kenalin 3 bulan lalu. Masih ingat gak?”

“hmm… kenapa?” jawab Ara acuh tak acuh. “kami masih komunikasi kok. Aku gak akan mengecewakan sepupumu itu. Tapi juga gak harus buru-buru bilang cinta”

“tunggu apalagi Ra. Aku gak kan nyomblangin kamu dengan orang yang gak jelas. He’s nice guy, you know..!” Airin menyikut Ara, membuat gadis manis itu terpaksa menghentikan bacaannya.

“ya, aku tau. Tapi berhentilah menggodaku”

“dan berhentilah berpura-pura” Bella memotong pembicaraan sebelum Ara sempat menghabiskan ucapannya. “matamu bicara bahwa kamu juga suka dia Ra. Cuma butuh waktu. Tapi menurutku, kamu yang harus menciptakan waktu. Kalau tidak, lewat!” jelas Airin panjang lebar sambil menggesekkan telunjuknya di leher. “Okey, temani aku dulu ke airport. Mama dan papa harus berangkat besok”.

“sekarang?” tanya Ara.

“tahun depan…!” jawab Airin kesal. “ya sekarang!”

 Airin tahu betul bahwa sangat sulit membuat Ara jatuh cinta. Apalagi sosok yang dijodohkannya pada Ara adalah seorang militer. Di mana Ara tak pernah menaruh simpati pada lelaki yang berprofesi sebagai alat negara. Ayah Ara adalah seorang militer. Dan ibunya yang berdarah arab itu, seorang Dokter Gigi sebelum menikah dengan ayah Ara. Setelah menikah, ibu Ara memilih mundur dari karir demi membesarkan anak satu-satunya. Dan itu adalah Ara. Ara mewarisi kecantikan dari ibunya. Berhidung mancung, kulit kuning langsat, rambut hitam bergelombang, dan wajahnya memiliki rahang tegas seperti ayahnya yang berdarah batak.

Ara begitu mengagumi ayahnya, juga profesinya. Bagi Ara, ayahnya terlihat gagah dengan seragam hijau loreng, sepatu boot, serta menggenggam senapan AK 47 buatan Rusia. Ia sering memuji ayahnya. Hingga pada suatu hari Ara dan ibunya harus merelakan kepergian lelaki kesayangan mereka untuk selamanya. Ayah Ara gugur disebabkan ranjau darat saat bertugas di Timor Timur. Itulah awal mengapa Ara tak lagi menyukai lelaki berseragam hijau loreng. Profesi itu, seragam itu, membuka kisah lama, mengoyak luka yang masih menganga.

 ***

Bandara polonia tetap saja ramai meski bukan hari libur. Diperlukan renovasi agar tak sesak. Changi Singapura, adalah salah satu contoh bandara terbaik. Memberikan rasa nyaman pada pengunjungnya. Seharusnya pemerintah bisa belajar dari Negara yang bandaranya sering diganjar penghargaan bergengsi ini.

Di kejauhan, mata Ara mengawasi sosok lelaki dengan perawakan tinggi besar, rambut dipotong pendek rapi, berkemeja merah marun dipadu celana jeans hitam, duduk santai di café susan, persis di depan parkiran mobil.

“Elang…!” Airin berteriak kencang pada lelaki yang sejak tadi diam-diam diperhatikan Ara. Rupanya benar dugaannya, lelaki itu Elang, sepupu Airin, juga lelaki yang dicomblangin Airin. Tepatnya, lelaki dimana Ara sudah mulai menaruh rasa suka.

“ada Ara juga” sahut Elang menoleh ke Ara.

“huuuhhh… aku yang manggil, yang ditanya malah Ara” Airin pura-pura cemberut. Padahal sebenarnya hanya ingin menggoda Ara.

“hai kak” sapa Ara dengan kalimat singkat. “ngapain disini?”

“karena jodoh” sambar Airin sambil senyum-senyum sendiri. “oya, aku tinggal kalian dulu ya. Soalnya mau ngurus tiket bos besar. Have nice time, Ara”. Airin beranjak meninggalkan café, ia sengaja memberikan waktu buat Ara dan Elang berduaan.

“besok mau berangkat” sekian lama hening hadir di antara mereka, akhirnya Elang memilih bicara to the point pada Ara. “ehheemmm….” Elang berdehem keras untuk mencairkan kebekuan di antara mereka, rupanya dehemnya terlalu keras dan aneh hingga menghasilkan suara tak lazim. “saya suka arlojinya. Lihat, selalu saya pakai”. Elang memamerkan arloji hadiah dari Ara, di hari ulang tahun Elang, 8 bulan lalu.

“ohh, terimakasih” jawab Ara sambil tersenyum tipis. Meski perkenalan mereka sudah berumur satu tahun, tetap saja Ara masih malu-malu bicara pada Elang. Tapi hari ini, benci yang dulu pernah tumbuh di hati Ara, berganti menjadi rasa gembira yang sulit dijelaskan. Rupanya kedua makhluk yang sama-sama pemalu ini menyimpan rasa suka diam-diam. Elang tak pernah menyatakan perasaannya, sedang Ara masih mempertahankan ego di kepalanya: ‘anti seragam hijau loreng’. Namun, lirikan curi-curi di tengah keramaian itu kian hari kian tak tertahankan.

“bisa menunggu saya enam bulan lagi?”. Tiba-tiba Elang bicara lebih serius.

“eh, apa? Maksudnya?” Pernyataan Elang barusan sempat membuat Ara terkejut. Ia merasakan keringat mengaliri keningnya. Cepat-cepat Ara memperbaiki keterkejutannya dengan menimang-nimang ponsel-nya.

“ya, tunggu saya enam bulan lagi”. Elang melihat Ara dengan matanya yang teduh. “Dan saya akan segera ke rumah kamu, bertemu ibu kamu, memintanya agar mengizinkan saya menjadikan kamu istri. Mendampingi saya hingga akhir hayat” suara Elang jelas dan tegas sewaktu menyampaikan maksudnya pada Ara.

“sukurlah” jawab Ara sekenanya.

“maksudnya?” Kedua alis Elang bertaut membentuk lengkungan seperti bulan sabit. “saya tahu, kamu punya masalalu yang cukup sedih tentang perwira negara. Saya juga tahu kalau kami tidak menyukai lelaki berseragam hijau loreng. Saya tidak ingin memaksa, tapi izinkan saya mengganti rasa sedih dan tidak suka itu menjadi bahagia.”

Ara diam seribu bahasa. Di satu sisi ia berusaha menutupi rasa sedih karena kenangan tentang ayah menyelinap seketika. Di sisi lain ia juga berjuang untuk memahami perasaan Elang.

“kamu belum punya pacar kan, Ra?” Elang mendelik, dan itu membuat wajah mereka lebih dekat dan berhadapan.

“belum…” jawab Ara. “aku gak mau pacaran. Karena banyak hal tidak baik di dalamnya. Aku mau langsung menikah saja. Seperti ayah dan mama.

boleh saya minta jawabannya sekarang sebelum saya berangkat besok?”

“apa harus berangkat besok?”

“ya, perintah atasan. Saya ke Medan karena ingin ketemu keluarga, tentunya juga ingin bertemu kamu”.

“naik pesawat apa?”

“Mandala, pukul 08.30 pagi” Elang melihat arloji di tangan kirinya memastikan jadwal keberangkatannya besok. “Jadi, apa jawabannya?” Tanya Elang lagi.

“kak…” ujar Ara pada lelaki di hadapannya. Usia mereka terpaut 12 tahun. Sebab itu Ara memanggilnya kakak. “sebenarnya sulit bagiku memutuskan apa yang ignin aku katakan. Meski aku sudah mempunyai gambaran jawaban, tapi aku tidak begitu yakin tentang sebuah perasaan. Bukan karena aku tidak yakin dengan keseriusan kakak, dan ketegasan sikap kakak selama ini padaku. Akan tetapi, aku tak bisa melupakan kenangan bersama ayah. Dimana saat aku begitu mencintainya dan masih berharap sosok beliau ada bersamaku, tapi saat itu pula aku tak lagi pernah melihatnya. Aku tahu, semua kehendak Tuhan. Dia telah mengatur ‘waktu’ ku bersama ayah”. Ara menekuri sepatu high hill-nya. Rasanya ia ingin berlari menjauhi Elang. Namun entah mengapa ada suara yang memaksanya bicara. Ada bisikan yang memaksanya untuk tetap tinggal, jauh lebih lama bersama Elang.

“aku begitu takut kehilangan. Apalagi kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupku. Artinya, ketika nantinya aku mulai menerima kakak, rasa takut akan kehilangan masih terus bersemayam”. Ara memberanikan diri menatap Elang.

“karena profesi saya seperti almarhum ayah?”

Ara hanya bisa mengangguk lemah. Terbersit keinginan untuk mencegah Elang pergi. Tapi ia sadar tak mungkin melakukannya. Sebab bagi militer, perintah adalah perintah.

“besok jawabannya. Karena aku perlu memikirkannya masak-masak. Kakak bisa menunggu satu hari kan?”

“semoga jawabannya bisa mengantar kepergianku dengan tenang” jawab Elang sambil mengacak lembut rambut Ara.

Dua insan yang sebenarnya saling menyukai dan mempunyai perasaan yang sama. namun begitulah cinta. Ia bukan matematika, seperti perhitungan sederhana satu tambah satu sama dengan dua. Cinta, sukar dijelaskan meski banyak kejadian telah menjadi pertanda. Ada rasa yang mengendap-endap masuk ke dalam relung hati. Namun selalu malu-malu menunjukkan jati diri.

 

5 September 2005

“Breaking News kami awali pagi ini dari Medan, Sumatera Utara” suara Kania Sutisnawinata, penyiar Metro TV terdengar dari ruang tamu rumah Ara. “ya, silahkan laporan anda, Erwin”.

“baik, Kania dan pemirsa, Pesawat Mandala Airlines Penerbangan RI 091 mengalami kecelakaan parah di kawasan Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara. Pesawat Boeing 737-200 milik Mandala Airlines ini terjatuh saat pesawat sedang lepas landas dari Bandara Polonia Medan. Pesawat tersebut menerbangi jurusan Medan-Jakarta dan mengangkut 117 orang (112 penumpang dan 5 awak). Penumpang yang selamat berjumlah 16 orang dan 44 orang di darat turut menjadi korban.

Kecelakaan terjadi sekitar pukul 09.40 wib saat pesawat sedang lepas landas. Pesawat tersebut lepas landas dalam posisi yang tidak sempurna, lalu menabrak tiang listrik sebelum jatuh ke jalan dan menimpa rumah warga yang terletak hanya sekitar 100 meter dari bandara.

Menurut keterangan yang kami terima, setelah jatuh, pesawat meledak beberapa kali dan terbakar sehingga hancur hampir sepenuhnya, menyisakan ekor pesawat bertuliskan PK-RIM. Sebanyak lima rumah warga yang tertimpa badan pesawat juga terbakar. Kembali ke studio, Kania” tutup pemuda paruh baya mengakhiri laporannya.

Badan Ara lemas sesaat mendengar berita dari layar televisi. Nokia Communicator yang dipegangnya terjatuh keras ke lantai. Padahal baru saja ia mengirimkan pesan pada Elang:

“terimakasih telah mencintaiku sebaik itu. Terimakasih untuk terus menungguku. Terimakasih telah menghargaiku dengan begitu mengagumkan. Cepat kembali ya. – Arramisya -”

‘delivered’ tertulis pada layar handphonenya. Pesan terkirim.

Air mata Ara tumpah. Ia menangis tanpa suara. Kehilangan untuk kedua kali, lebih menyakitkan baginya. Samar-samar terdengar suara laporan seorang reporter di televisi.

“Menurut kesaksian seorang penumpang yang selamat, pesawat baru saja lepas landas dan tiba-tiba oleng ke kiri lalu mulailah api menjalar. Namun ada pula yang menyatakan bahwa pesawat tersebut sulit lepas landas karena kelebihan beban buah durian bawaan gubernur Tengku Rizal Nurdin seberat 2 ton.

Kobaran api selain menghanguskan pesawat juga menghanguskan puluhan rumah dan kendaran bermotor yang ada di sekitarnya. Api yang terus menyala menyulitkan usaha penyelamatan jenazah dari bangkai pesawat dan kondisi di sekitar lokasi pun padat oleh penduduk yang penasaran.

Pesawat Boeing 737-200 yang jatuh merupakan buatan tahun 1981, pertama kali terbang untuk maskapai nasional Jerman, Lufthansa, dan telah dinyatakan laik terbang hingga tahun 2016. Namun, keadaan berbicara lain. Pesawat tersebut jatuh dan memakan banyak korban. Dari 117 orang dalam pesawat, 112 di antaranya adalah penumpang (109 dewasa dan tiga bayi) dan lima orang awak. 16 penumpang dinyatakan selamat dan semuanya duduk di bagian belakang.”

Posisi berdiri Ara tak lagi sempurna. Badannya limbung.

“Di antara korban kecelakaan yang meninggal dunia termasuk Gubernur Sumatra Utara Tengku Rizal Nurdin yang rencananya akan bertemu Presiden serta mantan Gubernur Sumatra Utara Raja Inal Siregar. Terdapat pula dua penumpang berkewarganegaraan RRC, seorang berkewarganegaraan Jepang dan seorang warga Malaysia. Selain penumpang pesawat, juga terdapat 44 korban jiwa di darat yang merupakan penduduk setempat”. Lanjut suara reporter lapangan dari stasiun swasta yang sudah punya nama itu.

“Elang…” hanya satu nama yang sempat terucap kala itu. Kemudian ada segerombolan bayangan hitam dan kuning menghimpit mata Ara. Kepalanya seperti dihantam batu keras, tubuhnya kaku, hingga membuatnya jatuh tak sadarkan diri.

 ***

 Hari sudah sangat sore. Namun cuaca masih hangat. Sebab matahari memancarkan semburat kuning keemasan di balik bukit barisan, membuat silau sesiapa yang diterpa sinarnya. Seharusnya senja ini indah buat Ara. Seperti senja-senja sebelumnya, dimana Ara selalu membiarkan sinar sang surya mengukir siluet dirinya, kemudian ia menari di bawah teriknya, seraya mencipta gambar dari balik lensa kamera. Dan kini, senja itu berganti menjadi sepi yang menemaninya dalam diam bersama isak tangis perlahan.

Taman Makam Pahlawan di jalan SM. Raja Medan sudah sepi dari peziarah sejak 20 menit tadi. Namun tak tampak tanda-tanda Ara hendak beranjak. Airmatanya masih deras mengalir meski suaranya tak terdengar.

“Ara, sebaiknya aku nunggu di mobil ya?” pinta Airin pelan. Airin tahu kali ini Ara butuh sendiri, tak ingin diganggu. Tanpa menunggu jawaban, Airin, bergegas menuju mobil yang diparkir di gerbang makam. Sengaja meninggalkan Ara yang masih bersimpuh di sisi kiri batu nisan bertuliskan Bripka Elang Satya Pratama.

Peristiwa pesawat naas kemarin ikut merenggut nyawa Elang, seorang perwira polisi asal Medan. Rencananya, selepas mengunjungi keluarganya di Medan, Elang akan berangkat ke Jakarta mengikuti pelatihan lanjutan dari resimennya, TNI Angkatan Darat. Namun keadaan bicara lain. Elang jadi korban pesawat Boeing 737-200 milik Mandala Airlines. Sepotong tangan kiri dengan arloji Swatch Army pemberian Ara, masih melekat padanya. Potongan tangan itu, adalah milik Elang.

Sebenarnya cinta tak datang terlambat. Hanya saja, cinta disadari setelah ia pergi. Terkenang setelah ia hilang  dari jarak pandang. Menjadi berarti setelah ia  tak ada  lagi.

Satu pemikiran pada “Mengapa ada cinta setelah di pusara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s