Bahagia yang sederhana

Tak seorang pun suka dimarahi. Meski itu balita yang orang dewasa sering katakan mereka tak tahu apa-apa. Apalagi orang dewasa berumur 27 tahun sepertiku. Masalah apapun itu. Besar atau kecil, genting atau sepele. Sedang ayahku saja, bila beliau memarahiku, rasanya naik panasku ke ubun-ubun. Akan tetapi, inilah hebatnya orangtua. Bila membantahnya meski dengan kata ‘ahh!’ saja, bisa runyam akibatnya. Bahkan langsung berhadapan pada sang Pemilik alam semesta. Selain itu, jika orangtua marah dan mengeluarkan jurus kutukan, bisa hajab. Bersiaplah jadi seperti apa yang dimarahkannya. Seringkali kutukan tersebut mujarab.

Pernah saking kesalnya, aku menjawab amarah ayah. Pernah juga beliau kutinggal pergi begitu saja saat asik-asiknya merepet. Durhaka memang. Tapi muslim sepertiku kerap tak kuat iman untuk menahan godaan jika berhadapan dengan murka ayah. Tetapi, di samping pemarah tingkat dewa, ayahku adalah sosok rendah hati dan berjiwa besar. Ia tak pernah mengutuk kami walau bagaimanapun prilaku kasar kami padanya. Ia adalah paradoks yang membingungkan, sekaligus mempesona. Lalu, dengan gerak santai ia menuju beranda melanjutkan membaca buku. Kupikir, ayahku sudah sampai pada pemahaman bijaksana bahwa beliau lah yang menurunkan sifat keras, kasar dan pemarah pada anak-anaknya. Tepatnya, beliau mafhum.

—-

“praaaaanngg…..!!”

Seperti itulah kira-kira bunyi stelling jualan yang pecah didorong angin kencang. Stelling tiga rak yang terbuat dari kaca itu jatuh ke lantai. Serpihan kacanya berhamburan sampai ke jalan kecil komplek. Untung tak ada orang melintas pada senja yag gelap dan dingin itu. Hanya ada aku yang tadinya duduk tepekkur di meja kerja persis depan jendela, – sedang memikirkan cerita apa lah kiranya hendak kutuliskan demi memenuhi permintaan saudaraku, menulis cerpen beramai-ramai alias anthology – jadi tersentak akibat keras bunyi yang ditimbulkannya.

Kusaksikan stelling kaca yang konon kata pemiliknya hendak dijual, pecah berupa-rupa. Ketika itu masih hari raya kelima. Penghuni rumah tak tampak batang hidungnya. Kutaksir mereka masih berhari raya itu sebab tak seorang pun keluar membereskan atau sekedar menengok asal suara gaduh macam meteor menghujam Sumatera.

Pemilik stelling kaca itu seorang tante pekerja salon. Kutaksir umurnya 40. Perawakannya kecil, cukup bohay, rambut blonde sebahu. Gayanya gaul dan modern. Tidak seperti almarhum emakku, berpakaian sangat elegant seperti bangsawan. Aku tidak begitu akrab dengan si tante dan kedua anaknya. Namun setelah aku pindah ke rumah kontrakan baru, rumah kami –aku dan si tante- jadi berdekatan. Rumah kontrakanku ber-cat putih dan persis bangsal, sedang rumahnya tak ber-plaster dan bertipe gereja. Dari dinding rumahnya ke teras rumahku, jaraknya hanya satu meter. Hal demikian membuatku mudah mendengar perbincangan mereka, juga tahu aktivitas mereka kalau sekiranya tak menutup jendela.

Jadi, si tante inilah yang pernah murka padaku saat malam pasang suluh alias malam dua-tujuh. Di mana pada malam tersebut orang-orang bermain mercun berjamaah, sedang aku membakar tumpukan kertas dan buku. Ia menyalak seperti anjingnya bimo setiap kali bertemu orang baru.

“Dinn, jangan bakar sampah malam-malam!” Berdaster putih transparan, ia meluapkan amarahnya padaku. Rupanya ia sudah di depan pintu. Meski saat itu pukul 11 malam, masih jelas kulihat wajahnya merengut dan bibir tipisnya maju. Namun salakan pertama tak begitu keras. Buru-buru kusiramkan air. Api padam seketika. Walau begitu, asapnya berlarian dibawa angin barat daya. Aku tak tahu, ternyata sejak membakar sampah kertas tadi, asapnya masuk ke dalam rumah tak ber-asbes itu.

“Dinn, matiiin apinyaa!!” Ia keluar lagi. Salakan kedua yang kurasa meremuk tulang dan persendian. Nyaris saja menggoda adrenalinku untuk menantangnya berkelahi secara wanita. Untunglah di hari kejadian menyebalkan tersebut adalah tiga malam terakhir bulan puasa, masih tersisa Lailatul Qodr.

“iya buk, sudah padam dari tadi..” aku dengan senyum tertunduk-tunduk menjawabnya.

Sungguh, di saat itu juga aku serius memikirkan pembalasan. Pembalasan menjelma menjadi niat, niat bertransformasi menjadi ambisi. Bisa saja kulempar jendelanya pakai batu, biar pecah. Tapi itu tak intelek. Kuracun si Bimo. Ah, itu terlalu brutal. Sebab yang salah adalah si tante, bukan anjingnya. Atau kutembak dia pakai senapan replika. Ah, itu agak berbahaya. Jika peluru mengenai matanya, bisa panjang urusannya.

Karena lelah memikirkan ide pembalasan, akhirnya kuurungkan niat, kupadamkan ambisi. Meski bukan seorang muslim yang tak dapat disebut dengan kadar iman membanggakan, namun aku masih punya naluri baik hati. Kuredam-redam amarah seraya berkomunikasi dengan Tuhan meski aku mendapati kenyataan bahwa aku sedang bicara sendirian.

Hingga kemudian terjadilah peristiwa elegan nan dramatis itu. Stelling kaca yang terletak di beranda depan pecah berdegum. Kunikmati sensasinya. Kubayangkan wajah kesal pemiliknya. Kuhirup-hirup bau kandas harapan yang menyergapnya. Pertanda kualat, bisikku pada diri sendiri sambil berdecak kagum pada lakon angin yang memain-mainkan karet penyekat tiap rak stelling. Meski tak setimpal, setidaknya kekesalanku tertunaikan.

Kebahagiaan itu sederhana saja kamerad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s