pulang

Dua hari sebelum idul fithri, kami-aku dan kedua adikku siap-siap pulang kampung. Mulai dari merapikan rumah kontrakan yang akan ditinggal sekitar empat hari, packing pakaian, sampai menyervis sepeda motor agar tak menjadi hembatan di jalan. Ya, jauh-jauh hari kami sudah memutuskan mudik menggunakan sepeda motor sekalipun ada larangan keras dari kepolisian Sumatera Utara. “pemudik yang menggunakan sepeda motor, akan ditiliang!” begitu bunyi instruksi kepala polisi yang sempat kubaca di harian Sumut Pos, media di mana adikku bekerja. Tulisan di koran itu ber-capslock dan di bold pula. Jadi merinding aku membacanya.

Kalaulah ini ‘zaman’ Hoegeng, polisi tidak akan mengeluarkan instruksi bodoh semacam itu. Polisi adalah pengayom masyarakat. Semestinya mereka mengawal pemudik yang akan pulang menggunakan sepeda motor. Semestinya mereka menambah pengamanan dengan membuat pos polisi pada jarak-jarak tertentu. Semestinya juga mereka menertibkan bus-bus besar dan KUPJ yang suka ugal-ugalan di jalan. Tapi ini bukan Hoegeng! Polisi jujur, bersih, pelayan publik dan memegang prinsip sudah langka. Mereka malah berlomba-lomba menambah pundi-pundi pribadi, menimbun kekayaan dengan berbagai cara. ‘Ngebet’ jadi artis, pengawal pribadi, sampai korupsi seperti kasus simulator sim yang cukup populer belakangan ini.

Hening. Reda. Lega.

Tapi, kalaulah instruksi tersebut benar-benar dijalankan, bagaimana nasib kami? Bagaimana jika petugas tukang tangkap tersebut menangkap kami saat sedang berhenti di lampu merah, menggelandang kami ke kantornya, menginterogasi, kemudian kami ditahan dan tak diizinkan pulang. Apalagi kami bertiga tak pernah memiliki SIM. Masih mujarabkah kartu sakti ‘pers’ kami andalkan? Bagaimana jika kami menangis merengek-rengek seperti imigran pengharap suaka? Akankah hati mereka luluh demi melihat tetesan air mata buaya?

Sekelebat bayangan bapak-bapak berseragam pramuka bermain-main di pikiranku. Mereka berkumis tebal, berkulit coklat, berwajah tak ramah, menggesek-gesekkan jempol dan jari telunjuk seraya tersenyum penuh makna. ‘Antara lima puluh atau seratus ribu’ gumamku dalam hati.

Riuh. Panik. Gelisah.

Apapun yang terjadi, kami harus sampai ke Tanjungbalai. Kuatur strategi mudik. Semua oleh-oleh kami kirim via Kereta Api agar tak membawa banyak beban saat di perjalanan nanti. Dengan begitu polisi juga tak curiga. Kalau nanti mereka menyetop kami di tengah jalan, jawaban sudah kusiapkan. Akan kukatakan kalau kami adalah wartawan yang bertugas meliput lalu lintas dan suasana lebaran, bukan pemudik. Atau bisa saja kujawab bahwa kami bukan ingin mudik, tapi sekedar berjalan-jalan.

Pertualangan pun dimulai.

Tanggal 17 agustus 2012 pukul 1.30 siang, saat orang-orang masih berpuasa, beli baju baru, buat kue lebaran dan sedang melaksanakan upacara bendera, di sebuah rumah mungil bercat putih serupa bangsal, kami konvoi bertiga menuju kota kecil tempat di mana kami dilahirkan dan dibesarkan. Kami ingin segera bertemu ayah, ibuk, abang, kakak dan adik-adik juga saudara. Tentu saja kami ingin bermain-main sejenak menghilangkan penat di kota Medan yang gersang dan sesak. Kami melalui jalan lintas sumatera, melewati kabupaten/kota seperti Deli serdang, Serdang Bedagai, Perbaungan, Tebingtinggi, Batubara, Kisaran, dan singgah beberapa kali di mesjid untuk melaksanakan sholat. Perjalanan pulang itu cukup berkesan bagi orang keren seperti kami.

Tak banyak kendala yang kami hadapi di jalan. Karena kami adalah anak yang berbakti, selalu mengingat dan melaksanakan pesan ayah. Jika kami bermain-main dengan nasehatnya, ayah mungkin akan mengutuk kami jadi batu. Oleh sebab itu, kami pun mengendarai sepeda motor pelan-pelan, berdzikir serta bersholawat, tidak terpancing kebut-kebutan, menjaga jarak terhadap becak motor, angkot dan KUPJ.

Namun dijalan banyak duplikat Valentino Rossi, si juara pembalap moto GP. Mereka senang ugal-ugalan, kebut-kebutan, menyikut beberapa pengguna sepeda motor, berbelok layaknya pembalap profesional di tikungan tajam. Barangkali orang-orang senget itu mengganggap jalan laksana sirkuit sentul, sedang Polisi sebagai penonton yang gemar menjadikan segala event untuk praktek judi.

Setelah enam jam perjalanan, kami tiba di kota busuk namun pernah meraih penghargaan Adipura, yaitu kota Tanjungbalai. Lama ditinggalkan, nyaris tak terlihat adanya perubahan infrastruktur. Sampah berserakan di sepanjang jalan, aroma tak sedap menusuk hidung, lobang-lobang jalan menganga dan ada yang membentuk kubangan, luas jalan menyempit karena telah disesaki para pedagang kaki lima. Kupikir kota ini semakin tua semakin renta. Bukan semakin mempesona. Miris aku melihat keadaannya. Penduduk semakin bertambah namun ia tak lagi tampak bergairah. Jauh berbeda ketika ‘zaman mafia’. Entah kenapa aku haqqul yakin, bahwa kepedulian masyarakat hampir menipis. Mungkin juga habis. Itu sebab tak sempat mereka hirau pada kemuraman kota Tanjungbalai yang dulunya jaya dan pernah menjadi kota penopang perdagangan Provinsi Sumatera Utara.

Aktivitas rutin di sini masih juga sama, perkebunan dan hasil laut. Sesekali, di ujung jembatan pelabuhan menghadirkan keramaian. Mereka berbondong-bondong mengadu nasib ke Malaysia, negara yang gemar menghina Indonesia meski kenyataannya memang sudah lama negara ini terhina. Para pekerja meninggalkan kota Tanjungbalai yang mereka lihat tak lagi memberi harapan dan tak mampu mencerahkan masa depan. Sebelas dua belas, kami pun demikian…

Pukul 8.30 malam, kami pun sampai di rumah mewah ayah. Tepat dugaanku, Polisi dan intruksi tilangnya, rupanya pepesan kosong belaka.

Aku merasa sedikit demi sedikit rumah ini telah mengembalikan kenyamanan yang selalu mekar sewaktu emak masih ada. Ketenangan menyembul malu-malu. Cahaya keberkahan mulai bersinar meski samar. Namun retinaku mampu menangkap biasnya. Terimakasih Allah. Tetaplah menjadi penerang di sepanjang sisa usia dan perjalanan hidup kami.

Well comerade, ‘Minal Aidin Wal Faidzin, maafkan Zahir dan Batin’. Selamat merayakan hari raya aidil fithri 1 syawal 1433 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s