Tentang ‘dia’ yang lain

Saking cintanya pada politik, aku bahkan berdoa agar pasangan hidupku kelak adalah seorang politisi, yang mana aktivitasnya berjalan di lintasan politik dan kekuasaan. Jadi kami, -aku dan pasangan hidupku tersebut- tak butuh waktu lama untuk beradaptasi sebab masing-masing sudah memahami gerak laku sehari-hari. Tak henti-hentinya aku meminta agar segera dipertemukan. Dan lagi-lagi Allah menuruti permintaanku. Dia membawakan seseorang entah dari mana, entah siapa, dan entah bagaimana aku bisa menyukainya dengan cara yang sungguh tak bisa kujelaskan. Ia yang biasa-biasa saja, bukan pemilik partai politik, bukan pengusaha berdompet tebal, bukan akademisi handal, apalagi ahli ibadah meski ia pernah umroh satu kali.

Tapi, aku suka padanya. Rasa suka yang sampai sekarang sulit kupahami, mengapa aku tertarik pada lelaki beristri. Kalau kuingat-ingat, entah bagaimana caranya rasa itu tumbuh dan bersemi. Sepertinya ia menyelinap diam-diam ke dalam pikiran, menjelma menjadi godaan hebat bak semangkuk kolak dingin terhidang di meja ketika sedang berpuasa. Godaan yang kala itu sungguh tak dapat kutahan meski wajah sudah kupalingkan. Kadang-kadang bermain-main dengan godaan cukup melenakan. Ada kepuasan ketika aku bisa menaklukkannya.

Ahh,… Sungguh amat gerah aku menceritakan orang ini meski satu atau dua kalimat saja tentangnya, pisiknya, kepribadiannya. Sekalipun ada yang bisa kuingat dan kuceritakan, namun aku kerap berharap agar dua tahun kenangan bersamanya memudar begitu saja. Lenyap seketika seperti hilang dibantai tsunami. Rasa-rasanya kepalaku seperti dihantam palu godam jika mendengar namanya disebut.

Ini bukan disebabkan oleh rasa yang tertinggal atau rindu yang menggebu karena lama tak bertemu. Tidak lah demikian. Bukan pula karena dendam pada kisah dulu yang sungguh sepahit empedu. Juga bukan karena sakit hati sebab cinta cukup sampai di sini. T I D A K. Hanya saja, betapa aku malu karena telah pernah mencipta sejarah dengan lelaki itu. Betul aku menyukainya, namun selama dua tahun kisah suram tersebut, aku selalu gagal mencintainya. Kupikir saat itu aku sudah gila karena suka padanya.

Sukurlah, Tuhan menulis kisah sekian episode saja. Kemudian aku berhenti, lebih tepatnya di depak oleh atasan. Jika ada orang yang menangis dan menderita karena kehilangan pekerjaan, maka aku juga demikian. Bedanya, kesedihan itu cukuplah kurasakan enam bulan. Selanjutnya aku terus menata hidup, kembali padaNya setelah lama Ia tak kusapa. Perubahan ini juga tak lepas dari dukungan penuh ayah dan keluarga.

Lambat laun, terjadilah konflik pemikiran berkepanjangan. Akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan bahwa tak ada lagi yang ingin kubuktikan. Aku sudah sampai pada tingkat tertinggi dari sebuah ambisi. Rupa-rupanya aku mampu menduduki posisi Bendahara Umum Dewan Perwakilan Daerah tingkat Provinsi, juga menjadi calon legislatif nomor urut satu. Begitu menakjubkan sebab jabatan demi jabatan kuraih dalam waktu singkat, di usia dua puluh tiga pula. Ternyata aku bisa. Lalu apalagi yang kuinginkan? Andaipun jabatan sebagai anggota DPR tak menempel di seragamku karena tak lolos pada pemilu, bukanlah berarti aku tak mampu. Namun ada takdir yang telah ditulis oleh Sang Pujangga terbesar, agar aku berhenti pada tahap itu.

Oleh karena kekuasaan telah kutinggalkan, otomatis software dan hardware-nya pun sengaja tak kubawa. Kubiarkan mereka mencari jalan hidupnya sendiri, bertemu dengan apa-apa yang mereka impikan. Pun sama halnya dengan lelaki itu, aku langsung menutup celah untuk bertemu. Sosoknya tak lagi menjadi teduhan. Senyumnya tak lagi menjadi penawar kegelisahan. Komunikasi terputus begitu saja. Anehnya, aku begitu bahagia.

Setelah kuhitung, persis dua tahun aku bersamanya. Tak banyak yang bisa diceritakan. Kalaupun ada, hanyalah sebongkah penyesalan dan segunung rasa malu. Hingga aku haqqul yakin bahwa tak ada gunanya menjawab panggilan masalalu meski betapapun iramanya merdu mendayu-dayu.

Sungguh mengerikan hidup ini kadang-kadang.

Untungnya Tuhan juga menyelipkan banyak hikmah dari sebuah kisah. Mengenai pasangan hidup seorang politisi idaman, tak lagi kuimpikan. Sudah usai. Tuhan Maha tahu apa yang pantas untukku. Sekarang, aku mulai bisa memasrahkan hidup padaNya. Menikmati betapa indah bersamaNya. Dan tentang ‘dia’ yang lain, biarlah menjadi misteri sampai pada waktunya Allah ridho atasnya, dan kami pun dipertemukan dalam ikatan pernikahan. Amiinn…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s