Angin sorga dari jakarta

Waktu berlalu, dan aku telah cukup jauh meninggalkan wilayah abu-abu, dunia politik. Ketertarikanku pada politik dan kekuasaan tak lagi menggebu-gebu seperti dulu. Seperti mana gelora itu ada sewaktu SMA juga saat belajar di jurusan ilmu politik di salah satu Universitas ternama, Sumatera Utara. Masih jelas sekali ketika aku menuliskan ‘join to partai politik’ di lembar pertama buku agenda warna coklat berbahan kulit yang kubeli di toko loak saat masih duduk di bangku SMA. Kugumam-gumamkan keinginan itu seperti aku yakin betul akan bergabung di partai politik kelak. Keinginan yang bertransformasi pada ambisi. Dan suatu hari nanti, Tuhan mendengar doaku dan mengabulkan tulisan dalam agenda warna coklat itu.

Politik adalah cita-cita dan jiwaku. Kekuasaan adalah minat dan tujuanku. Seperti kopi dan gula, kami, -aku dan kekuasaan- tak dapat dipisahkan. Aku tak tahu hubungan kami disebut apa. Mungkin cinta platonik, simbiosis mutualisme, atau cinta bertepuk sebelah tangan. Entahlah, yang pasti saat dihadapkan pada dua pilihan untuk melanjutkan kuliah, secara sadar aku melingkari program ilmu politik pada kolom pertama, menyusul ilmu komunikasi pada kolom berikutnya. Dengan bismillah.

Setelah menamatkan kuliah dengan predikat Cum Laude, sebulan kemudian aku sudah mendapatkan perkejaan meski tak langsung sampai pada tujuanku. Aku bekerja di majalah bisnis dan ekonomi sebagai kontributor. Majalah ini didanai oleh LSM asing. Pekerjaanku berkutat pada wawancara nara sumber dan menulis berita hasil wawancara, bukan sebagai Direktur. Tapi lumayan, aku bisa menyambung hidup dari hasil gaji pas-pasan. Begitulah, negara ini tak pernah secara gamblang memberi pemahaman akan makna lulusan ‘cum laude’. Tak sampai setahun berteduh di bawah payung media, aku pun mengundurkan diri sebab alasan sederhana. ‘ingin istirahat’, padahal bukan alasan sebenarnya.

Dua bulan berikutnya, aku diminta oleh senior untuk mengawal dan membentuk sebuah organisasi cikal bakal partai politik yang kelak bernama ‘Gerindra’. Rupa-rupanya Tuhan mendengar doaku, dan meletakkannya di pangkuanku. Di sinilah karir politikku berawal. Mulai dari menjabat koordinator pembentukan organisasi, wakil ketua partai politik, wakil bendahara, hingga dalam waktu seketika menjadi Bendahara Umum Provinsi. Takjub. Entah bagaimana memahaminya, dalam kurun waktu 6 bulan sudah tiga kali aku naik jabatan. Saat itu aku merasa biasa saja. Sementara di seberang sana ayah ternganga. Kata beliau aku ini hebat sekaligus beruntung. Lambat laun baru aku paham bahwa menjadi Bendahara Umum di usia yang amat belia (22 tahun) adalah hal luar biasa. Ibarat meteor jatuh di kampung paling ujung dari negara bertuah ini.Sama sekali bukan perkara enteng.

Keluargaku -sebenarnya hanya ayah- amat menyukai dunia politik. Tak afdhol rasanya bila beliau belum tafakkur di depan televisi demi untuk menonton berita apa yang sedang terjadi hari ini. Siapa yang korupsi, siapa yang jadi tersangka, siapa yang bebas dari tuduhan pengadilan, siapa yang menjadi korban. Tak pernah ia lewatkan dialog demi dialog para politisi itu. Terkadang ia marah-marah sendiri di depan tv, memaki, mengumpat, menghujat politisi yang menurutnya pembohong dan benar-benar bersalah. Tapi peduli apa para politisi itu pada orang macam ayahku? Sedang puluhan demonstran saja bisa mereka habisi, mereka tembak. Bahkan jika rakyat menyampaikan keluhan dan protes terbuka pun mereka mendadak pekak.

Inilah ayahku. Lelaki cukup rumit ini memang selalu berdiri teguh di atas apa-apa kesukaannya, kehendaknya, keinginannya selagi kesemuanya tak berfaedah buruk bagi orang lain. Hingga sekarang, ayah tetap menggemari politik dan pernak-perniknya meskipun ia tahu betul apa itu politik dan bagaimana latar belakang pelakunya. “maling teriak maling, pembohong teriak pembohong, penipu teriak penipu. Orang benar dijeruji, orang salah dikasi piti”. Dihisapnya dalam-dalam rokok kretek mild warna putih yang konon rendah cafein. “Di dunia politik nak, hanya kepentingan lah yang berlaku. Tak ada yang abadi. Kejujuran hampir punah bak harimau Sumatera. Kebohongan, penipuan dan ketidakadilan bertabur di mana-mana”. Dihembuskannya asap rokok produksi Indonesia itu ke udara. Baru aku tahu, ketika ayah menghisap rokok, hasil hisapannya ia simpan di rongga mulut. Ia diamkan agak lama. Lima detik kemudian asap rokok ia hembuskan melalui mulut dan hidungnya. “pandai-pandailah nak dalam hidup ni”. Matanya menerawang ke dinding-dinding rumah yang penuh jelaga.

Rasa suka beliau ini diwariskan oleh ayahnya, atokku. Atokku bergelut dengan politik memang tak lama. Hanya tiga tahun saja. “setelah kupikir-pikir, kita sudahilah kegiatan ini. Cukuplah kita berbantah-bantahan disebabkan oleh partai politik”, kata ayah mengenang kembali apa yang pernah diucapkan oleh atokku. Dulu, atokku menjadi juru kampanye untuk Partai Marhaen, organisasinya bung Karno. Sedangkan sodara-sodaranya mentasbihkan diri untuk Nahdatul Ulama. Menurut keterangan ayah, pada saat itu atok dan saodara-saudaranya sempat perang dingin demi membela partai di mana mereka menceburkan diri di dalamnya. Kerap mereka bersitegang insang. Maksudnya, ngotot pada pemikiran sendiri terlepas dari benar atau salah. Di kampung kami, kalau ada orang marah-marah dan saling adu suara mempertahankan pendapat masing-masing, maka perihal demikian disebut bersitegang insang. Kebiasaan orang melayu, kerap menggunakan sesuatu yang ia lihat dan menjadikannya sebagai perumpamaan. Meski kadang-kadang perumpamaan itu dibuat semaunya saja.

Senin, 11 Juli 2012. Pukul 16.31 wib.

“apa kabar adinda? Sudah lama kita gak komunikasi. Sehat kan?” sapa suara dari ujung sana. Meski benar kenyataannya bahwa sudah cukup lama kami tak bertegur sapa, namun aku masih ingat suara berat dan serak lelaki ini. Kepalanya botak, matanya sipit, kulitnya putih ke merah-merahan, tingginya hampir sama dnganku, 160 cm, berkacamata minus, sedikit arogant, dan sekarang menjabat sebagai anggota DPR RI, yang mana kantornya pernah diduduki dan di lukis oleh artis kawakan Pong Hardjatmo. Dia, Desmond J. Mahesa.

“alhamdulillah sehat abangda”. Sebutan ‘adinda-abangda’ merupakan hal biasa bagia kami sesama aktivis HMI. Jadi bukan panggilan istimewa.

“kemana aja selama ini? Seperti hilang ditelan bumi”

“oh, iya. Betul. Ditelan bumi agar tak bertemu pada hingar bingar politik”
jawabku ringkas. Aku tahu betul bahwa lelaki di seberangku ini senang berbasa-basi. Kembali ia mengungkit cerita lama tentang permasalahanku di partai politik. Katanya, ia tak tahu bahwa sudah dua tahun aku tak beraktivitas di sana. Ia juga terkejut (aku yakin sekali reaksinya itu hanyalah pura-pura) bahwa aku dan kawan-kawan dipecat oleh Prabowo Subianto.

Ia memintaku untuk tidak gantung sepatu dari partai politik hanya karena aku dipecat tanpa alasan oleh si empunya ‘kekuasaan’. Ia berikan padaku nasehat standar seperti mana orang-orang kalah pada umumnya:
“sabar dinn. Berpolitik itu harus sabar. Usah gegabah. Jangan prustasi. Pelajari dulu langkahnya, cermati pengalaman, pahami permainannya”. Aku mendengar bunyi nafas tertahan. Ia pasti sedang tertawa di ujung telepon.
“abang akan usahakan agar dinna bisa di Gerindra lagi. Bisa berpolitik lagi. Tapi sabar dulu ya. Pokoknya hal ini akan abang bawa ke pusat. Akan abang perjuangkan”. Kali ini bunyi senyum melebar dan sedikit mengikik.

“dimulai dari struktur bawah dulu, yang penting bisa memperjuangkan rakyat” bunyi suara merayu ditingkahi gemericik air kebohongan.

Bla, bla, bla…

“oke ya dinn. Sampaikan salam saya pada ayah ya. Assalamu’alaikum”. Klik. Telpon ditutup. Enam kalimat terakhir itu membuatku tak kan pernah melupakan beliau sampai kapanpun. ‘Sampaikan salam saya pada ayah ya’. Sisanya, kupisahkan agar tak menjadi racun pikiran, supaya tak mencemari kehidupan.

Setiap kali menelpon, ia tak pernah absen kirim salam pada ayahku meski mereka tak pernah bertemu. Sungguh aku sayang pada orang-orang yang mengingat ayahku, menyapanya, menyanjungnya, menghormatinya. Rasa sayang yang hadir tiba-tiba dengan cara yang tak dapat kujelaskan. Memaksaku melupakan ledekannya, basa-basinya, juga keburukannya.

Enam kalimat darinya kusimpan dalam-dalam, kuletakkan dalam katong kemasan. Akan kuseduh jika tiap kali kepala botaknya mengendap-endap memasuki sarafku.

Tentang kekuasaan, tentang partai politik itu, aku tak mahu tahu. Sama sekali aku tak tertarik, tak lagi membayang-bayangkannya. Bukan berarti aku apatis maupun apolitis pada permasalahan politik negara. Hanya saja duniaku dan bang Desmond, juga politisi lainnya tak sama. Meski kami punya tujuan mulia yaitu kesejahteraan rakyat, namun kali ini perahu kami berbeda.

Cukuplah dua tahun Allah meletakkan kekuasaan itu ditanganku. Selebihnya aku mulai menata duniaku atas ridhoNya, atas izinNya, bukan karena doaku yang ‘memaksa’. Lenyap sudah persekongkolanku dengan kekuasaan. Allah yang memberinya atas ambisiku, Allah pula yang mengambilnya demi kecintaanNya padaku.

Kini aku berpijak di bumi yang sebenanrnya, sembari menatap langit dengan mata terbuka. Di sana, rupanya hidup ini seterang cahaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s