Belum hilang

Kenangan itu belum hilang. Mungkin lebih tepat bila kukatakan tidak akan pernah hilang. Bukan aku tak ingin menghapusnya atau sengaja memeliharanya. Akan tetapi sudah kucoba berkali-kali namun aku selalu gagal melakukannya.But moving on doesn’t mean you forget about things. It just means you have to accept what happened and continue living.

Sebenarnya, bila aku mengingat masalalu, bukan berarti aku merindui sosok di dalamnya. Akan tetapi aku merasa kehilangan terhadap kenangan yang pernah ada bersamanya. Seperti minum di café tempat kami biasa bercengkrama, berlari di pantai, membicarakan hal-hal aneh, membeli baju di toko favorit, menonton film-film random demi membunuh waktu bosan sebab pekerjaan, juga kerap ribut kecil karena memilih makanan.

“Biarkan aku mengingat-ingat sejumput kenangan bersamamu. Membongkar ulang kisah lama. Bermain dengan software dan hardwarenya. Sebab rasa ini tak kunjung binasa meskipun sudah aku coba menghapus semua judul cerita”

Tidak ada hal istimewa dalam dirinya. Dia hampir sama saja dengan lelaki manapun yang pernah kukenal, meski ayah adalah suatu pengecualian dari seluruh laki-laki yang kutemui. Dia nakal, suka menggoda, jelalatan, tidak setia, tidak begitu tampan seperti harapanku, sama sekali tidak kaya, tidak begitu cerdas, kurang mengenal fashion. Jika ada pemilihan the beast boy di dunia ini, kurasa dia masuk nominasi dan memperoleh peringkat harapan satu. Terlalu buruk bukan? Untuk kompetisi terjelek saja dia cuma dapat peringkat harapan. Sshhh…, malang sekali hidupnya. Jadi, barang siapa yang menjadi pendamping hidupnya, bersiaplah menghadapi penderitaan terpanjang.

Sejauh yang pernah kuingat, dia sangat menyebalkan. Suka bertindak semaunya. Usil juga. Penuh kejutan. Senang melakukan hal gila. Over protected. Sinting.

“apa nanti kalau kita tak bersama lagi, kamu akan tetap menyayangiku?” Sebuah tanya mengalihkan pandangannya dari suratkabar yang sejak tadi ia baca. Kemudian ia melirikku, dahinya berkerut berusaha meyakinkan bahwa yang kuucapkan barusan adalah sebuah pertanyaan serius.

“berpisah?” tanyanya seraya melipat suratkabar dan meletakkannya di meja. Diseruputnya juice avokad yang sudah tak lagi dingin. Sebenarnya ia tak suka juice avokad. Minuman favoritnya teh manis hangat. Tapi karena di café yang kami singgahi tak menyediakan teh, lalu ia memintaku memilihkan minuman untuknya. “tapi kenapa harus berpisah?”

“ya jawab saja” ujarku sekenanya. Menurutku itu bukan pertanyaan sulit. Makanya kutanyakan padanya. Sialnya, aku kerap lupa bahwa kecerdasannya berpikir cepat serta menganalisa, jauh di bawahku. Untung saja tidak di bawah rata-rata. Jika sampai itu terjadi, aku pasti akan menutupi wajahnya dengan kantongan plastik kalau kami jalan berduaan.

Ia berpikir agak lama. “pertanyaan itu tidak harus ada karena kita tidak boleh berpisah. Kamu mau kemana? Lari diam-diam? Sembunyi? Kamu tahu, aku akan terus sayang sama kamu sampai kapanpun. Dan kita harus tetap bersama!” Ekspresinya saat mengatakan demikian sungguh mengerikan. Kalau saja ia beruang, pastilah aku ditelannya tanpa sisa. Wajahnya memerah, matanya melotot, tangan kanannya mencengkram lenganku erat hingga membuatku mengerang kesakitan. Kemudian seperti biasa, ia minta maaf dan menarikku ke arahnya. “tetaplah di sini, aku sangat-sangat sayang kamu…” bisiknya lirih padaku.

Selama bersama, -aku tak tahu disebut apa hubungan ini- kecemburuan kerap hadir di antara kami. Ia sangat super pencemburu. Ia bisa ‘panas’ bila laki-laki lain melihatku. Marah karena aku bicara pada teman laki-laki yang menurutnya terlalu akrab. Selalu khawatir bila aku tak berada di sampingnya. Ia juga tak pernah membiarkanku berpergian sendiri. Bila tak punya waktu menemani, ia menyuruh temannya mengawalku. Persis security.

Penyakit itu bisa membakar hati dan kepalanya hingga kecemburuan pun berubah menjadi bencana. Ia melempar segala benda yang ada di sekitarnya, membanting handphone, merusak pintu dan kaca depan mobil, memukul dirinya sendiri, merusak apapun. Selanjutnya ia membujukku karena melihatku terdiam dan ketakutan. Minta maaf dan berjanji tidak akan marah lagi. Lalu ia membawaku ke café, memesan dua minuman kesukaanku bersamaan, teh tarik dingin dan juice strawberry, prata, dan mie rebus. Memang, hanya orang sinting yang bisa melakukannya.

Seperti kukatakan sebelumnya, ia lelaki yang penuh kejutan. Ia menghadiahiku jam tangan, memberiku sepasang hamster yang ia letakkan di meja kerjaku, dan setiap bertemu, ia selalu membawa coklat kesukaanku. Pernah suatu kali ketika kami shopping berdua, ia menghilang di tengah keramaian. Aku benar-benar panik saat itu. Bukan karena takut tak bisa menemukan jalan dalam kesendirian, tapi aku mencemaskannya karena ia pasti marah-marah dan mulai menuduh bahwa aku sengaja menjauh. Di ujung pintu keluar, ia lalu menyodorkan bungkusan padaku. Isinya tshirt keren warna ungu.
Huhh… Isn’t it ironic that the only person who can make you really happy is the same person who makes you sad and lonely?

Pada kenyataannya, sepertimana telah kuprediksi jauh sebelum kami sangat dekat, aku dan dia berpisah begitu saja. Tak ada kata dan pertemuan untuk mengakhirinya. Kami memang tak bisa hidup bersama untuk menekan tombol on pada status ‘percintaan’ berikutnya. Perlu keberanian untuk memperjuangkan yang kau inginkan, bukan? Namun keberanian tak ada dalam dirinya. Dan aku, tak bisa berkompromi dengan orang seperti itu.

“Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan” (Federich von Schiller)

Dua tahun sudah kami tidak bicara juga tak pernah bertatap muka. Pernah kudengar mereka berkata bahwa kenangan akan hilang seiring berjalannya waktu. That’s wrong, camerade. Bahwa sesungguhnya waktu tak mampu lenyapkan bayang masalalu dari pikiranmu. Kenangan tak bisa dihapus dan tak bisa dipaksa hilang. Yang benar adalah, seiring berjalannya waktu, lalu semuanya menjadi normal meskipun di sana-sini banyak luka yang perlu ditambal.

‘bagaimana jika ia ingin kembali?’
mengingat kenangan, bukan berarti bersedia membuka hati jika kenangan itu datang, bukan?

Dari seluruh kejadian itu, aku melahirkan kesimpulan bahwa dia bukan laki-laki sejati. Sebab laki-laki sejati adalah dia yang bertanggung jawab sampai akhir.

2 pemikiran pada “Belum hilang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s