tiga tahun silam, tentang mesin air di belakang rumah

Sore yang cerah, pada tiga tahun silam. Aku bersungut karena sedang menunggui ayah memperbaiki mesin sanyo di belakang rumah. Lebih tepatnya, kala itu aku diajak ayah untuk memperbaiki mesin air. Apa yang kutahu tentang mesin air itu? Cukup menekan tombol on dan off. Jika rusak, ayahlah yang kuberitahu lebih dulu. Sebab ia selalu berhasil membereskan segala sekalipun ia tak pernah bersekolah pada daftar jurusan universitas. Ayah terhebatku itu hanya bersekolah hingga kelas tiga sekolah dasar. Tapi ia sangat hebat dari ayah manapun yang kukenal.

“kalau sudah sekolah, berarti banyak tahu. Setidaknya sedikit lebih paham dari orang tak sekolah. Lebih pintar dari penceramah warung kopi”.

Dari tingkat TK maupun perguruan tinggi, atau apapun namanya, ayah menyebut setiap lembaga pendidikan dengan ‘sekolah’. Padahal saat itu aku sudah duduk di bangku kuliah di satu universitas ber-flat merah. Baginya, level, tingkatan, grad, bukan suatu hal berarti bila masih ada yang tak diketahui.

“tapi Yah, tak semua di dunia ini bisa diketahui. Karena ada sesuatu tersembunyi yang sampai sekarang tetap menjadi misteri”.

Kau pikir ayahku mengangguk-angguk setuju menerima retorika semacam itu meski diiringi berbagai referensi? Tidak mudah berbicara dengan ayah jika pengetahuan tak luas. Gampang saja beliau mengatakan bodoh bila tak mampu menjawab pertanyaannya, menyangkalnya, atau berdebat dengannya. Tak hanya aku, saudara-saudara beliau pun enggan bercerita pada ayah. Sebab ketika ayah mulai bicara, rasanya udara panas mengisi seluruh ruangan, menumpat jalan saraf otak, kemudian menghipnotis seluruh peserta khotbah untuk menyetujui setiap ucapan beliau.

“jadi, mesin aer itu sesuatu tersembunyi? Suatu misteri, begitu?”

Suatu kali, saat ayah menanyakan padaku tentang kasus korupsi seorang politisi, aku berbohong pada ayah bahwasanya aku telah membaca dan memahami kasus tersebut. Kuterangkan padanya berita korupsi yang kuakui kubaca dari majalah Tempo. Sekejap ayah terpana dan sedetik kemudian ia langsung marah besar mendengar penjelasanku. Katanya aku semakin kelihatan bodoh karena mengarang cerita. Katanya juga bacaanku bukan majalah berkelas, tapi koran kuning. Ayah juga bilang bahwa kebodohanku sudah di level akut, kelak akan menjadi tambah tolol jika aku meneruskan kebiasaan sok tahu ku itu.

“tidak memang Yah. Tapi membetulkan mesin air itu kan susah” jawabku membela diri.

Tangan kokoh ayah masih sibuk mengerjakan mesin air. Sesekali ia menyeka keringat di dahinya. “makanya diperhatikan, dipelajari, dan dipahami. Nanti kalo ayah tak ada, siapa yang mau mengerjakannya? Bolehlah memanggil tukang air kalau mesin tuh rusak pagi-pagi atau siang hari. Tapi kalau malam?”

Aku adalah sahabat debat terbaik ayah. kami kerap berdiskusi tentang topik yang kami ingini. Jika kami bertemu, semua hal ia bincangkan padaku. Apapun itu. Meski bahan bacaanku sangat mini, entah kenapa ayah tak pernah jera. Kupikir, karena aku selalu punya jawaban yang bisa membuatnya geleng-geleng kepala, mengurut dada, sekaligus tertawa mendengar kebodohanku.

“aku selalu berdoa agar ayah panjang umur supaya selalu membantuku membereskan pekerjaan rumit. Dan juga, aku akan membuat dua buah kolam renang besar di rumah. Jadi bila ayah tak ada, aku bisa menggunakan air kolam untuk setiap hal yang membutuhkan air”.

Hingga tulisan ini tercipta, sudah dua puluh satu hari mesin air sanyo di rumah kontrakanku tak berfungsi. Rumah ini tak menyediakan air pemerintah alias air PAM. Kemarin sudah pernah diberitahu tentang keadaan air di lingkungan ini, hingga pejabat setempat sontak mengetuk palu setuju, berjanji untuk menyediakan air. Sepertimana pemerintah Indonesia, usahlah dipercaya. Sebab bagi mereka berjanji adalah suatu hobi, sedang aplikasi berada di urutan belakang. Inilah tabiat warisan, turun temurun sejak zaman penjajahan.

Pemilik rumah sudah kukabari soal kerusakan mesin air ini. Katanya ia sudah memanggil tukang, dan aku harus sabar menunggu. Sudah kuperiksa secara sederhana, namun sama sekali tak kutemukan apa yang harus diperbaiki. Wajar memang. Sebab program studi yang kuambil sewaktu kuliah adalah ilmu politik, bukan elektronik.

Tapi aku rindu ayah. Aku ngin pulang dan memintanya mengajariku cara membetulkan mesin air. Aku ingin tahu tentang mesin itu hingga tak perlu lagi menunggu janji basi pemilik rumah. Aku ingin menggunakan mesin waktu, kembali ke masa silam di mana saat itu aku bersungut karena bosan menunggui ayah membetulkan mesin air di belakang rumah.

3 pemikiran pada “tiga tahun silam, tentang mesin air di belakang rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s