Marhaban ya Ramadhan, wa ustadz tarji’ al-an

Ramadhan kali ini, sungguh sangat berbeda dengan ramadhan dua tahun lalu dan tahun berikutnya. Ritualnya tetap sama, ada berbuka dan sahur, ada tarawih dan witir, membanjirnya sinetron religi dan lagu islami, semaraknya model baju, meriahnya warna kerudung, hadirnya es taliban, timun aceh, urap, kurma, bubur pedas, serta berbagai makanan yang sangat sulit ditemukan di hari-hari biasa.

Meski tak mandi mangir untuk mengawali puasa, meski jauh dari ayah dan keluarga, meski masih tinggal di rumah kontrakan, meski masih di kota Medan, meski karir dan pencapaian jauh dari jaya, juga meski masih sendiri, tapi bagiku, ramadhan di tahun 2012 edisi 1433 H ini penuh suka dan bahagia. Ada rasa haru menyeruak dari dalam dada ketika ramadhan sudah di depan mata, pun katika ramadhan bear-benar tiba. Dari jauh-jauh hari, telah kupersiapkan diri agar lebih siap menyambutnya, kutata hati untuk lebih ikhlas menjalankannya, kubolak-balik lembar Quran untuk menandai surat demi surat yang telah kuhabiskan, kumasuki mesjid untuk dapat tarawih berjamaah, kurangkai daftar doa agar tak ada yang terlewat untuk aku panjatkan padaNya. Perkara baju baru, tas baru, sepatu baru dan segala barang-barang baru, tak lagi menjadi prioritas utama. Intinya adalah jiwa baru, hidup baru, mengawali ramadhan dengan ketulusan untuk mendapatkan berkah dan ampunan.

Dulu, tepatnya tahun 2009 hingga tahun 2011, aku begitu membenci Ramadhan. Hanya untuk kurun waktu tersebut asal mula rasa benciku. Kebencian itu diawali ketika aku terjun di dunia politik dan menjalin ‘persahabatan’ dekat dengan kolega-kolega dari kalangan politik. Tak hanya membenci ramadhan, tapi aku juga sangat sering meninggalkan sholat, menghindari zakat, juga kerap melewatkan Dhuha yang biasa kulaksanakan. Saat itu aku berpikir bahwa hidupku masih panjang. Kesempatan untuk bertaubat terbuka lebar, kapanpun dan dimanapun. Jadi untuk apa beramal di usia dini? Toh aku tak akan mati untuk saat ini dan beberapa tahun lagi. Tuhan kutempatkan di deretan paling belakang.

Aku berkarir di Partai Politik pada usia yang masih sangat muda, 23 tahun. Selagi masih muda, kekuasaan adalah kelemahan dan godaan bagiku. Kupikir, kekuasaan adalah hal yang aneh. Tetapi barangkali mereka yang paling ocok dengan kekuasaan adalah mereka yang tak pernah mencarinya, mereka yang hanya berjuang untuk kemaslahatan umat, yang benar-benar berbuat untuk rakyat. Bukan semata-mata kepentingan pribadi, tidak untuk mencari popularitas, pun tidak untuk menumpuk kekayaan.

Dan akhirnya, Tuhan melaksanakan tugasNya dengan rapi dan sempurna. Aku dan beberapa rekan yang telah banyak berjuang sejak pendirian partai, dijatuhkan oleh pemilik partai. Kami digulingkan tanpa sebab dan alasan. Didepak tanpa musyawarah, tanpa kongres, tanpa rapat, lebih parahnya tanpa bicara dan tatap muka dengan atasan. Tiba-tiba sudah ada Ketua baru di Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Sumatera Utara berikut susunan pengurusnya. Sungguh ngilu perasaanku saat itu. Bagaimana tidak? Kami kerja mati-matian membentuk dan mendirikan partai baru ini di tingkat Provinsi, akan tetapi sedikitpun kinerja kami tak dihargai. Aku dan beberapa rekan di DPD dibuang begitu saja. Sementara itu kawan-kawan di daerah dicopot satu persatu. Dulunya mereka duduk di kursi strategis sebagai Ketua kecamatan ataupun sekretaris, kini diposisikan sebagai Dewan Penasehat, wakil ketua sekian, wakil sekretaris sekian, wakil bendahara sekian. Pecat ala Jepang. Mereka diberi ‘meja kosong’.

Selanjutnya seiring waktu berlalu, aku cukup memahami bahwa sesungguhnya mereka, atasanku, bukan mengelola organisasi melainkan mengelola perusahaan. Mereka lebih menyukai uang daripada orang. Mereka lebih tertarik pada materi daripada kader militansi. Kemudian aku juga bisa mengerti bahwa segala yang telah kualami saat itu, adalah bagian dari proyek Tuhan. Ia memberiku ujian sederhana, agar supaya aku terhindar dari maha bencana.

Ujian demi ujian yang aku alami saat itu membuatku sadar bahwa tak seorangpun yang bisa melawan kekuasaan Tuhan. Tidak pula atasanku dan para pengekornya. Entah apa yang mereka lakukan saat itu dan hingga kini. Kudengar mereka masih mengelola perusahaan untuk menciptakan mesin uang. That’s their project. Aku tak berminat lagi dengan cerita partai, pun pada antek-anteknya. Aku tak lagi punya hubungan dengan mereka. Komunikasi sudah terputus sejak lama.

Nafsi nafsi bukan? Sebaiknya aku harus lebih fokus dengan hidupku dan keluargaku. Berjuang demi mimpi dan harapan yang kembali kubangun setelah sekian lama kuporakporandakan. Me-menej diri menjadi lebih kuat, tegar, tangguh dan tentunya pencinta Tuhan.

Rupa-rupanya aku merindukan Dia. Sudah lama jalan itu tertutup oleh semak kesombongan, oleh belukar keangkuhan, hingga yang tampak di depan mata hanya harta dan tahta. Dunia itu benar-benar fatamorgana jika terpisah dariNya. Sejatinya, begitu jauh aku berjalan ke dalam kubangan kemaksiatan, namun tak sekalipun Ia tinggalkan.

“bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmah dan ampunan…”

Tarawih pertamaku cukup berhasil meskipun terkantuk-kantuk mendengar ceramah ustadz di Mesjid Al-Bukhori. Seharusnya, ini menjadi momen mengharukan disaat aku antusias menyambut kedatangan Ramadhan. Namun ustadz tersebut merusaknya dalam hitungan waktu 30 menit ceramah ba’da Isya. Ia begitu asik berbicara tanpa mempedulikan jamaah yang tampak tak acuh pada isi pidatonya yang panjang.


“jadi kita harus menyambut ramadhan dengan hati riang gembira…”

Daftar doa sudah kutulis di diary coklat. Urutan pertama adalah beli notebook dan kamera, kemudian rumah dan mobil, selanjutnya debut buku pertamaku. Di atas semuanya adalah permintaas prioritas. Utama dan paling utama: semoga jodoh abang, kakak, dan jodohku disegerakanNya. Amiinn…

“segerakanlah berbuka. Tapi jangan banyak-banyak. Nanti perutnya meledak…”

Aku yakin Ustadz itu ingin melucu. Namun malang sekali, ia gagal melakukannya. Padahal begitu banyak acara lawak di televisi, banyak ustadz dan da’I yang bisa melucu tanpa mengurangi esensi ceramah mereka. Tidakkah ia mengambil pelajaran?

“intinya, berpuasalah dengan niat…”

Oh, bisakah ia segera mengakhirinya sebelum aku ditelan kemalasan?

Ket.
Marhaban ya Ramadhan, wa ustadz tarji’ al-an : selamat datang ramadhan, dan ustadz pulanglah sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s