kepada lelaki yang menunggu ibunya

Jalanan sangat becek dan berlumpur akibat hujan turun sepanjang hari. Sepatu baruku basah dan kotor dibuatnya. Apa boleh buat, tak ada tempat untuk menghindari cipratan. Belum lagi kakiku yang sudah terinjak dua kali. Entah sengaja entah tidak tapi tak seorangpun minta maaf setelah melakukannya. Apa mereka pikir aku ini patung lilin yang tak bereaksi jika ditendang, dicubit, disenggol, diinjak, juga ditembak? Lihat saja, untuk ketiga kalinya aku akan teriak!

Barangkali orang-orang ini tak pernah melewatkan hari pekanan di mana segala jenis barang baik yang baru maupun bekas dijual obral. Mereka menawar segala jenis barang semurah-murahnya agar sesuai dengan ukuran kantong. Kalau sudah pekanan, sepertinya penduduk se-kota Medan membanjiri pajak ini. Ramai-ramai macam semut karnaval mereka cuci mata berjam-jam meski kaki pegal. Tak sah bila belum menginjakkan kaki di hari pekan. Biarpun hanya melihat, menawar, kemudian pulang dengan tangan kosong. Schedulle wajib agaknya. Bila tak dikerjakan akan merugi, bila dikerjakan akan mendapat keuntungan.

Heran, padahal sudah tengah bulan tapi orang-orang seperti tak ada habisnya lalu lalang. Mustahil jika isi dompet mereka tak menipis. Mereka beralih dari satu kios ke kios lainnya, berjalan terburu-buru dan berdesakan tanpa menghiraukan genangan air di jalan bolong tak beraspal. Lantas apa peduli mereka pada sepatu baruku? Pada kakiku?
Sungguh suatu tragedi ketika mendapati kenyataan bahwa di dunia ini semakin langka orang yang peduli. Negara dan masyarakatnya sebelas dua belas. Sama-sama acuh melihat keadaan di depan mata. Jalan rusak tak beraspal, drainase tumpat, kondisi pajak yang jorok bak tempat pembuangan akhir, tidak ada halte tempat menunggu angkutan motor sehingga pengguna jasa angkot berjubel menunggu di depan jalan masuk menuju pajak, lokasi parkir dan tempat berjualan tak beraturan sampai menggunakan badan jalan.

Zaman apa sekarang? Tentu saja zaman reformasi. Zaman perubahan di mana hadirnya gerakan untuk mengubah kembali tatanan yang telah sudah usang, mengubah sistem yang tak bisa lagi menyembuhkan penyakit negara dan rakyat. Mengubah dan mengubah! Mengubah undang-undang, mengubah peraturan, mengubah kebijakan, berikut mengubah letak duduk aparat di dalamnya. Pendeknya hanya mengubah, habis perkara.

“di mana kau tadi?” Seorang Edak menumpahkan amarahnya pada seorang lelaki yang baru tiba dengan sepeda motor. Tergurat kekhwatiran di wajah si Edak sebab menunggu terlalu lama. “Mamak tengok jugak kau di depan tukang ayam, tapi gak adak”. Rupanya lelaki ber-helm di atas sepeda motor itu adalah anaknya. Kutaksir umurnya 27 tahun, sebaya denganku. Mereka persis di hadapanku, di tepi badan jalan, diapit tukang buah dan tukang gorengan. Sejak tadi, sekitar 20 menit sebelum anaknya muncul, aku dan si Edak berdiri bersisian. Kepalanya menoleh ke kiri ke kanan, celingak celinguk seperti sedang menonton pertandingan Badminton. Kupikir ia senasib denganku, menunggu angkutan kota.

“tadi aku di sini” ujarnya agak memelas seraya memaksudkan kalau ia sempat menunggu mamaknya di tempat yang telah dijanjikan. “tapi karena diusir tukang parkir, kutunggulah mamak di depan Indomaret”. Diambilnya bungkusan hitam besar berisi sayur dari tangan mamaknya. Ia letakkan di stang kiri sepeda motor. Si Edak menyodorkan satu bungkusan lagi. Kali ini berisi alat-alat dapur. Padahal stang di kiri kanan sudah dipenuhi bungkusan. Anaknya mencari tempat kalau-kalau masih ada ruang tersisa untuk menggantungkan barang belanjaan. Sesekali ia membetulkan letak helm yang masih menempel di kepalanya seraya curi-curi melirikku. Tampaknya berusaha menyembunyikan malu, namun tak berhasil.

Suatu pemandangan yang unik dan menarik. Aku memperhatikan mereka sejak tadi. Senang rasanya ketika melihat seorang anak lelaki begitu dekat dan sayang pada ibunya, pada orang tuanya.

Aku jadi teringat ayah. Dua belas tahun silam di Jabal Rahmah, Makkatul Mukaroomah. Orang itu terheran-heran memandangiku. Badannya tinggi besar, mata bulat dengan kelopak tertekuk ke dalam, kulit hitam legam, dan jari jemari raksasa yang telah mendorong ayahku itu, tampak kasar dan kokoh. Ia menaikkan bahu serentak dengan mengangkat kedua tangan ke udara.
“apa?!! Kenapa rupanya kalau ayahku mau lebih dekat ke tugu jabal rahmah? Apa masalahmu? Jangan kau dorong ayahku. Sekali lagi tanganmu menyentuh ayahku, matilah kau!!” Kuarahkan kepalan tinjuku padanya. Aku tak peduli walau saat itu kami jadi pusat perhatian orang yang sedang beramai-ramai berdoa dan menuliskan nama di tugu.

“limadza hunaka ya hajj? Limadza?” Penziarah Jabal Rahmah mulai terusik dengan keributan yang kuciptakan. “sobrun ya hajj” Sabar katanya? Meski dalam keadaan beribadah Haji dan sedang menziarahi Jabal Rahmah sekalipun, aku tak kan menyurutkan marah karena ia telah mendorong ayahku yang sedang berdoa di Jabal Rahmah. Memang ayahku tak terjatuh, hanya nyaris. Tapi dalam hal ini, bagiku ‘nyaris’ sama dengan mengusik. Betul ia tak sengaja. Tapi saat itu aku ingin benar-benar meninju batang hidungnya, juga dengan ‘tak sengaja’.

Si Negro itu ditarik teman-temannya menjauh dariku. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak paham. Yang jelas, aku sudah cukup puas karena telah membentaknya. Sekalipun ia tak mengerti bahasaku, tapi aku yakin ia bisa melihat emosiku menggebu-gebu.

***

“lama kau menunggu mamak?” Si Edak memegangi pundak kiri anaknya erat-erat. Sepertinya ia kepayahan menaiki sepeda motor.
“agak lama jugak la” disodorkannya satu bungkusan ke mamaknya. “pegang ini ya mak. Tak muat stang ku”. Di starter-nya motor, dibetulkannya kembali letak helm. “pegang kuat mak?” ujarnya memastikan mamaknya duduk nyaman sebelum motor melaju. Lalu ia akhiri teatrikal 20 menit itu dengan seulas senyum dan anggukan ke arahku.

Edak : ibu/kakak
Pajak : pasar (bahasa Medan)
limadza hunaka ya hajj? Limadza? : kenapa engkau ya jama’ah? ada apa?
sobrun ya hajj : sabar ya jama’ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s