Lampu kuning bagi para pemimpi

Sebenarnya, ia punya pikiran yang tidak kelewat jelek mengenai, ‘hidup sederhana dan bercita-cita biasa saja agar kucing tak tertawa’. Pemikirannya itu ia sodorkan padaku, lebih tepatnya ia paksakan agar aku terapkan. Nah, itu yang salah. Bahkan tidak sesuai dengan prinsip kebebasan dan kemerdekan di negara ini.

Beberapa tahun lalu kira-kira medio 2009, aku mendengar namanya disebut-sebut oleh seorang lelaki, biasa kusapa Bang Iman yang pada waktu itu ikut dalam bursa calon legislatif untuk Provinsi Sumatera Utara. Bang Iman memilih Medan sebagai daerah pemilihannya. “susunan calegnya sudah lengkap, bang? Ada calon perempuan kan?” tanyaku membuka pembicaraan saat tiba di ruangan pribadi kantornya. Ruangan itu berukuran 3x4m, berdinding kaca transparan kedap suara. Posisiku bertanya bukanlah sebagai wartawan, melainkan sebagai bendahara Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerindra Provinsi Sumatera Utara. Aku hanya hendak memastikan caleg susunannya, apakah ada perempuan di sana sebagai sarat pencalega-an suatu partai agar bisa lolos verifikasi bursa calon legislatif.

“caleg perempuan abang tempatkan di nomor tiga, namanya Troyana. Dia seksi seperti kuda troyan” jawabnya seraya tersenyum penuh makna. Aku bisa menangkap kedipan mata sebelah kirinya meski sangat cepat sekali. Dari kedipan mata nakalnya, bisa kutaksir orang ini terbiasa menipu dan berbohong untuk menyelamatkan dirinya. Kudengar-dengar, reputasinya sebagai anak pengusaha besar juga tidak bagus. Ia manja, suka poya-poya, senang mengkoleksi perempuan cantik, dan hobi kawin-cerai. Sampai pada saat ini, ia sudah kawin tiga kali dan cerai tiga kali.

Kelebihannya, ia berasal dari keluarga kaya raya, ayahnya seorang pengusaha yang namanya cukup diperhitungkan di Sumatera Utara. Orang-orang selalu hormat dihadapan orang berduit, bukan? Rela tertunduk-tunduk di depan mereka. Tersenyum memelas, mau melakukakan apapun yang diperintahkan seperti kerbau dicucuk hidungnya. Kelebihan itu dimanfaatkan bang Iman dengan sangat baik, seperti yang diajarkan pemimpin-pemimpin kita dan seperti yang diwariskan oleh penjajahnya. Memang, Indonesia sudah lama merdeka dari jajahan Belanda. Tapi Belanda mewariskan watak penjajah di belakangnya.

“nama yang aneh. Teman lama atau?” tanyaku karena tak bisa menahan heran. Namun siapa yang tak kenal bang Iman. Meski rahasia yang ia simpan tak dicari tahu, kelak ia sendiri akan memberi tahu. ‘mulut ember’ begitu teman-teman menjulukinya.

“kenalan abang donk. Panggilannya Kiki. Dia janda. Maksud abang dia sedang mengurus perceraian.” Jari-jarinya membolak-balik kertas folio berisi susunan caleg. Jemari besar itu penuh cincin batu permata. “Kalaupun dia tak janda, nanti bisa abang jandakan”. Sontak aku tersenyum geli ketika mendengar pernyataannya. Dari abang inilah pertama kali kudengar nama Kiki, ‘si kuda troyan seksi’ menurut bang Iman.

Entah bagaimana kami bisa dekat. Maksudku, aku hanya sesekali mendengar namanya, itupun karena kami berada di bawah payung organisasi yang sama. Selanjutnya berteman di facebook, kemudian tanpa sengaja saling bertukar nomor telepon dan pin BlackBerry, juga tanpa sengaja saling barter cerita meski tak pernah bertatap muka.

Menurut kak Kiki, begitu aku memanggilnya, ia mendengar selentingan kabar tentangku di Gerindra. Betul kalau aku dan kawan-kawan DPD dilempar keluar oleh Pusat, oleh Jakarta. Entah siapa pusat itu, yang jelas ‘mereka’ mendepak satu kapal tanpa alasan, perintah, ketentuan, musyawarah, rapat dan pemberitahuan. Hanya ada dua lembar surat, pertama; kami diganti, kedua; perihal kepengurusan baru. Selesai.

Kemudian yang menjadi persoalan, ia tak pernah sungguh-sungguh menanyakan mengapa aku dan kawan-kawan diberhentikan. Ia hanya tertarik pada isu lain, tentang kisahku dan seseorang di partai, meski bagiku cerita itu telah berlalu, sudah usai. Terus mengorek cerita dan cerita di baliknya, juga menyebut-nyebut nama orang tersebut hingga aku bosan. Sesekali ia menasehati bahkan menggurui aku yang sejak bertukar kisah dengannya menyamar jadi si pandir yang menderita dan tenggelam dalam kisah lama. Ia kerap menanyakan pekerjaan dan kegiatanku. Kujawab kerjaku main-main saja, ia tertawa. Kukatakan bahwa ayahku baik sebab telah mengirimiku pulsa sepuluh ribu, ia komentari dengan cibiran. Katanya ayahku perlu dikasihani karena sudah tua masih saja membiayai anaknya.

Apakah ia sadar bahwa kami, aku dan dia tak pernah bertemu meski sekali saja? Apakah orang itu sadar bahwa ia sama sekali tak tahu latar belakangku, sejarah hidupku, bagaimana keluargaku, dan sedekat apa hubunganku dan ayah? Jujur saja aku berang bukan alang kepalang. Rasanya seperti ada tangan jahil melempar jendelaku dengan tinja. Kalau dibolehkan, ingin aku memukulkan The Kite Runner-nya Khaleed Hossaini yang edisi gold ke kepalanya. Biar siuman. Apa boleh buat, Tuhan tak mengajarkan demikian.

Pagi itu langit gelap tak berawan. Matahari belum muncul dari peraduan. Tanda-tanda hendak hujan, memang. Namun mendung tak berarti hujan kata seseorang dalam nyanyian. Tiba-tiba terdengar bunyi beep dari BlackBerry Messenger (bbm) ku. Kulihat notifikasi, ternyata perempuan itu lagi. Ia menanyakan hal apa yang kukerjakan pagi itu. Kujawab seadanya mengingat betapa mudahnya orang ini men-jastifikasi. Lagi, ia memberiku wejangan tentang bagaimana menata hidup, menyuruh menikah, membangun keluarga, sampai merangkai doa dan mencipta cita-cita. Hingga di sela-sela pagi yang mendung itu ia bertanya apa cita-cita, mimpi dan harapanku. Diiringi senyum sepenuh hati dan rasa percaya diri, kuucapkan bahwa aku ingin jadi Menteri Luar Negeri. Sengaja kutunggu bunyi beep selanjutnya demi melihat tanggapan apa yang ia berikan. Lima detik kemudian, “kalau bermimpi jangan berlebihan dan aneh-aneh. Hahahahaha, ntar diketawain kucing, sayang” disertai ikon big smile. Bagaikan asisten Tuhan, ia dengan bagus sekali mengontrol dan membatasi cita-citaku seakan-akan aku ini warga negara yang tak cukup pantas bermimpi besar.

Sementara aku, aneka reaksi bermunculan. Geram, marah, kesal, heran, juga keinginan menggebu-gebu ingin segera mewujudkan mimpiku. Ia juga menambahkan banyak wejangan yang tak lagi kubaca sebab keningku lebih dulu terantuk pada tertawanya.

Lalu aku mondar-mandir di rumah sembari menekan-nekan kening demi untuk memahami kata-katanya. Apa untungnya ia mendzolimi keinginanku, harapanku, cita-citaku, mimpiku? Bukankah ketika seseorang bercita-cita itu berarti ia telah menempatkan cita-cita itu pada kotak perhiasan, di mana suatu saat kelak ia akan menemuinya dengan bangga seraya berkata ‘aku bisa!’ Bukankah ketika seseorang bermimpi itu berarti ia telah merangkai puisi dengan tujuan agar Tuhan membaca kemudian mengabulkan? Bukankah bapak founding fathers negeri ini pernah berucap ‘gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit?’ Bukankah Tuhan pula pernah berfirman, ‘mintalah, niscaya akan Kuperkenankan?’ Bukankah bermimpi itu hak mutlak seseorang?

Betapa hebat perempuan ini. Dia yang tak pernah kutemui, tak pernah tatap muka walau hanya sekelip mata, dia pula yang menghakimi mimpiku hingga nyaris menghempaskan semangatku untuk berjuang demi mimpi itu.

Ujung-ujungnya aku membeli gorengan di samping rumah, mencelupkan sepotong pisang goreng ke dalam kopi yang belum sempat kuhabiskan. Sungguh satu loncatan yang amat jauh ke depan, perempuan beranak dua yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu mampu mendahului teknik Tuhan berkerja serta bisa menyoal cara mimpi menemui takdirnya.

Akhirnya aku membuat kesimpulan. Berhati-hatilah memberitahukan mimpi, ide, harapan dan cita-citamu pada orang lain. Siapapun itu. Hingga kau benar-benar menemukan seorang yang tepat untuk menceritakannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s