bisakah kita mengakhiri penderitaan ini dengan selang 20 meter?

Di rumah ayahku Tanjungbalai, suatu daerah pesisir bagian kota di Provinsi Sumatera Utara, mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah melaut (jangan sebut nelayan, karena pekerjaan mereka memang melaut ke laut lepas, bukan mengitari sungai kecil dengan jala). Meski luasnya hanya 60 km² setelah diperluas dari 2 km², namun merupakan perkampungan komplit. Semua yang kau perlukan ada di kota ini. Dari ikan asin sampai lobster, dari sambal terasi sampai sambal kacang, dari perawan ting-ting sampai janda kaya, juga segala tukang seperti tukang tambal ban, ketok magic, tukang kompor, tukang AC,tukang kue, tukang kulkas, tukang reparasi Playstation tukang bangunan, tukang air, tukang listrik, tukang perahu/kapal, tukang pulsa, tukang bakso, tukang hias pengantin, sampai tukang gosip, tukang bongak (bohong), dan tukang kombur ada di sini.

Jika kuibaratkan, kota yang dulunya pernah dikuasai Belanda kira-kira tahun 1915 ini adalah sebuah toko serba ada atau toko kelontong yang menjual segala macam barang, segala macam bentuk dan rupa. Kau tinggal sebutkan nama barangnya, satu menit kemudian penjual akan membawakannya sesuai dengan permintaanmu. Soal harga, sudah tentu terjangkau, tak sama seperti harga supermarket juga tak melampaui Harga Eceran Tertinggi alias HET.

Untuk pelayanan tak perlu diragukan. “kapan bapak mau dibolo (diperbaiki), panggil sajo aku”, ujar mereka ketika kau mengeluhkan tentang begitu inginnya kau menikmati AC rumahmu yang sudah sebulan lalu tak berfungsi. Kemudian kau angkat telpon, tekan beberapa digit nomor tukang, dalam sekejap ia sudah berdiri di depan pagarmu. Bukan perkara mereka sangat butuh uang, tapi begitulah tabiat penduduk kampungku. Mereka senang bekerja. Sangat berbeda dengan penduduk kota, mereka giat bekerja, sangat giat. Bahkan untuk menikmati hidup pun mungkin tak sempat. Dibantainya mengisi jurnal dan memasukkan data ke file komputer hingga waktu prime time keluarga. Namun senang berbeda dengan giat. Penduduk kampungku, senang mengerjakan apapun yang mereka mau, apapun yang mereka suka. Meski sebenarnya tak bisa, oleh sebab rasa senang tadi, apapun akan mereka lakukan. Tapi jangan usik saat mereka cakap ‘malas’. Sebanyak gaban kerjaan di depan mata, tak mau mereka pegang. Ditengokpun tidak.

Biarpun dulu kota kecilku pernah berstatus gementee akibat lama dijajah oleh Negara Kincir Angin, namun perangai penjajah tak membekas pada penduduk kampungku. “dijajah compagnie, meski membekas dalam ingatan, tapi tak meninggalkan parut di hati. Dijajah bangsa sendiri, bukan luka saja yang menganga,tapi airmata tak berhenti mengalir hingga kini. Saking perihnya” ujar Atokku di suatu pagi ketika diboncengnya aku di sepeda zendegi (sepeda ontel). “Sesama bangsa pun bisa saling tipu. Begitulah pengajaran pemerintah kita ni”.

Penduduk kampungku senang membantu, hobi meringankan pekerjaan orang lain, selalu ingin tahu, juga suka bergosip. Kalau di Medan, aku tak tahu benar bagaimana perangai penduduknya. Tapi selama aku menetap di kota ini, sudah seringkali aku dibohongi karena mereka tak tepat janji. Lagi-lagi Das sein tak sesuai dengan das sollen.

Tukang cuci karpet. Tanggal 27 juni 2012, aku me-laundry karpet seukuran 2 x 1 m di Laundry Ayah Carpet. “nanti ku sms kalau karpetnya sudah selesai dicuci” ujar petugasnya saat kutanyakan kapan aku bisa mengambil karpetnya. Sebab kertas bon sudah kubolak-balik, kuterawang, serta ku angin-anginkan, tetap tak kutemukan tanggal pengambilan di kertas bon. Akhirnya nomor handphone kutuliskan besar-besar di kertas bon, kulingkari, dengan harapan perempuan melayu nan tak ramah itu ingat mengabariku. Dan kau tahu, sudah sepuluh hari aku gemas menanti sms-nya, bak sepasang remaja sedang kasmaran. Tapi janji tinggal janji kata Dian Pisesha dalam lagunya. Hari ke-sebelas, aku berinisiatif me-smsnya. “bu, karpetnya sudah selesai dan sudah bisa diambil”, begitu bunyi balasan sms di ponselku.

Tukang reparasi tas. Cukup pagi, kira-kira pukul 8.30 am, Sabtu tanggal 30 Juni 2012. Berkali pintu rumahnya kuketuk, dan terbuka pada ketukan ke 16. Kepala seorang pria suku jawa berambut sebahu, bermata merah lelah akibat bangun dari tidur panjang, menyembul dari balik pintu gubuk yang nyaris runtuh itu. “mau jahit tas. Pegangannya lepas. Cuma 4 centi meter aja bang”. Kuserahkan sebuah tas coklat tak ber-merk padanya. “kapan bisa saya ambil?”. Kulihat ia memegang dan meremas tas yang sudah tak perawan itu. Matanya menggerayangi tas coklatku lekat-lekat. Kemudian, “ambil senin saja”. Artinya aku harus datang lagi hari Senin tanggal 2 Juli 2012. Sesuai dengan janji yang telah disepakati, aku datang ke rumahnya. Kuketuk pintu dengan keras, dan terbuka pada ketukan ke 20. Lebih lama dari dua hari lalu. Kepalanya menjulur di balik pintu. “tas-nya belum selesai. Karena kulitnya keras. Patah jarumku dibuatnya. Jadi aku harus beli jarum lagi, sekalian beli benang yang lebih keras”. Sebuah kebohongan yang teramat jelas. Tas coklat ku terbuat dari sejenis plastik, sama sekali bukan berbahan kulit. Tentu saja kedatanganku ke rumahnya adalah untuk mengambil tas sesuai dengan tanggal kesepakatan, bukan untuk mendengar keluhan tentang jarum patah dan benang lebih keras. Kesal memang, tapi apa boleh buat. Aku harus menunggu lagi. ‘kalau ada jarum yang patah jangan disimpan di dalam peti’ mungkin puisi itu tepat untuknya.

Tukang kompor gas. Setelah tawar menawar yang cukup alot, akhirnya aku membeli kompor gas merk Rinai dan regulator di Toko Sewu Jaya. “malam ini kami cukup sibuk, tapi besok pagi anak buah saya akan ke sana memasang kompor gas-nya”, kata perempuan keturunan China pemilik toko elektronik itu. Kemudian aku pulang sambil menanti ditepatinya janji. “tak ada janji yang ditepati selain terbitnya matahari esok pagi”, kalimat itu kerap diulang-ulang ayah padaku. Ayahku, adalah lelaki sejati anti manusia ingkar janji. Dan aku percaya pada pesannya tanpa negosiasi.
Ternyata benar, pemilik toko menepati janjinya (saat itu pukul 9.30 pagi seandainya kami, aku dan dia berada di negara Britania Raya. Malangnya, ia berada di kecamatan Medan Johor, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.). Tepat pukul 3.30 pm (sore), karyawan Sewu Jaya berdiri di depan rumahku.

Tukang air galon. Jangan ditanya kalau bang Irul, nama tukang antar air galon di daerah kami. Semua orang pun sudah tahu rekornya. Hendak dibahas lagi pun rasanya suatu hal sia-sia. Singkat saja, anak muda etnis jawa ini kerap berjanji, kerap pula mengingkari. Mau berpindah ke lain hati, kami yang rugi. Sebab rasa air galonnya enak dan segar, tak payau, tak berbau.

Tukang hutang uang. Nama panjang Siti Aisyah, nama panggilan Mpok Isah, nama gaul Siti, suku jawa, janda tak kaya beranak satu, senang menggoda para lelaki, namun tak pernah berhasil. Kalau boleh kukatakan, di setiap kedai yang ia jumpai, pada setiap orang yang ia temui, pasti ia hutangi. Aku tak paham hobi berhutangnya ini disebut apa. Disorder, schizofrenia, atau apalah menurut diagnosis dokter, yang jelas setiap kali ia berhutang, saat itu juga ia mendadak amnesia, alias lupa yang disengaja.

Sampai pada akar masalah sebenarnya, pemilik rumah kontrakan. Perempuan paruh baya, beranak tiga, berkerudung lebar sampai ke dada, bergamis panjang menutupi kaki, aktif dalam salah satu organisasi Islam di Indonesia. Sebut saja namanya Bu Bariyah. Aku mengenalnya secara tak sengaja saat mencari rumah kontrakan. Di sini, di rumah kontrakannya, aku dan dua adikku tinggal. Sejak Kamis, tanggal 5 Juli 2012 pukul 8.30 pm (malam) mesin air merk Sanyo di rumak rusak. Entah apa sebabnya. Tapi malam itu saat aku pulang, aku mencium bau terbakar dari mesin air. Kupikir di bagian dynamo. Otomatis air tak jalan. Kuputuskan mengabari Bu Bariah via sms malam itu juga. “besok ya kakak cari tukang airnya”, demikian sms Bu Bariah.

Kali ini, berat rasanya memutuskan untuk percaya. Karena mengingat ia memakai kerudung besar, aku memaksa berprasangka baik bahwa ia memang pantas untuk kupercaya. “Dinna maaf ya tukang uang betulin mesin air belum dapat” bunyi sms Bu Bariah pada tanggal 6 Juli 2012, pukul 1.10 pm (siang). Sekarang sudah tanggal 10 July 2012, pukul 2.30 pm (menjelang sore), tak ada kabar berita tentang mesin air. Secercah harapan gembira pun tak terdengar. Lalu Bu Bariah menyarankan kami memakai air dari rumah kontrakannya, persis di sebelah rumah.

Sejak tanggal kerusakan itu, tak kuhitung entah berapa kali aku dan adikku mengangkat air dengan bekas kaleng cat Vinilex Nippon Paint 25 Kg. Lumayan berat juga, hingga jari tengah kakiku terluka dalam karena tersandung kaleng cat made in Japan itu. Kalau saja tak mengingat umurku 27 tahun, sudah kencing aku dalam celana saking sakitnya. Hari ini, hari ke-lima sejak mesin Sanyo tak berfungsi, dan sepanjang hari itu juga kami terus mengangkat air. Badan pegal, tangan kirikiku keseleo, dan mungkin otot wajahku putus satu per satu sebab aku selalu mengumpat dan menggerutu setiap kali mengangkat air, juga setiap kali mengingat janji demi janji yang kerap diingkari.

Kupikir-pikir, mereka telah menyelesaikan satu set kejahatan. Berjanji, mengingkari, berbohong, menipu, dan mengecewakan. Tapi cepat atau lambat kita akan diadili oleh kesalahan kita. Tuhan tak tidur bukan? GanjaranNya akan kejahatan tak memandang apakah ia Islam atau nasrani, bersorban atau preman, bergamis atau pengemis. Aku sungguh mempercayaiNya.

Dan sekarang, aku sangat membutuhkan selang air sepanjang 20 meter untuk menyalurkan air dari rumah sebelah ke rumahku. Tak kurang tak lebih. Dengan begitu aku tak lagi mengangkat air memakai kaleng cat Vinilex. Ya, pada dasarnya aku sadar betul begitu mudah mencari tukang mesin air di kota besar ini. Aku bisa saja memanggil salah satu dari mereka, kemudian menunggu ‘janji’ kedatangannya. Setelah mereka perbaiki, aku akan membayarnya, kemudian menunggu (lagi) ‘janji’ di-reimburse oleh Bu Bariah.

But, No! Selang air 20 meter, itu sudah cukup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s