satu ronde untuk sang bedebah

Jika pemilik rumah kontrakan adalah penguasa mutlak yang menentukan nasib seseorang apakah ia boleh tinggal atau tidak, maka renter adalah kaum tertindas yang mengemis kesempatan agar dibolehkan menyewa sepetak tanah/tempat tinggal. Pemilik rumah kontrakan ibarat simbol dalam suatu pemerintahan monarkhi, namun setiap gerakannya, hampir pasti menentukan suatu keputusan. Sedang renter, ibarat rakyat jelata yang harap-harap cemas menanti keputusan dari penguasa. Dan aku, adalah rakyat jelata itu, dengan wajah memelas dan di-per-ramah agar pemilik kontrakan mengizinkanku menyewa rumahnya. Jika tak lulus sensor, maka seperti biasa, aku mengumpatnya dari belakang.

Seperti pengalamanku selama ini, seenak jidatnya para pemilik rumah kontrakan dan pemilik kost-kost-an itu membuat peraturan. Tentu saja kerap tanpa kompromi. Aneh-aneh pula bunyinya. Dua kata ‘tidak boleh’ dan ‘dilarang’ menghiasi rumah mereka.

‘Dilarang memaku dinding. Manfaatkan saja paku yang ada’. Itu artinya, cukuplah kau menggunakan arloji di tangan, menempatkan poto-poto dalam album, bukan di bingkai. Lupakan tentang piagam penghargaan. Simpan saja dalam map.

‘Dilarang membayar tagihan listrik dan air melewati tanggal bayar’. Lingkari tanggal 20 di kalender. Sebab kau tidak punya alasan untuk pembelaan diri meski sedang berada di area tanggal tua. Berhutang adalah solusinya.

‘tidak boleh membawa tamu laki-laki, meskipun saudara sendiri’. Biasanya, pemilik rumah menyediakan bangku panjang untuk tamu. Jika tidak ada, silahkan menyelesaikan misimu sambil berdiri. Jika punya uang lebih, kau boleh ke warung kopi atau café ekonomis.

‘Jika terjadi kerusakan, harap diperbaiki’. Kau pasti sudah mengerti maksudnya. Andai di pertengahan tahun nanti bak mandi rumah sewamu bocor, usah repot-repot memanggil pemilik rumah. Mereka tak akan mau tahu, melainkan akan memberimu masalah baru, “maaf, rumah tak disewakan lagi”.

‘bayarlah tagihan abodemen telpon rumah, sekalipun tidak digunakan’. Di zaman serba gadget, di mana merk hand phone dari kelas ekonomi sampai kelas bisnis bertebaran di muka bumi, kau pasti tak memerlukan telpon rumah bukan? Namun peraturan rumah kontrakan memaksamu membayar abodemennya.

Belum sampai pada peraturan-peraturan menyebalkan tersebut, saat ketika bertemu muka dengan pemiliknya pun sudah membuatmu linu-linu. Seperti yang sering kutemui, wajah dipaksa serius namun menghasilkan kesan suram, dihiasi senyum segaris yang jauh dari kesan manis. Seolah-olah mereka hendak mengatakan ‘kau yang butuh kami. Kalaupun tak jadi menyewa, rumah kosong kami masih diminati banyak penyewa lain. Di tangan kami lah keputusan. Jika kau sukses memikat hati kami, dan kami menyukaimu, maka kau beruntung. Jika tidak, di luar sana masih banyak kontrakan busuk untukmu.’ Kau tahu, sebenarnya mereka mengincar uangmu. Tapi dengan sedikit jual mahal, mereka berhasil mengelabui orang miskin sepertimu.

Setelah melewati ranjau darat dan ranjau transparan, kau dinyatakan lulus ujian dan menjadi salah seorang renter. Namun itu sama saja dengan menyerahkan diri secara sadar untuk dipimpin teroris. Kemudian bersiaplah menghadapi harimu di bawah tekanan dan kekejaman mereka. Mungkin kau tak pernah merasakan hidup di bawah kepemimpinan Taliban di Afghanistan. Aku pun demikian. Tapi aku membaca sejarah bahwa kepemimpinan Taliban benar-benar mengerikan. Di era globalisasi, gadgetisasi, kerenisasi, styleisasi, dan fashionisasi, mereka menyuruhmu memakai cadar serta burqa bagi wanita. Selain itu, berbisik adalah jalan terbaik buatmu agar tak dicambuk. Untuk pria, mereka mewajibkanmu memanjangkan janggut sampai ke dada. Tak ada pilihan lain, kau harus tunduk di wilayah kekuasaan mereka. Begitulah kira-kira pesan tersirat yang disampaikan oleh pemilik kontrakan. Meski ada beberapa renter yang beruntung, itu hanya nol koma nol, nol, nol, nol persen dari 100 persennya.

Pengecualian dari hal di atas adalah ayahku. Beliau memiliki beberapa rumah kontrakan. Rumah kontrakannya rapi dan terawat. Tak pernah sedikitpun beliau mengecewakan renter apalagi mempersulit mereka. Bagi calon renter, beliau memang memberikan beberapa pertanyaan untuk mengetahui seperti apa pribadi calon renter tersebut. Ayahku seorang pembersih. Beliau tak bisa membiarkan sampah teronggok di sudut rumah, lantai berminyak, dan bunga kering. Itu sebab, calon renter tak akan diberi kesempatan untuk menyewa rumah jika ayahku menemukan bukti bahwa mereka penjorok. Seleksi tersebut rupanya tak menjamin rumah kontrakan beliau bersih. Malah ayahku seringkali dikecewakan para renter.
Kebaikan dan kepedulian ayahku tersebut, tak menjadi ‘karma’ bagi kami, anak-anaknya. Aku khususnya, kerap bermasalah dengan rumah kontrakan dan pemiliknya. Di halaman belakang blog ini telah aku tuliskan. Dan itu, membuatku sering mengalah berikut menahan marah karena pada saat itu aku masih tinggal di rumah kontrakan mereka. Hingga di suatu senja yang dingin, tatkala dua minggu berlalu setelah aku dan adik-adikku tak lagi menyewa di rumah kontrakan lama kami, datanglah telpon dari bedebah tua, pemilik rumah kontrakan lama kami.

Ia menuduh kami masih tinggal di rumahnya. Tuduhan tak berdasar tentu saja. Kuakui, meski aku sedikit nakal, tapi aku tak terbiasa mengangkangi hak orang. Bukan favorit ku pula melakukan hal-hal tak tahu malu seperti tinggal di rumah kontrakan di mana sewanya telah berakhir. Dan bedebah itu, telah membuatku marah! Dengan sangat sopan telah kujelaskan padanya bahwa aku dan adik-adikku sudah tidak tinggal di rumahnya sejak dua minggu lalu. Kami pindah pada tenggat waktu yang telah ditentukan. Namun ia tak percaya padaku. Katanya lagi, orang dekatnya mengabarkan bahwa aku masih tinggal di rumah sewanya. “kalau kau sudah pindah, kenapa kau masih me-laundry pakaian di sekitar situ?!!” ketusnya dari ujung telepon.

Tak sadarkah bedebah itu jika pernyataannya yang menjijikkan itu telah mengusik bulu tengkukku? Kenangan-kenangan yang sengaja kutanam dalam-dalam akhirnya menyeruak ke permukaan. Aku ingat saat menyewa rumahnya, aku sengaja menyuruh adikku menjadi orang batak, dengan harapan si bedebah itu menganggap kami saudara, dan ia tidak menaikkan sewanya. Rupa-rupanya usahaku tak mempan. Kupikir, marga masih barang antik di kalangan seluruh orang Batak, dengan begitu bisa berhasil mendekatkan kami. Kenyataannya, uang lebih berkuasa sodara-sodara.

Sejurus kemudian, aku melancarkan makian dan kata-kata tak senonoh namun sangat senonoh untuknya. Kemarahanku yang meledak-ledak itu membuat beberapa orang berhamburan keluar rumah. Mungkin saat itu mereka ingin memastikan apakah monster laut benar-benar ada. Ternyata mereka salah besar. Monster laut memang tak ada, tapi kupastikan mereka tak kan pernah melupakan auman singa betina pada senja yang dingin.

Tepon terputus. Aku tak tahu pada menit ke berapa ia menutup telponnya dan menghentikan komunikasi denganku. Yang jelas, saat aku memutuskan menaikkan level kemarahan seraya melihat mukanya (meski tak tampak) ke layar telpon genggam, ia sudah tak ada di sana. Meski demikian, aku benar-benar lega. Seperti dalam permainan Tinju, hanya dalam 1 ronde aku berhasil mengkanvaskannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s