Di suatu ketika, pada sebuah kediaman

Pindah rumah (lagi). Kalau dihitung dari masuk kuliah sampai sekarang ini, sudah enam kali aku pindah rumah. Alasan kepindahan tersebut rupa-rupa, banyak macamnya. Mulai dari habis kontrak, dipaksa pindah oleh pemilik rumah, sewa rumah yang terus naik tiap tahunnya, sampai dengan alasan bosan dengan suasana lingkungan rumah kontrakan. Dari sekian banyak alasan, yang paling tidak mengenakkan adalah ketika pemilik rumah memaksa kami (aku dan adikku) pindah. Ia bilang, tak lagi menyewakan rumah tersebut sebab nanti akan didiami oleh keponakannya. Namun kudengar selentingan kabar dari warga setempat, bahwa rumah tersebut hendak disewakan pada orang lain, bukan keponakannya. Tak tahu apa alasannya, toh ia punya hak mutlak untuk memperlakukan rumah sewanya, kepada siapa disewakan atau tak lagi disewakan. Sedang pihak penyewa, harus tahu diri untuk segera angkat kaki.

1 tahun 10 bulan lalu, kami menyewa rumah tersebut (biasanya aku menyebut rumah bangke) entah dari pihak ke berapa. Tanpa surat perjanjian sewa menyewa, tanpa kwitansi pembayaran, dan paling gawat, tanpa kami tahu siapa pemilik sebenarnya. Ketika itu kami hanya melanjutkan sisa kontrak dari penyewa sebelumnya. Sekali lagi, kami juga tak kenal betul penyewa ini. Tapi ia meminta uang sebesar Rp. 3500.000,- selama kami melanjutkan sewanya, yakni sepuluh bulan. Siapapun pasti paham, bahwa aqad/perjanjian sewa menyewa cacat alias tak memenuhi kaedah kontrak sewa menyewa pada umumnya. Tanpa banyak soalan meski kepala penuh hal mengherankan, rumah bangke kami sewa juga yang penting bisa dapat tempat tinggal sebab sisa kontrak di rumah lama hanya tinggal sehari. Resiko? Sudah pasti. Oleh karena kami berempat sangat keras kepala ditambah lagi keadaan genting, resiko kami letakkan di kotak pandora. Suatu saat, kami yakin bisa menghadapinya. Toh kami sudah akrab dengan resiko dan kekhawatiran tingkat gaban, yang kadang tak menjadi kenyataan. Andaipun nanti terjadi, ces’s la vie. Itulah hidup. Nikmati dan yakini bahwa semua akan baik-baik saja. Sebab logikanya, tak ada resiko tanpa solusi , sepertimana tak ada racun tanpa penawar, dan tak ada penyakit tanpa obat. Perkaranya hanya waktu.

Se-simple itu? Sebenarnya tidak. Kami, khususnya aku, terkadang bisa panik terhadap beberapa hal di mana orang lain melihatnya wajar saja. Aku bisa panik dengan kebisingan, teriakan, kegaduhan, bunyi lonceng yang begitu keras, ruangan tertutup, berpidato di depan orang ramai, jerawat di wajah, perut membuncit, juga ketika melihat darah. Saat kepanikan menyerang, aku menutup mata dan menarik napas perlahan. Dengan ritual seperti itu, kepanikanku surut hingga menit berikutnya aku berhasil menghadapinya. Hal serupa terjadi saat rumah kontrakan kami tak lagi disewakan oleh pemiliknya.

Rupa rupanya, baru kami sadari bahwa rumah bernomor 22 tersebut adalah rumah dengan waktu terlama kami huni, meski tak ada sesuatu hal istimewa baginya. Rumah bercat kuning gading ber-atap seng, berteras setengah meter tak berpagar, dengan model ruangan tusuk sate. Andaikan orang tionghua melihat hal ini, sudah pasti mereka berang sebab menurut ilmu pernujuman yang mereka percayai, rumah ini tanpa fengshui.?

Tapi janganlah lekas-lekas gusar. Sebab ilmu pernujuman bebas-bebas saja bagi orang jika hendak mempercayainya. Alias boleh percaya boleh tidak. Namun hakekatnya, rumah ini memang tak dirawat oleh pemiliknya. Cat rumah sudah pudar sebab matahari, engsel pintu saban hari merengek jika ditutup maupun dibuka, belum lagi bak mandi bocor, dan diperparah dengan keadaan air bor yang kuning serta bau karat. Tambah malanglah nasib rumah tersebut.

Selain itu, pintu kamar tidur dan pintu kamar mandi bersisian. Di depan kedua pintu pula terdapat dapur kecil. Sebagai seorang pembelajar dan penikmat seni, aku betul-betul merasa sangat janggal dengan design rumah tersebut. Benar-benar tak ada estetika. Mungkin ia dibangun asal-asalan saja, tak memakai jasa arsitek. Tapi sejak kapan rakyat kecil bikin rumah pakai arsitek? Menurut dugaanku, si pemilik rumah hanya ingin uang saja tanpa memikirkan kenyamanan penyewa. Ini hanya dugaan, usahlah terlalu dipikirkan.

Tragis memang. Namun itulah kenyataan hidup di kota besar. Kebalikannya, ayahku yang juga juragan rumah kontrakan di kampung, tak pernah membiarkan rumahnya seperti sarang hantu apabila ada orang hendak menyewa. Pastilah dibersihkannya setiap ruang, men-cat dinding, menyapu halaman, juga mengelap nako jendela hingga mengkilap. Tak dibiarkannya penyewa mengeluh. Bahkan penyewa yang kerap tak beradat.

Sebenarnya, bukan keinginan kami untuk terus berpindah-pindah layaknya penduduk nomaden. Akan tetapi, kami belum mempunyai rumah permanen untuk ditinggali. Alias uang kami masih kurang untuk membeli rumah. Kurang dua ratus lima puluh juta lagi. Itu sebabnya kami kerap berimigrasi dari satu kecamatan ke kecamatan lain, tentunya masih di kota Medan. Dengan demikian, sampailah kami di rumah kontrakan berikutnya. Rumah kecil layak huni, bercat putih hingga ke pintu-pintunya. Persis klinik kecil di ujung jalan kelurahan.

ini bagian kamar

dan ini ruangan kerja/ruangan tv

“sebenarnya rumah ini mau saya jual. Karena kalian ingin menyewa, boleh saja. Daripada kosong. Tapi jika terjual, harus siap-siap pindah ya” ujar pemilik rumah pada tanggal 8 Juni lalu, setelah aku memberikan uang sewa ruman. Tapi yang jelas, kami musti siap-siap pindah lagi, entah kapan, mungkin hingga rumah ini sudah sah dibeli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s