si Ungu punya pemilik baru

Tadi pagi, tak sengaja saya melihat jam tangan ungu dipakai oleh adik kecil saya, Arra. Jam tangan yang saya sukai dan hanya saya gunakan pada acara-acara penting. Jam tangan tersebut saya beli di Jakarta. Harganya cukup ekonomis daripada jam tangan lainnya yang harganya lebih mahal seperti Breitling, Seiko, Citizen, Rado hingga Westar.
Namun, si ungu tadi memiliki nilai sejarah ‘lebih’ dari jam tangan lainnya. Warnanya ungu metalik, bentuknya bulat simpel dan ke-12 angka di dalamnya tertulis utuh dan besar. Di berbagai kesempatan mulai dari tidak formal hingga agak formal, si Ungu lah yang menemani detik-detik yang terjadi dalam kehidupan saya. Sedang teman-temannya, saya simpan dalam kotak.

Sebetulnya, saya lebih nyaman menggunakan si Ungu. Mengenakannya di tangan kecil ini, tak pernah membuat saya was-was saat kemanapun pergi. Tak takut dibuntuti perampok, tak khawatir jika ia terkena sinar matahari dan saya juga tak pernah malu mengenakannya di event-event keren dan bergengsi. (Pssstt…, si Ungu ini ‘tak ber-merk’). Dari situ saya membuat kesimpulan bahwa, materi tak menjamin kebahagiaan hakiki.

So, apa pasal?

Si Ungu pindah lokasi. Semestinya ia berbaring manis dalam kotak putih transparan, tiba-tiba ia melingkar di tangan mungil Arra. Sewaktu melihatnya disitu, hati saya mencelos sampai ke perut. Mendadak kaki saya lemas, berkeringat dingin, dan mata pun panas. Rasanya seperti salah minum obat dimana ketika kau sakit gigi, tapi kau malah meminum obat pencahar.

Sebenarnya saat itu saya hendak menginterogasi Arra. Tapi segera saya urungkan niat tadi. Alangkah memalukan sekali sebab Arra tak tahu menahu perkara si Ungu. Adik kecilku itu hanya memakai saja, sisanya, ayah yang membuat semuanya jadi kacau.

Rupanya ayah memaksa si Ungu keluar dari tempat rehatnya. Diam-diam, tanpa sepengetahuan saya. Tanpa bicara, tanpa permisi, tanpa bertanya. Jadilah si Ungu berada di tangan Arra. Sungguh, saya kecewa pada ayah. Tak ada kata yang bisa saya tulis untuk mewakilkan rasa kesal dan kecewa. Maksud saya, bukan hendak menjadi Malin Kundang. Hanya saja, begitu banyak jam tangan yang tersimpan dalam kotak transparan itu, mengapa ayah harus mengambil si Ungu…

Tadinya ingin saya pinta, tapi, secepatnya saya sadar dan mengendalikan gejolak emosi. Karena apabila si Ungu saya ambil kembali, maka perang dunia pasti akan terjadi. Akibatnya, saya dan ayah akan bersitegang, saya dan ibuk (ibu tiri) akan semakin ribut, dan semua keluarga akan bersinggungan.

Akhirnya…, setelah mengingat, menimbang dan memutuskan…
Mungkin, persahabatan saya dengan si Ungu hanya sampai segitu dan disitu. Semoga ia baik-baik saja di tangan pemilik baru, di tangan kecil Arra. Lagipula berbagi rezeki sangat bagus bagi nutrisi jiwa. Seperti kata ulama, selama barang yang telah diberikan (dengan ikhlas) masih digunakan, maka, selama itu pula pahala akan tetap Allah berikan.

Ya, ditambah lagi belakangan ini saya selalu berusaha untuk berpikir praktis, dengan tidak mempersoalkan suatu masalah, akan tetapi lebih kepada merenungi masalah kemudian mencari solusinya. Saya tak ingin memperumit pikiran, tak ingin pula mempersempit sekeping hati.
Saya percaya, suatu hari nanti, saya akan mendapatkan jam tangan ungu yang lain lagi. Yang lebih keren, lebih bagus, lebih okey dan lebih berkah. Whatever, saya sayang Ayah, saya sayang Arra, dan saya sayang pada keutuhan keluarga saya.

Well, saya baik kan? Huhh…, tidak juga. Saya bisa melakukan tindakan ‘mulia’ (ikhlas) itu setelah menangis kecil, berusaha meredam-redam amarah, dan berkali-kali memikirkan alur dan akibatnya.

Terimakasih Ungu, telah setia menemani hari-hari saya, meski dalam waktu yang boleh dibilang amat singkat, namun worth it sangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s